Satu lagi karya unik dari Spike Jonze. Sebuah kisah cinta tidak lazim yang membawa Jonze memenangkan Oscar pertamanya. Baca ulasan editor kami.
Sutradara : Spike Jonze
Penulis Naskah : Spike Jonze
Pemeran : Joaquin Phoenix, Scarlett Johansson, Amy Adams, Rooney Mara, Olivia Wilde, Chris Pratt
Quirky. Itulah yang bisa diharapkan dari Spike Jonze setiap ia membuat film. Feature film yang ditangani oleh sutradara bernama asli Adam Spiegel ini memang belum banyak. Namun setiap kali menelurkan sebuah karya, ia akan menghasilkan sebuah film yang unik, terkadang surreal, dan menyentil. Sebut saja kolaborasinya bersama Charlie Kaufman melalui Being John Malkovich dan Adaptation, dan juga usahanya dalam mengadaptasi cerita pendek dari penulis Maurice Sendak dalam Where The Wild Things Are. Semua karya tersebut memang tidak langsung datang dari tangannya (baca: naskah atau materi awalnya bukan ditulis olehnya). Namun tanpa sutradara yang piawai dan memiliki visi, kesemuanya akan menjadi karya yang tanpa tujuan. Melihat karya-karyanya, mungkin kalian tidak akan percaya bahwa ia adalah mantan skateboarder, sutradara video klip Sabotage (Beastie Boys) dan juga penulis naskah untuk serial Jackass di MTV (dan juga film-filmnya); terlebih setelah kalian menyaksikan film terbarunya, Her.
Her merupakan sebuah kisah cinta yang unik (jika tidak bisa dibilang aneh). Bersetting di Los Angeles masa depan, Her berkisah mengenai Theodore Twombly, seorang penulis kartu dan surat ucapan pada sebuah perusahaan penerbitan yang tertutup dan kesepian. Theodore baru saja bercerai dengan istri yang juga teman masa kecilnya Catherine (Rooney Mara), dimana sebetulnya pernikahan mereka pernah mengalami masa-masa yang indah. Kesepian, Theodore mengisi waktunya dengan phone sex (yang sangat aneh), melamun, atau bermain video game dengan tokoh alien kasar bermulut kotor. Namun hidupnya berubah saat ia membeli sebuah sistem operasi yang mampu berinteraksi dengannya. Sistem operasi tersebut menamakan dirinya Samantha (Scarlett Johansson dalam salah satu penampilan terbaiknya).
Samantha menjadi pendamping Theodore yang setia. Mengingatkan akan jadwal-jadwalnya, mengajaknya berbicara, bahkan meyakinkan Theodore untuk pergi berkencan dengan wanita cantik (Olivia Wilde) yang sudah lama dicoba dijodohkan oleh teman baik Theodore, Amy (Amy Adams). Namun kencan ini akhirnya gagal saat Theodore ditanya mengenai komitmen dan ragu untuk menjawabnya. Di sisi lain, lambat laun, muncul kenyamanan dalam diri Theodore akan Samantha, dan tumbuhlah rasa cinta antara keduanya. Dan layaknya hubungan sesungguhnya, hubungan mereka pun terbentur pada banyak masalah. Sesuatu yang sesungguhnya tidak ingin Theodore hadapi.
Tagline Her, A Spike Jonze Love Story, memang sangat tepat disandangnya. Seperti telah disebut di atas, nama Spike Jonze adalah idiom kata quirky atau unik. Dan itulah yang disajikan oleh Her. Sebuah kisah cinta yang unik, segar, penuh dialog menggigit dan menyentil. Her merupakan sentilan mengenai keterhubungan antara satu manusia dengan manusia lainnya yang semakin terkikis, sehingga masing-masing persona semakin individualis dan menutup diri. Di sisi lain, Her merupakan wujud kenaifan manusia yang menginginkan sebuah hubungan yang langgeng dan instan tanpa adanya hambatan apapun.
Secara keseluruhan, Her menyindir perilaku manusia yang semakin individualis, dan bagaimana komitmen nyata menjadi suatu momok yang sangat menakutkan. Akan tetapi, walau dipenuhi sindiran, Her terasa tidak menggurui. Jonze dengan piawai menyajikan kisah yang terasa hangat namun di satu sisi mampu mengetuk pintu ruang pikir (dan hati) kita untuk melihat kembali diri kita, komitmen yang kita buat, dan hubungan macam apa yang sedang kita jalani. Kesemua ini terasa ironis, karena Jonze menyajikan masa depan yang terlihat utopis, sebuah masa depan yang menjanjikan, namun tampaknya bukan sebuah jaminan bagi para karakternya.
Jonze tampaknya memang memiliki visi yang jelas akan filmnya ini. Mulai dari naskah, setting, musik, hingga visualisasi; kesemuanya terasa kohesif dan saling memperkuat elemen-elemen lainnya. Demi menghadirkan Los Angeles masa depan yang sejuk, Jonze melakukan pengambilan gambar di Shanghai, China. Bagi yang memahami kota Shanghai, tentunya akan mengenali beberapa gedung ikonis Shanghai tampil di film ini. Hal ini masih diperkuat dengan sinematografi oleh Hoyte van Hoytema (Tinker Tailor Soldier Spy, Interstellar) yang mampu menghadirkan mood filmnya dengan tepat. Momen uplifting, kesedihan, rasa sepi; semua terhadirkan dengan baik melalui mata lensanya. Lalu ada musik dari Arcade Fire yang mengiringi film ini, yang menangkap esensi keunikan yang ingin Jonze sampaikan; dan tentunya Moon Song dari Karen O.
Di lini akting, jajaran castnya bermain sangat solid. Joaquin Phoenix menghadirkan Theodore yang naif, intovert, dan kesepian dengan sangat meyakinkan. Para supporting cast-nya pun dengan mudah menyampaikan visi Jonze melalui akting mereka. Amy Adams yang tampak seperti versi wanita dari Theodore (pernahkah Adams tampil mengecewakan?), Olivia Wilde yang tampil hanya sesaat namun mampu membuat patah hati, dan juga Rooney Mara yang sangat hidup dan menampilkan salah satu kalimat paling kuat di film ini.
Namun yang terpenting, Her tidak akan menjadi sebuah tontonan yang memikat tanpa adanya chemistry yang luar biasa dari Joaquin Phoenix dan Scarlett Johansson. Kredit paling besar tentu harus diberikan kepada Johansson yang mampu menghadirkan nyawa dan emosi Samantha hanya melalui suaranya. Melalui suaranya, Samantha menjadi sebuah panggilan jarak jauh yang menginginkan seorang kekasih namun tidak mampu untuk diraih. Kitapun akan menambah apresiasi kita akan Chemistry-nya dengan Phoenix jika kita tahu kisah di balik suara Samantha. Suara Samantha pertama kali disuarakan oleh Samantha Morton, dimana Morton hadir dalam semua proses pengambilan gambar. Namun saat proses pasca produksi berjalan, Jonze merasa ada yang kurang dari penampilan Morton, dan pada akhirnya menggantikannya dengan Johansson. Johansson sendiri merekam suaranya secara jarak jauh, tanpa kehadiran Phoenix di hadapannya. Namun tampaknya ini bukan menjadi penghalang bagi Johansson untuk memberikan salah satu penampilan terbaik dalam karirnya.
Kesemua elemen di atas saling mengikat satu sama lainnya untuk memperkuat naskah yang Jonze tulis. Sebuah kisah cinta yang terasa unik, segar, menyentuh, dan membuat kita bertanya: Sudah siapkah kita menghadapi kenyataan dalam sebuah hubungan? Bahwa cinta adalah sesuatu yang tidak sempurna, bahkan saat kita menjalin dengan sosok yang tanpa cela seperti Samantha si sistem operasi. Bahwa sebuah hubungan adalah tantangan yang nyata, bukan sesuatu yang mulus tanpa halangan. Catherine mengucapkan satu hal kepada Theodore, satu hal yang bisa dikatakan merupakan jantung dari film ini: You're always wanted to have a wife without the challenges of actually dealing with anything real. Dan, seperti yang kita tahu namun seringkali enggan akui, tantangan itu merupakan kenyataan dalam hidup yang tidak bisa kita hindari.




