The Raid 2: Lebih Berdarah? Iya; Lebih Berisi? Hmm..

by dr. kawe

The Raid 2: Lebih Berdarah? Iya; Lebih Berisi? Hmm..
EDITOR'S RATING    

Sambil memberanikan diri menonton di tengah ceceran darah, mimin tuliskan review ini buat kalian

Film sekuel pastinya selalu diharapkan lebih dari pendahulunya, baik dari segi sinematografi, akting, naskah, tensi cerita, hingga aksi bila yang dibuat lanjutannya adalah film laga. Hal ini juga berlaku untuk The Raid. Dirilis pada tahun 2011, film yang hanya mengambil setting sebuah gedung apartemen kumuh ini sukses memukau banyak pihak, baik lokal maupun internasional, sehingga sang sutradara, Gareth Evans (Merantau) berhasil mendunia dan disebut-sebut memberikan nafas baru untuk genre aksi. Sayang, meski dielu-elukan dan dihujani pujian, namun film ini tetap memiliki kekurangan dari segi naskah dan akting. Lalu, apakah The Raid 2: Berandal berhasil memperbaiki kekurangan tersebut?

Kisahnya mengambil waktu beberapa jam setelah film pertama berakhir. Rama (Iko Uwais) langsung mendapat tugas berat, menemukan polisi korup yang bekerja sama dengan keluarga mafia Bangun (Tio Pakusadewo). Tugasnya ini terbelah dua dengan keinginannya membalas dendam terhadap Bejo (Alex Abbad) yang diketahui telah membunuh sang kakak. Untuk itu, Rama disusupkan ke penjara agar bertemu dengan Uco (Arifin Putra) dan mendapatkan kepercayaannya. Namun, di balik misi tersebut, ada pihak-pihak yang ingin merebut kekuasaan dan tidak peduli bila harus menumpahkan darah sekalipun.

Perubahan yang terasa kentara sendiri tentulah dari segi plot yang bukan lagi mengetengahkan perjuangan hidup dan mati, kini sudah lebih diperdalam dengan kisah-kisah ala mafia melalui dua klan yang berkuasa di Jakarta, yaitu Bangun dan Goto. Selain itu, jawaban dari beberapa pertanyaan di The Raid juga ditampilkan di sini, seperti siapa itu Reza yang mengundang tanda tanya di akhir film pertama meski sosok ini hanya setor muka di awal dan akhir film serta apa yang terjadi dengan kakak Rama.

Munculnya beberapa aktor senior, seperti Tio Pakusadewo, Roy Marten, dan Pong Hardjatmo menambah bobot akting dalam Berandal yang juga cukup berhasil diimbangi oleh aktor muda, semacam Arifin Putra dan Alex Abbad. Sayang, kelemahan justru diperlihatkan oleh Iko Uwais yang malah terlihat standar. Satu kelebihan yang patut diacungi jempol adalah minimnya dialog Hammer Girl (Julie Estelle) dan Baseball Bat Man (Very Tri Yulisman) membuat dua manusia pembunuh ini terlihat cukup mengancam dan gahar.

Adegan aksinya yang menjadi jualan utama tentu saja adalah hal yang paling berkembang bila dibandingkan The Raid. Berbagai pertarungan dengan berbagai macam penggunaan senjata tentunya menjadi sajian yang nikmat di sini. Mulai dari pertarungan berlumpur di lapangan penjara, aksi Hammer Girl dan Baseball Bat Man, pertarungan Prakoso, hingga adegaan puncak serbuan ala Rambo Rama ke markas Bejo dan berhadapan dengan The Assassin (Cecep Arif Rahman) Semua itu sanggup membuat kita menahan napas karena Evans berhasil menyuguhkan aksi yang mendetail tanpa ada jeda untuk bernapas. Bisa jadi setelah aksi selesai, Jelata akan bertepuk tangan karena intensnya adegan.

Namun, Berandal sendiri masih meninggalkan lubang-lubang yang tidak diisi Gareth sehingga menimbulkan tanda tanya. Di antaranya apa alasan pemilihan kembali Yayan Ruhian sebagai Prakoso karena pada film pertamanya dikisahkan Mad Dog sudah mati? Tidak diberikan latar yang jelas apakah mereka kembar atau bersaudara sehingga memiliki kemiripan wajah. Begitu juga dengan beberapa adegan yang perlu penjelasan lebih lanjut, seperti salju, jalanan kosong di tengah kota Jakarta, dan lain-lain. Namun, semua pertanyaan ini mungkin bisa dipatahkan dengan jawaban: ini adalah dunia ciptaan Gareth. Just enjoy the show.

Beberapa karakter sendiri seharusnya bisa dikembangkan lebih dalam karena kelihatannya memiliki masa lalu yang menarik, seperti mengapa Hammer Girl bisa bisu-tuli, apa yang membuatnya menjadi mesin pembunuh seperti sekarang, dan bagaimana latar Baseball Bat Man menggemari tongkat bisbol sebagai senjata. Meski Prakoso mendapat sekelumit kisah hidup dengan digambarkan bahwa dia adalah ayah yang sayang dengan anaknya, namun kemunculan spin-off dari tiga karakter di atas akan lebih menjelaskan sosok mereka. Apakah Gareth berminat? Siapa tahu.

 

 

Artikel Terkait