The 33 : Kisah Humanis Mengharukan Dari Bawah Tanah

by Joedi Dance

The 33 : Kisah Humanis Mengharukan Dari Bawah Tanah
EDITOR'S RATING    

Berdurasi lebih dari 2 jam, film yang diangkat dari kisah nyata ini tak hanya berhasil memberikan visual indah, namun juga sentuhan humanis kepada setiap karakternya.

 
 
Pada tahun 2010, terjadi sebuah kecelakaan pertambangan di Copiapo. Cili. Sebanyak 33 pria terjebak di dalam tambang bawah tanah selama 69 hari. Untungnya, semuanya berhasil selamat. Dan kisah mereka menginspirasi sebuah buku ‘Deep Down’ yang kemudian dibuat menjadi sebuah film.
 
Disutradarai oleh Patricia RIggen, film ini menjadi salah satu karya terakhir dari komposer James Horner yang meninggal dalam kecelakaan pesawat pada Juni lalu.
 
 
Ketiga 33 orang penambang ini berangkat bekerja, mereka tak menyangka bahwa ini adalah hari terakhir mereka melihat sinar matahari. Gempa menutup satu-satunya jalan keluar. Kelihatannya mereka tak punya kesempatan untuk hidup, apalagi dengan jumlah makanan yang sangat minim. Namun 33 pria ini harus berusaha untuk bertahan hidup sembari menunggu pertolongan. Bukan hal yang mudah, tentu saja.
 
Shot-shot di dalam kegelapan biasanya tidak efektif mengingat minimnya pencahayaan yang membuat fokus penonton melemah. Namun The 33 dengan pintar membungkus semua shot bawah tanah yang membawa efek klaustrofobik yang depresif. Apalagi saat adegan The Last Supper yang begitu menghangatkan hati.
 
 
Menggaet Antonio Banderas sebagai Mario Sepulveda yang mengambil alih kepemimpinan para penambang tampil begitu hidup dan penuh dimensi. Menarik, karena sebagai karakter utama, ia tak hanya menjadi tumpuan harapan semua orang, namun kadang kala jadi begitu besar kepala. Di satu sisi begitu mengesankan, di sisi lain sangat menyebalkan.
 
Kekuatan lain film ini ada di pundak Juliette Bimoche yang berperan sebagai Maria Segovia, kakak dari salah satu penambang yang terjebak. Kekerasan dan ketabahan hati karakter Maria yang membawa pasang surutnya emosi para penonton.
 
Karakter lain pun hadir begitu humanis. Khas Latin yang kulturnya sangat dekat dengan kita, sehingga kita setidaknya bisa mengakar pada salah satu karakter yang beragam. Tak ada yang benar-benar protagonis atau antagonis, semuanya hanya ingin bertahan hidup.
 
 
The 33 tampil begitu memukau dan menegangkan di awal hingga pertengahan film. Sayangnya, semakin lama tempo film ini semakin lambat dan membosankan. Ada beberapa adegan yang semestinya tidak perlu ditampilkan hanya demi menambah daya tarik humanisnya.
 
Kekurangannya ada pada terlalu banyak karakter yang wara-wiri di layar. Walau berusaha memangkas menjadi beberapa karakter saja, namun tetap saja membuat semuanya menjadi tak fokus. Semua karakter dipaksakan untuk tampil secara bersamaan. Ibarat kebanyakan belanja oleh-oleh di Mustafa lalu malah pusing untuk packing di koper. Terlalu padat dan sesak, tak ada ruang untuk bergerak.
 

 

Artikel Terkait