Midnight Show: Teror yang Meninggalkan Banyak Pertanyaan

by dr. kawe

Midnight Show: Teror yang Meninggalkan Banyak Pertanyaan
EDITOR'S RATING    

Teror menghampiri para pengunjung dan karyawan Bioskop Podium. Apa hubungannya dengan film kontroversial Bocah yang sedang ditayangkan?

Membuat sebuah film slasher thriller di Indonesia itu tidak bisa dikatakan mudah. Pangsa pasarnya jelas terbatas, tingkat kesadisan berdampak pada jumlah penonton dan sensor, dan juga efek yang digunakan haruslah terlihat nyata karena kalau setengah-setengah jelas akan terlihat seperti main-main. Karena itulah, memilih genre slasher-thriller merupakan pertaruhan besar bagi para produser. Namun, hal ini rupanya menjadi tantangan bagi Gandhi Fernando. Lewat rumah produksi Renee Pictures, ia mengajak Ginanti Rona Tembang Asri menyutradarai film slasher-thriller yang siap rilis pada 14 Januari 2016 mendatang, Midnight Show.

Bioskop Podium terancam tutup. Pak Johan (Ronny P. Tjandra), sebagai pemilik bioskop, memutuskan membeli kopi film Bocah untuk diputar di sana sebagai upaya meraup pengunjung. Bocah sendiri merupakan sebuah film yang diangkat dari kisah nyata, tentang seorang anak laki-laki bernama Bagas yang membunuh sekeluarganya kemudian memutilasi mereka semua. Di sebuah malam hujan, Naya (Acha Septriasa) dan Juna (Gandhi) bertugas sebagai penyobek tiket dan proyeksionis pertunjukan tengah malam untuk Bocah. Namun, tanpa mereka sadari, sebuah kengerian besar mengancam.

Film ini jelas bukan film yang cocok untuk Jelata yang berhati lemah atau tidak kuat darah. Pasalnya, Ginanti Rona atau yang akrab disapa Gita tidak main-main dalam mengumbar darah dan adegan pembunuhan. Mulai dari ditusuk, digorok, hingga dicekik bisa Jelata saksikan di sini. Untuk film debut, wanita yang pernah menjadi asisten sutradara untuk Killers, The Raid, dan The Raid: Berandal ini cukup berani juga mengambil genre yang berbeda.

Sayangnya, “kebrutalan” Gita kurang didukung dari segi naskah. Salah satu contohnya adalah bahwa Bagas bisa jadi adalah korban dari sebuah konspirasi yang ditutup-tutupi oleh pihak media. Lantas, konspirasi apakah itu? Apakah orangtua Bagas memiliki peran besar sehingga harus dibunuh lalu kesalahannya ditimpakan kepada anak mereka? Hal ini tidak terjawab sampai akhir dan menimbulkan pertanyaan. Dari segi akting, Acha memang yang terunggul di sini meskipun film ini bisa dikata bukan akting terbaiknya. Ganindra Bimo mungkin menjadi satu-satunya pemain dengan akting yang bisa menyamai Acha, sementara yang lain terasa seperti pelengkap saja biarpun tidak sampai pada tahap ‘jelek’. Kalau Jelata cermat, film ini sempat blunder dalam masalah product placement di food stall bioskop. Apa itu? Silakan Jelata cari sendiri.

Meski masih ada beberapa kekurangan, namun Midnight Show menjadi salah satu film Indonesia yang berani mendobrak pakem dan menjadi angin segar di antara genre yang itu-itu saja.

 

 

 

 

 

 

Artikel Terkait