300: Rise of an Empire

by dr. kawe

300: Rise of an Empire
EDITOR'S RATING    

Sanggupkah sekuel ini mengalahkan kemachoan cambang dan perut Gerard Butler?

This is Sparta!!!

Masih terngiang seruan macho Gerard Butler ketika berusaha mengalahkan Xerxes dalam film pertama 300. Seruan yang akhirnya menjadi parodi di berbagai acara komedi ataupun masuk ke dalam berbagai daftar memorable quote ini merupakan satu dari beberapa ciri khas 300. Lalu, bagaimana dengan 300: Rise of an Empire yang tidak menampilkan kembali Butler ini?

Dibuka dengan peperangan yang memulai segalanya, tersebutlah seorang pahlawan Athena bernama Themistocles. Dengan kepandaiannya, ia berhasil memukul mundur tentara Persia saat Battle of Marathon, bahkan membunuh Raja Darius I. Dari sini, cerita beralih ke sosok Xerxes, anak Darius I, yang murka dengan kematian sang ayah. Guna membalaskan dendamnya serta dikarenakan terhasut oleh ucapan komandan laut Persia, Artemisia, Xerxes pun berkelana hingga mencapai sebuah gua di mana ia melepas seluruh kemanusiaannya dan menjadi Raja Dewa guna mengalahkan Athena. Artemisia yang juga dendam karena kematian Raja Darius I bermaksud menghancurkan Athena melalui perang di lautan. Namun, Themistocles sudah menyiapkan strategi untuk menghadapi ribuan tentara Persia. 

Berbeda dengan 300 yang fokus pertempurannya adalah daratan, kini 300: Rise of an Empire menyajikan peperangan di laut. Masih dengan gambar-gambar ala lukisan tangan, warna-warna yang ditonjolkan kini tidak lagi merah dan cokelat, melainkan kelabu, hitam, dan merah gelap. Pertempurannya sendiri bisa dikatakan dahsyat dengan adu strategi yang bisa jadi akan membuat para penikmat kisah-kisah bajak laut kagum. Sayangnya, banyak adegan slow-motion yang dianggap sebagian besar para penggemar 300 cukup mengganggu, meskipun mungkin sebagian sisanya tidak terlalu keberatan. 

Kesadisannya serupa dengan film pertama. Namun, sosok Sulivan Stapleton sendiri tidak dapat menyamai kharisma Butler. Meskipun beberapa kalimatnya mungkin cukup menginspirasi, tapi tidak ada yang benar-benar menempel di benak layaknya 'this is Sparta!'. Pun juga dengan body para pemain yang dikisahkan bukanlah pejuang, melainkan petani dan penyair, yang mungkin mengalami sedikit penurunan dari kotak-kotaknya bagian perut para pejuang Sparta, kini hanya sedikit yang terlihat ber-body six packs

Dari segi akting sendiri, memang karakter Artemisia yang diperankan Eva Green terlihat menonjol. Dengan sorot mata tajam dan suara serak, ia menjelma menjadi komandan angkatan laut Persia yang kejam. Namun, bila dibandingkan dengan Lena Headey yang terasa dingin dan jauh terlihat berotot, Green agaknya kalah. Lagipula, Headey sudah tertempa melalui peran-peran kuat, seperti Sarah Connor, Cersei Lannister, hingga Ma-Ma dalam Dredd

Sebagai sebuah sekuel, 300: Rise of an Empire bisa diacungi jempol. Namun, bila dibandingkan dengan predesornya memang sedikit mengalami penurunan. Akankah sekuel selanjutnya nanti (bila jadi dibuat) memiliki tensi semenggedor 300?

 

Artikel Terkait