The Counselor: Usaha Keras McCarthy Mengulang Kejayaan

by Joedi Dance

The Counselor: Usaha Keras McCarthy Mengulang Kejayaan
EDITOR'S RATING    

Di atas kertas, kolaborasi bintang-bintang A-list Hollywood ini sangat menjanjikan sebagai sebuah film dengan kualitas tinggi. Namun tampaknya hal tersebut tidak cukup untuk memberikan kesan pada editor kami. Apa yang terjadi? Baca ulasan kami disini!

 

Di tahun 2007, Coen Brothers memvisualisasikan novel karangan Cormac McCarthy yaitu No Country For Old Men dan berhasil berjaya dalam berbagai gelaran awards hingga ke Oscar. Filmnya sendiri bercita rasa unik dengan genre crime thriller dan membuat Javier Bardem sangat dikenang sebagai Anton Chigurh, dengan model rambut menggelikan sekaligus mesin pembunuh  berbahaya..

Pria asal Rhode Island ini pun nampaknya ingin mengulangi kesuksesan itu dengan kembali menulis naskah film dengan tema yang tidak jauh berbeda dalam The Counselor. Kali ini, naskah McCarthy divisualisasikan oleh Ridley Scott yang sudah sangat dikenal piawai dalam menggarap genre science fiction seperti Alien (1979), Blade Runner (1982), hingga yang terbaru Prometheus (2012). Membawa kembali Javier Bardem dan Michael Fassbender yang sudah pernah bekerja sama dengan mereka sebelumnya, ditambah dengan bintang lainnya seperti Brad Pitt, Penelope Cruz, dan Cameron Diaz, di atas kertas film ini seharusnya merupakan formula tepat untuk sebuah film yang cemerlang.

 

 

The Counselor (Fassbender) adalah seorang pengacara korup yang sedang di mabuk cinta dengan kekasihnya Laura (Cruz). Pria tampan ini terlibat dalam sebuah bisnis kotor narkoba dengan seorang mafia eksentrik, Reiner (Bardem) dibantu dengan rekannya Westray (Pitt). Dalam sebuah kejadian, pengirim mereka mati dibunuh dan seluruh jaringan mafia marah dan menganggap bahwa Counselor, Reiner, dan Westray adalah orang yang bertanggung jawab atas semua ini, dan nyawa mereka pun dalam bahaya. Sementara kekasih Reiner, Malkina (Diaz) tampaknya memiliki rencananya sendiri. Bagaimanakah nasib Counselor? Siapakah sebenarnya yang bertanggung jawab?

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan all star casts, selama dengan jajaran aktor yang terlihat serba’mahal’ ini memang terbukti dengan performa. Sayangnya, naskah dari McCarthy sendiri jatuhnya bagaikan misi bunuh diri dan mubadzir. Apakah jelek? Tidak seburuk atau sejelek itu kok. Hanya saja, McCarthy terlihat berusaha keras membawa era No Country For Old Man, versi lebih berantakan dan sekaligus dibuat lebih mudah dimengerti namun memperumit banyak hal yang bisa jadi bagi penonton kebanyakan malah jadi kebingungan.

The Counselor ibaratnya adalah sebuah film dengan potongan-potongan cerita yang (terlihat) terpisah. Kelima aktor utama dibuat semencolok mungkin dengan potongan-potongan adegan yang banyak mengingatkan kita dengan NCFOM. Sayangnya, puzzle yang dirancang McCarthy ini berantakan. Penonton digiring untuk bingung dan bertanya-tanya apa yang terjadi sebenarnya, dengan Fassbender yang lebih terlihat seperti anak kucing yang tersesat di sepanjang durasi film.

Penonton ditempatkan di dalam dunia yang sama dengan Counselor. Seolah kita adalah sekelompok kelinci-kelinci liar yang berlarian bebas di padang rumput, dan Counselor melihat satu persatu kelinci diterkam dan dimakan oleh cheetah-cheetah yang anggun dan menggiring mereka ke dalam usaha pelarian yang sia-sia. Metafora yang disampaikan cukup oke, tapi apakah Fassbender berhasil menampilkan kesan itu? Ya, namun sayangnya disini ia seolah kehilangan sentuhan ajaibnya. Fassbender tidak terlihat istimewa dan cenderung biasa saja (walau saya, sebagai Fansbender, tentu senang dengan banyaknya porsi kemunculannya di layar). Chemistrynya dengan Cruz juga terkesan biasa saja. Baru di akhir film,akting Fassbender yang biasanya kita kenal muncul. Sayang sekali.

 

Di sisi yang lain, walau hanya sebentar, Pitt dan Bardem juga berusaha keras memberikan akting yang prima, dalam balutan kebingungan yang dilemparkan oleh McCarthy kepada penonton. Namun semua akting dari pemeran-pemeran bintang tadi sepenuhnya tertutupi oleh performa Cameron Diaz. Sebagai artis yang lebih sering dikenal bermain film komedi dengan ekspresi wajah konyol yang kerap menghiasi wajahnya, penampilan Diaz di The Counselor adalah kejutan yang sangat besar. Licik, eksentrik, dan memiliki tujuannya sendiri, Diaz sebagai Malkina sukses membius banyak orang. Saya jadi teringat akting Kristin Scott Thomas di Only God Forgives milik Refn, like a queen evil diva.

Namun poin paling favorit saya di film ini adalah porsi kekerasan yang cukup intens dan detail. Kepala yang ditebas dan bergulingan dengan darah muncrat kemana-mana bisa jadi terasa begitu dominan bagi penonton, sehingga harus memalingkan wajah dari layar. Namun porsi kekerasan ini malah memberikan kesegaran sekaligus meningkatkan unsur thrill dari filmnya.

Secara keseluruhan, The Counselor berakhir sebagai parade bintang-bintang kelas atas yang memamerkan pesona mereka, namun sekaligus membuat penonton terbuai ke dalam labirin yang membingungkan. Dan ketika credit title selesai, penonton seolah berpikir, "What the hell was that?" dan kemudian lupa dengan filmnya sendiri. Mungkin kesalahan terbesar ada pada diri saya sendiri, yang menaruh ekspektasi tinggi terhadap film ini, seperti kebanyakan kritikus dan reviewer yang sudah menonton film ini. Karena usaha McCarthy untuk mengulang sukses No Country For Old Men jelas-jelas tidak berhasil.

Artikel Terkait