
Dalam rangka menyambut 17 Agustus 2016, sineas Tanah Air berlomba-lomba memunculkan film-film terbaik. Salah satu rumah produksi yang turut meramaikan bioskop Tanah Air di bulan Agustus ini adalah Nadinne Batam Production. Bersama Studiopro 1226, rumah produksi ini menghadirkan film Mimpi Anak Pulau, sebuah film yang diadaptasi dari novel Abidah El Khalieqy yang berjudul sama.
Film garapan Kiki Nursiwan ini mengisahkan tentang perjuangan Gani Lasa, putra kebanggaan di Kepulauan Riau, yang membuktikan bahwa kesuksesan adalah milik siapa saja yang bertekad mencapainya. Gani kecil (Jani) dikisahkan sebagai anak yang cerdas. Tinggal di kampung pesisir di Nongsa tak membuat Jani berkecil hati. Setelah lulus SD, Jani bertekad melanjutkan sekolah di sekolah menengah yang tak ada di pulaunya. Meski harus menyebrang ke Tanjung Pinang dengan hanya bermodalkan sampan, Jani tetap fokus pada tujuannya.
Sosok Gani kecil (Jani) inilah yang ditonjolkan dalam film ini. Mimpi Anak Pulau adalah tentang mimpi kecil Jani untuk terus melanjutkan sekolah sampai tingkat tinggi. Biarpun tak tahu caranya, dengan polos Jani mengatakan kepada gurunya bahwa ia ingin sekolah. Jani mengajarkan kepada kita bahwa selama ada kemauan, pasti ada jalan. Jani diperankan oleh Daffa Permana, aktor cilik asli Batam. Sosok penting dalam hidup Jani adalah ayah dan ibunya. Ray Sahetapi memerankan ayah Jani, Lasa, seorang ayah yang memayungi anak-anaknya. Ray Sahetapy mampu menghidupkan film yang berjalan sangat lambat di hampir satu jam pertama. Yang mengejutkan adalah penampilan Ananda Faturrahman, yang lebih dikenal dengan Ananda Lontoh, yang berhasil mengaduk emosi di scene penting.

Tak ada yang istimewa dari sinematografinya. Gambarnya cenderung agak kehijauan dan gelap. Hal ini mungkin mengingat kisah Jani ini berlangsung puluhan tahun lalu sehingga dihadirkanlah kesan “old” melalui gambarnya. Yang menarik justru adalah kritik terselubung yang ada dalam film ini. Ada sepenggal kritik tentang bagaimana masyarakat di pesisir Pantai Nongsa saat itu masih begitu memandang sempit pendidikan dan malah mencemooh Jani yang bertekad melanjutkan sekolah. Ini hanyalah gambaran sebagian kecil masyarakat Indonesia yang masih menganggap mimpi adalah milik yang mampu, padahal mimpi adalah milik siapa saja. Siapa saja bebas bermimpi dan mewujudkannya dengan cara masing-masing.
Sayangnya, yang disajikan dalam film ini sebatas perjuangan Jani semasa di sekolah dasar, sampai akhirnya diterima di sekolah menengah. Ini membuat penonton bertanya-tanya, lantas apa yang membuat Jani atau Gani Lasa sukses, sementara yang disajikan hanya sepenggal kisah masa kecilnya. Untuk yang tak mengenal sosok Gani Lasa, film ini termasuk tanggung dalam mengangkat kisah hidup seorang Gani Lasa.
Terlepas dari penggarapan yang masih minim dan banyak hal yang justru kurang digali, keinginan untuk mengangkat kisah perjuangan seorang “anak pulau” yang kini telah sukses patut diapresiasi. Indonesia yang luas memiliki insan muda yang cerdas dan kreatif. Dukungan dari berbagai pihaklah yang bisa membawa insan muda berbakat ini maju ke arah yang lebih baik. Untuk merayakan Hari Kemerdekaan RI, film ini bisa jadi salah satu film pilihan yang bisa menginspirasi siapa saja untuk melihat Indonesia dengan cara yang berbeda.