Salawaku berhasil menampilkan cinta dengan sudut pandang yang berbeda.

Industri film Indonesia sudah mulai merangkak bangkit. Tak hanya produktif, para sineas Indonesia mulai membuat film anti-mainstream dengan kisah yang unik. Pritagita Arianegara melalui Salawaku telah melakukan hal ini.
Tayang mulai 23 Februari 2017, Salawaku menghadirkan kisah tentang perjalanan menemukan cinta. Namun, cinta yang dihadirkan bukanlah cinta yang biasa. Cinta dalam Salawaku adalah cinta yang lebih kompleks, terbentur prinsip dan harga diri.
Salawaku (Elko Kastanya) adalah seorang anak dari sebuah desa di Pulau Seram. Kakaknya, Binaiya (Raihaanun), melarikan diri ke Piru karena suatu masalah yang tak bisa diselesaikannya. Akibatnya, Salawaku seorang diri dan menjadi bahan rundungan teman-temannya. Hal ini mendorong Salawaku untuk mencari kakaknya dan membawa kakaknya kembali.
Di tengah perjalanan, Salawaku bertemu dengan Saras (Karina Salim), gadis dari Jakarta yang juga sedang mengalami masalah. Demi melepaskan diri dari masalahnya sekaligus membalas budi karena Salawaku telah menolongnya, akhirnya Saras ikut membantu Salawaku menemukan Binaiya. Salawaku dan Saras melakukan perjalanan yang tak terduga. Dua orang asing yang berbeda usia ini melakukan perjalanan yang menyenangkan.

Sebagai road movie, Salawaku menyoroti perjalanan dengan sangat baik. Sinematografinya digarap dengan sangat baik, meski warna yang tampil cenderung kebiru-biruan. Namun, hal itu tak masalah mengingat film ini begitu mengekspos laut dan langit Maluku yang biru cerah. Ditambah lagi
Elko Kastanya sangat brilian memerankan Salawaku. Kepolosannya begitu alami sehingga tak jarang mengundang gelak tawa sepanjang film. Karina Salim juga memerankan ‘anak gaul Jakarta’ dengan baik, meski di beberapa bagian terkesan berlebihan. Namun, Karina Salim berhasil menguras emosi pada saat tertentu, saat dia mencurahkan kemarahan, kegalauan, dan kesedihan yang terpendam.
JFlow Matulessy juga tanpa diduga berhasil membawakan karakter Kawanua yang begitu mengayomi Salawaku. Sosok kakak yang baik berhasil dibawakannya. Bahkan Binaiya berhasil membangkitkan mood menonton berkat emosi yang dihadirkannya pada awal film.
Sayangnya, masih ada plot hole saat Salawaku bertemu dengan Saras di sebuah pulau tak berpenghuni. Agaknya, yang ingin digambarkan di sana adalah Saras dan Salawaku yang sama-sama asing, namun bisa melakukan perjalanan bersama. Sayangnya, hampir tak ada yang bisa diketahui dari Saras saat itu. Obrolan antara Salawaku dan Saras juga terlalu minim sehingga perjalanan keduanya setelah itu jadi kurang alami.

Salawaku mengisahkan tentang pengorbanan demi seseorang yang dicintai. Cinta yang tak pengecut, cinta yang membuat orang-orang berani, dan cinta yang tak dipaksakan. Binaiya tak mau memaksakan dirinya berada di desanya dan juga tak mau memaksakan kehendaknya kepada Kawanua. Sementara Saras mengerti betul bahwa ketidaksiapan sama sekali bukan alasan untuk berhenti berjuang demi cinta. Dan Salawaku, cintanya membawanya menyebrangi lautan demi bertemu Binaiya. Semua terkemas dengan rapi dan menghibur.
Jelata sama sekali tak boleh melewatkan film ini. Akting brilian, pemandangan indah yang memanjakan mata, sampai kisah sederhana yang manis adalah paket lengkap yang bisa kalian temukan di film ini. Bahkan, untuk ditonton bersama keluarga pun rasanya masih pas.