Mereka dipuja karena tindakan tidak terpuji yang harus dilakukan untuk bertahan hidup.

Setelah hiatus beberapa tahun pasca Life of Pi kini Ang Lee kembali ke kursi sutradara untuk menyutradarai Billy Lynn's Long Half Time Walk yang diadaptasi dari novel karangan Ben Fountain. Film ini mengambil sudut pandang dari tentara spesialis Billy Lynn's (Joe Alwyn) yang aksi heroiknya kala menyelamatkan temannya dari serangan musuh terekam oleh kamera dan menjadi viral. Lynn's yang juga anggota dari regu Bravo akhirnya dibawa pulang bersama anggota regunya dan dibawa tur keliling Amerika sebagai pahlawan.
Film ini berjalan lambat khas Ang Lee. Alur film berjalan maju mundur mengikuti apa yang dirasakan Billy tentang situasi yang dihadapinya saat itu. Billy dan regu Bravo-nya dalam perjalanan untuk mengikuti perayaan pada saat jeda waktu pertandingan American Football Dallas Cowboys. Mereka disambut dan dielu-elukan bak pahlawan oleh setiap orang dan media yang mereka temui. Tapi ternyata untuk rakyat biasa apa yang mereka lakukan saat perang tampak tak berarti apa-apa karena mereka tidak merasakan perubahan dalam kehidupan sehari-hari. Pahlawan perang yang dipuja bisa diusir dari atas panggung oleh pengawas acara hanya karena mereka mengganggu pekerjaan.

Film ini mencoba menangkap apa arti perang bagi rakyat Amerika. Di satu sisi mereka dipuja, namun di sisi lain mereka kehilangan koneksi dengan kehidupan normal. Billy tak merasa nyaman lagi tinggal di keluarganya. Sorak-sorai penonton dan kemeriahan pertandingan baginya hanya mengingatkannya pada situasi perang. Kegelisahan inilah yang coba diangkat Ang Lee untuk dirasakan oleh penonton. Tapi, hal ini rasanya tidak bisa dituangkan dengan baik oleh Ang Lee karena banyaknya hal remeh yang membuat filmnya terasa membosankan.
Akting terbaik dalam film ini adalah Kristen Stewart yang berperan sebagai Kathryn, kakak Billy. Emosinya sebagai orang yang asing di keluarganya sendiri serta hubungannya yang erat dengan Billy tampak tertuang dalam film. Adegannya dengan Joe sebagai kakak-adik lebih menyentuh daripada adegan perang film ini yang sangat biasa. Akting Joe sebagai Billy sebenarnya bagus tapi ia tampak kalah oleh akting para anggota regu Bravo yang terlihat natural. Satu hal yang mengganggu di film ini adalah banyaknya adegan close up para pemain sembari berbicara langsung ke arah kamera. Entah apa tujuan Ang Lee melakukan ini tapi efeknya malah mengurangi kekuatan adegan. Rasanya seperti diceramahi berulang-ulang.
Bagi yang suka film lambat dan puitis khas Ang Lee mungkin akan mengganggap fim ini layak masuk nominasi Best Picture Academy Award. Namun, bagi orang awam seperti saya, film ini sungguh amatlah sungguh membosankan.