Angry Birds: Setia pada Game Meski Membuat Bingung Penonton Awam

by dr. kawe

Angry Birds: Setia pada Game Meski Membuat Bingung Penonton Awam
EDITOR'S RATING    

Rovio Entertainment dan Sony Pictures menghadirkan si burung merah pemarah yang dicintai masyarakat ke layar lebar. Apakah kisahnya sanggup menghibur bagi semua kalangan?

Meski kini pamor Angry Birds tidak sedahsyat dulu, namun jelas kemunculan film animasinya di layar lebar tetap ditunggu banyak pihak. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa ingin melihat perwujudan jagoan mereka dalam bentuk hidup. Tidak hanya Angry Bird dan teman-temannya, The Pig juga tentunya menjadi satu lagi sosok yang membuat penasaran akan seperti apa nantinya dengan segala tingkah polah mereka dalam upaya merebut telur-telur para burung.

Pulau Burung hidup dengan damai. Namun, tidak bagi Red yang selalu saja tertimpa sial dan tidak mampu mengendalikan amarahnya. Karena suatu hari mengacaukan pesta Hari Menetas sebuah keluarga, Red akhirnya diharuskan masuk ke pelatihan anger management. Di sana, ia bertemu teman-teman baru, seperti Terence, Bomb, Chuck, dan Matilda yang menjadi gurunya. Ketenangan di Pulau Burung sontak berubah saat sebuah kapal, yang dipimpin babi Leonard, merapat. Mengaku datang dengan damai, Leonard pun menawarkan berbagai barang sebagai hadiah, salah satunya adalah ketapel raksasa. Namun, di balik hadiah-hadiah tersebut, ternyata Leonard memiliki rencana jahat: mengambil telur-telur milik warga Pulau Burung. Apakah Red dan teman-temannya mampu menyelamatkan telur-telur sebelum keburu direbus?

Film ini jelas ditujukan kepada para penggemar Angry Birds. Semua tokoh yang Jelata mainkan ada di sini. Namun, bagi yang tidak mengikuti game-nya seperti saya, bersiap-siaplah untuk bingung karena banyaknya tokoh. Leluconnya sendiri bisa dikatakan bersifat universal dibanding Minions atau Penguins of Madagascar karena lebih bertumpu pada tingkah polah yang disajikan para burung ketimbang dialog-dialog yang mereka ucapkan.

Untuk Jelata yang mengharapkan adegan lontar-melontar ketapel layaknya dalam game sudah muncul sedari awal, bisa jadi akan kecewa karena cerita berjalan lambat di paruh awal. Kehadiran babi-babi di Pulau Burung pun terasa bertele-tele dan terlalu panjang. Yang lebih disayangkan lagi adalah adegan tembak-menembak dengan ketapel pun berlangsung cukup cepat sehingga saya pribadi merasa kurang puas. Namun, salah satu kelebihan yang memang patut diacungi jempol adalah kesetiaan animasinya terhadap berbagai aspek dalam Angry Birds. Saya sendiri senang bisa melihat berbagai kendaraan dan perangkat si babi, mulai dari motor, payung, pesawat, dan masih banyak lagi.

Secara keseluruhan, Angry Birds merupakan film yang sukses sebagai hiburan. Namun, bisa jadi hanya akan memuaskan sedikit kalangan, terutama yang gemar bermain game-nya. Dan, bukan mustahil jika film ini mendapat keuntungan yang menggembirakan maka game-game sejenis akan bermunculan di layar lebar, seperti Flappy Bird atau bahkan Candy Crush?

Artikel Terkait