Arrival: Ikatan yang Tak Tergambarkan

by Ireuna

Arrival: Ikatan yang Tak Tergambarkan
EDITOR'S RATING    

Arrival hadir dengan cerita fiksi ilmiah yang segar dan berbeda.

 
Penggemar film-film fiksi ilmiah di Indonesia patut membuka 2017 dengan gembira karena akhirnya Arrival tayang di bioskop Tanah Air. Film garapan Denis Villeneuve ini bukanlah film fiksi ilmiah biasa. Saat berpikir bahwa Arrival adalah film tentang invasi alien, Jelata akan mendapatkan lebih banyak dari yang bisa kalian dipikirkan. Amy Adams berperan sebagai seorang profesor dalam bidang linguistik, Louise Banks, dan dipercaya untuk menerjemahkan bahasa alien (dinamakan Heptapods karena memiliki tujuh kaki) dalam film ini. Bersama Jeremy Renner yang berperan sebagai Ian Donnelly, seorang ahli fisika teoretis, Louise berusaha memahami makhluk yang sedang mereka hadapi saat ini.
 
Arrival dibuka dengan sangat melankolis, menghadirkan kenangan Louise saat dia masih menjadi seorang ibu yang membesarkan anaknya. Kehidupan Louise tak berjalan lancar. Dia merasakan cinta dan kehilangan sebelum akhirnya pesawat alien ditemukan melayang secara acak di 12 tempat di Bumi. Tak ada serangan, tak ada aktivitas mencurigakan. Hal ini membuat Arrival jadi film fiksi ilmiah tentang alien yang yang berbeda. Film ini bukan soal peperangan antara manusia melawan alien seperti yang bisa kalian temukan di film-film serupa Independence Day. Karena itulah, di film ini disajikan pula pendapat orang-orang yang kontra dengan pendekatan damai (berusaha mencari tahu tujuan para alien itu datang ke Bumi). Keberadaan pihak militer juga cukup menunjukkan kontra tersebut, mengingat pihak militer menganggap keberadaan alien ini sebagai ancaman dan pendekatan terbaik adalah perang. Meski pihak militer terkesan bodoh dan cepat "panas", keberadaan Forest Whitaker sebagai Kolonel Weber cukup membuat film ini seimbang karena menyajikan situasi dari dua sisi. Kolonel Weber (orang yang bertanggung jawab dalam misi memahami bahasa Heptapod) selalu berusaha mengerti cara kerja ilmuwan (dalam hal ini Louise) dan menerima hal-hal yang menurutnya masuk akal.
 
 

Louise adalah karakter yang intens dalam film ini dan Amy Adams berhasil membuat kita semua hanyut dalam emosinya. Kebingungan, ketegangan, kelelahan, ketakutan, sampai keyakinan yang goyah, Amy membawa penonton menikmati semuanya tanpa perlu diekspresikan secara berlebihan. Arrival menunjukkan cara manusia menghadapi sesuatu yang baru, menghadapi ketakutannya. Film yang diangkat dari cerpen Ted Chiang yang berjudul “Story of Your Life” ini disajikan dengan brilian. Meski lambat, setiap momennya bisa dinikmati tanpa jeda. Arrival seperti membaca Louise, sosok yang berusaha memahami keadaan dengan caranya sendiri.

Lebih jauh, Arrival menyoal sisi kemanusiaan yang lebih dalam, yaitu tentang bagaimana manusia bisa saling berhubungan, saling berkomunikasi. Arrival secara luar biasa menghadirkan senjata terbaik yang bisa menghancurkan dan menyatukan manusia: bahasa. Menyinggung hipotesis Sapir-Whorf, bahwa struktur bahasa memengaruhi kesadaran dan cara pandang pemakainya, film ini berakhir dengan sangat indah dan menyentuh. Ada begitu banyak momen yang entah bagaimana bisa begitu mengharukan dan mengena. Arrival juga memuat begitu banyak hal filosofis di dalamnya: keberadaan takdir, kerumitan bahasa, komunikasi, dan misteri mengenai waktu. Hal ini mungkin membuat film ini sulit dipahami. Namun, agaknya Arrival memang tipe film fiksi ilmiah yang mengajak penontonnya berpikir. Meski begitu, Jelata tetap bisa menikmati film ini, mengingat visualisasinya yang indah sangat memanjakan mata.

 

Artikel Terkait