Tidak hanya sekadar berbaku-hantam dengan para penjahat, Iko Uwais kini mendapat porsi beradegan romantis melalui Headshot. Apakah film ini sanggup membawanya keluar dari cap aktor laga?

Setelah menghadirkan Killers yang mendapat sambutan cukup baik di beberapa kalangan, terutama pencinta film bloody-gore, kini Mo Brothers kembali lagi dengan Headshot. Kali ini, duet sutradara Kimo Stamboel-Timo Tjahjanto bekerja sama dengan aktor yang banyak mendapat perhatian dunia pasca The Raid, Iko Uwais. Tidak hanya itu, aktris cantik Chelsea Islan yang selama ini menjajal akting di film-film drama pun mendapat kesempatan memperluas filmografinya dengan pertama kali bermain film aksi. Selain dua nama itu, masih ada Julie Estelle, Very Tri Yulisman, Sunny Pang, Zack Lee, dan David Hendrawan.
Berbicara mengenai aksi, jelas tidak perlu diragukan lagi. Iko sebagai koreografi laganya turut berperan menghadirkan berbagai aksi yang mendebarkan. Mulai dari menerjang jendela bis dalam keadaan terbakar hingga pertarungan puncak melawan Mr. Lee. Sayangnya, pergerakan kamera yang kadang terlalu dinamis membuat penonton tidak dapat menikmati semua adegan tersebut dengan nikmat, malah terkadang membuat pusing. Selain itu, meski adegan pertarungannya cukup memukau, tapi tidak menghadirkan sesuatu yang baru dan membuat penonton menahan napas. Seperti babak pamungkas yang mau tidak mau akan kita bandingkan dengan The Raid 2 saat Iko melawan Cecep Arif Rahman yang dijamin akan membuat yang menonton tidak berkedip dan menahan napas.

Pun begitu dengan akting. Hubungan Ishmael-Ailin terlihat tanpa chemistry sehingga membuat penonton kadang bosan dengan interaksi keduanya. Akting Chelsea tidak salah, tapi Iko memang terlihat masih kurang mampu menampilkan sosok pemuda yang jatuh cinta dengan dokter yang telah menolongnya saat ia terbaring koma. Ditambah dengan dialog semi-romantis yang terasa kurang pas di telinga sehingga terasa agak dipaksakan saat diucapkan oleh dua pemeran utamanya.
Headshot memang salah satu film aksi yang cukup menghibur tahun ini. Namun, masih belum mampu menyamai pendahulunya dalam kategori film aksi terbaik. We want more Yayan Ruhian, Cecep Arif Rahman, and Very Tri Yulisman please!