The Himalayas: Kisah Penjemputan Sahabat di Tanah Para Dewa

by Enyu Handayani

The Himalayas: Kisah Penjemputan Sahabat di Tanah Para Dewa
EDITOR'S RATING    

Di pertengahan Desember tahun 2015 lalu, saat pencinta film di seluruh dunia dibuat gegap gempita dengan kembalinya Star Wars: The Force Awakens, kancah perfilman di Negeri Ginseng justru dibuat mengharu biru dengan ditayangkannya The Himalayas.

Ditayangkan perdana pada tanggal 16 Desember 2015 (dua hari setelah Star Wars), film keluaran CJ Entertainment yang diangkat dari kisah hidup pendaki Uhm Hong-gil ini berhasil menduduki peringkat satu box office Korea pada keesokan harinya dengan total penjualan tiket sebanyak 2,6 juta buah. Hingga saat ini, total lebih dari 7 juta tiket telah terjual dan keuntungan dari film besutan sutradara Lee Seok-hoon kini mencapai lebih dari 45,87 juta dolar. Film ini pun kembali melambungkan nama aktor Hwang Jung-min, setelah tahun lalu berhasil membawa film Ode To My Father (2014) sebagai film yang menyabet lebih dari 20 penghargaan dan dinobatkan sebagai film berpendapatan kedua tertinggi dalam sejarah perfilman Korea.

The Himalayas mengangkat kisah pendakian Uhm Hong-gil (diperankan oleh Hwang Jung-min) ke beberapa puncak tertinggi dunia dan perkenalannya dengan dua orang pendaki muda: Park Moo-taek (Jung Woo) dan Park Jeong-buk (Kim In-kwon). Kedatangan Moo-taek dan Jeong-buk sebagai newbie dalam tim pendakian awalnya membuat Hong-gil emosi. Bersama keempat anggota timnya, Hong-gil pun akhirnya bersedia melatih dua anak muda itu hingga Hong-gil dan Moo-taek menjadi sangat akrab. Hubungan senior-junior pun berubah menjadi lebih dari saudara ketika Hong-gil yang disarankan untuk ‘pensiun’ dari dunia pendakian, menyerahkan kapak es berharga miliknya untuk dipakai Moo-taek dalam pendakian perdana sebagai ketua ekspedisi Everest. Sayangnya, Moo-taek tidak pernah kembali turun dan dikabarkan hilang. Belakangan, jasadnya diketahui berada di ketinggian lebih dari 8.500 mdpl. Uhm Hong-gil pun bertekad membawa turun jasad sahabatnya agar dapat dimakamkan secara layak di hadapan keluarga.

Film fiksi yang berlatar pendakian pegunungan Himalaya sudah cukup banyak diangkat dalam layar lebar, sebut saja Into Thin Air: Death on Everest (1997), The Wildest Dream (2010), dan yang paling anyar film keluaran tahun 2015 lalu, Everest. Biasanya, film berlatar ‘rumah para dewa’ ini ide ceritanya diangkat dari satu kisah nyata lalu dibumbui dengan cerita yang dramatik sehingga thrill-nya dapat lebih dirasakan penonton. Pun tidak ketinggalan film The Himalayas ini. Uhm Hong-gil adalah warga Korea Selatan pertama yang berhasil mencapai 14 puncak tertinggi Himalaya pada tahun 2001 sedangkan Park Moo-taek hingga akhir hayatnya (20 Mei 2004) telah berhasil mendaki 7 puncak; 4 di antaranya didaki bersama Uhm Hong-gil. Kedekatan Uhm Hong-gil dengan Park Moo-taek semakin erat karena mereka berdua pernah bermalam hanya dengan mengandalkan gantungan tali, dengan jarak tidak lebih dari 100 meter dari puncak Kangchenjunga.

Alur dalam film berdurasi 124 menit ini secara keseluruhan dapat ‘dibagi’ menjadi dua bagian: sebelum dan sesudah kecelakaan Moo-taek. Diawali dengan betapa seru (dan tegangnya) pengalaman mendaki Uhm Hong-gil beserta kawan-kawan satu tim dalam menjelajah berbagai puncak tertinggi dunia, indahnya pemandangan negeri Nepal beserta para Sherpa dan keluarganya yang ramah, serta ‘dinginnya’ pegunungan yang terlihat sangat gagah dan menjulang. Pengambilan gambar yang sangat dinamis dan penuh warna juga amat memanjakan mata penonton. Sisi human interest dan kekeluargaan yang menjadi daya tarik khas film Korea pun tak ketinggalan diangkat dan diubah menjadi dialog serta gambar yang manis. Ketika adegan sudah masuk ke bagian ekspedisi, raut wajah dan ekspresi lelah serta takut dari para aktor bisa terlihat dan membuat beberapa penonton ikut terbawa emosi. Meski terkadang emosi dari beberapa dialog agak terlalu dipaksakan, film ini cukup membuat penonton terdiam di setengah bagian akhir film.

Hwang Jung-min, oleh Uhm Dong-gil sendiri, dinilai sukses menampilkan karakter Uhm Dong-gil yang bertangan dingin dan kekeuh dalam mengambil keputusan, meski dalam situasi berbahaya sekalipun. Persahabatan antar dua pendaki yang berbeda umur dan pengalaman digambarkan dengan hangat dan cukup mengharukan. Kisah perjuangan Uhm Dong-gil yang susah payah melakukan ekspedisi demi membawa turun jenazah Park Moo-taek memang patut dinilai sebagai ekpedisi yang luar biasa. Untuk para Jelata yang hobi mendaki gunung atau menyukai film bertema petualangan, The Himalayas bisa dijadikan tontonan mulai 20 Januari ini di Blitz seluruh Indonesia. Enjoy! 

Artikel Terkait