Negeri Van Oranje: Perjalanan Lintang Mencari Cinta

by dr. kawe

Negeri Van Oranje: Perjalanan Lintang Mencari Cinta
EDITOR'S RATING    

Harus beradu dengan beberapa film Indonesia kuat yang rilis di bulan yang sama tidak membuat Negeri Van Oranje gentar. Mereka memiliki amunisi yang cukup mumpuni. Apakah amunisi tersebut sanggup dimanfaatkan dengan baik oleh Endri Pelita sebagai sutradara?

Bulan terakhir di tahun 2015 ini diisi oleh beberapa film Indonesia yang mengambil setting di luar negeri. Salah satunya Negeri Van Oranje. Diadaptasi dari novel laris, melihat judulnya saja Jelata pasti langsung tahu lokasi yang dimaksud. Ya, film besutan Endri Pelita dan diproduksi oleh Falcon Pictures ini mengambil beberapa kota di Belanda sebagai tempat syutingnya.

Lima mahasiswa asal Indonesia bertemu secara kebetulan di sebuah stasiun saat sedang menunggu kereta. Mereka adalah Lintang, Wicak, Geri, Banjar, dan Daus. Karena kesamaan bangsa, kelimanya langsung akrab meskipun kuliah di tempat yang berbeda. Hari-hari mereka jalani dalam suka dan duka, mulai dari masalah pendidikan hingga kehidupan sehari-hari. Lintang sebagai satu-satunya perempuan dalam kelompok yang disebut Aagaban tersebut tentu kerap dilindungi oleh semua cowok yang ada. Namun, diam-diam ia menaruh hati kepada salah satu dari keempat temannya. Siapakah pria yang beruntung menjadi pelabuhan hati Lintang?

Dari awal film, Jelata sudah diajak untuk penasaran dengan narasi Lintang yang memaparkan bahwa dirinya telah memilih satu di antara keempat sahabatnya untuk menjadi pendamping hidup. Cerita kemudian beranjak mundur memaparkan pertemuan Lintang dengan para pria berbeda sifat itu. Untungnya, perpindahan waktu ini dipercantik dengan suara Tatjana Saphira yang menceritakan masa lalu sosok Lintang saat di Belanda. Berbagai shoot cantik yang memperlihatkan negeri Belanda pun ditampilkan dan dijamin akan membuat Jelata terhanyut di dalamnya dan berharap dapat mengunjungi negara asal pesepakbola Van Persie tersebut.

Tidak hanya itu, chemistry yang diperlihatkan kelima pemainnya (Tatjana, Abimana Aryasatya, Chicco Jericko, Arifin Putra, dan Ge Pamungkas) begitu manis. Dialog pun mengalir sehingga Jelata akan merasa mendengar teman yang sedang berbincang alih-alih lima pemain film berakting di depan kamera. Semua karakter pun mendapat porsi masing-masing sehingga tidak ada yang terasa tempelan. Dan, rasanya dalam beberapa dua tahun ke depan, kita akan sering melihat Tatjana wara-wiri di layar lebar karena aktingnya yang begitu lepas sebagai Lintang dan mukanya yang enak dipandang serta tidak membosankan. Step aside, Chelsea Islan!

Sayangnya, Endri dan juga dari sektor naskah terlalu fokus dengan persahabatan kelima mahasiswa ini sehingga lupa menyisipkan perjuangan mereka untuk jauh dari keluarga dan hidup di negeri orang. Apa yang tersaji hanyalah sekelompok mahasiswa yang terlihat nyaman dan tidak kekurangan uang di negeri orang. Kesulitan mereka dari segi ekonomi pun hanya diperlihatkan sekilas melalui sosok Banjar yang bekerja di sebuah kafe atau celetukan-celetukan iseng Daus.

Namun, kekurangan ini untungnya berhasil tertutup dengan jalinan kisah yang menarik, akting yang apik, dan ending yang manis. Setelah menyaksikan Negeri Van Oranje, kami jamin Jelata akan rindu masa-masa SMA atau kuliah dan naksir-naksiran dengan teman satu geng. 

Artikel Terkait