Antologi Rasa: Indah, tapi Terkesan Buru-Buru

by Dwi Retno Kusuma Wardhany

Antologi Rasa: Indah, tapi Terkesan Buru-Buru
EDITOR'S RATING    

Adaptasi novel yang terasa tanpa jiwa

Rizal Mantovani dan Soraya Intercine Films pernah beberapa kali mengadaptasi novel ke layar lebar. Salah satunya novel fenomenal Dewi Lestari, Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh, yang dijadikan film dan bisa dibilang gagal total dari segi kualitas. Kali ini, Antologi Rasa karya Ika Natassa dipilih Soraya sebagai “senjata” untuk menyambut Hari Valentine.

Kisahnya sebenarnya klise, cinta segiempat di antara empat sahabat. Namun, dalam lembar-lembar bukunya, Ika bisa meramu kisah “kuno” ini menjadi saling-silang perasaan yang bikin pembacanya terkadang gemas atau kesal dengan tingkah keempat tokohnya: Harris, Keara, Ruly, dan Denise. Sayang, Rizal dan Ferry Lesmana sebagai penulis naskah terasa gagal menangkap esensi kisah cinta segiempat tersebut.

Naskah Ferry terasa terburu-buru. Tidak ada ruang bagi tiap karakter untuk berkembang dan berinteraksi dengan karakter lain. Ia seakan tidak yakin kalau tiap pemain Antologi Rasa sanggup bertutur dengan mata, ekspresi, dan gerak-gerik sehingga sepanjang film penonton diberi voice over berisi penjelasan panjang-lebar. Satu-dua kali mungkin tidak masalah, tapi saat voice over ini diterapkan sepanjang film, penonton tentu akan terganggu.


Hal tersebut diperparah dengan ekspresi Herjunot Ali yang memerankan Harris. Bahkan, meski dengan voice over darinya pun, penonton tidak akan percaya bahwa karakter ini jatuh cinta head-over-heels selama lima tahun dengan Keara. Matanya tidak menyorotkan itu. Sikap Harris yang bandel, tapi adorable, gagal dihadirkan Junot. Karakternya malah terasa berisik, annoying, dan memaksa.

Untungnya, Carissa Perusset berhasil menghadirkan akting yang lumayan sebagai pendatang baru. Meski di beberapa momen, emosinya terkadang tidak keluar, tapi secara keseluruhan, penampilannya tidak mengecewakan. Sayang, chemistry tidak terbangun antara dia dengan Junot atau Refal Hady. Naskah tidak memberi cukup alasan yang membuat Ruly tiba-tiba berbalik menyukai Keara.

Antologi Rasa merupakan salah satu karya terbaik Ika Natassa. Namun, sayangnya Soraya Intercine Films dan Rizal Mantovani gagal menghadirkan “rasa” yang muncul saat kita membacanya. Hanya sebuah film indah tentang cinta yang telah menemukan, tapi tidak bisa memiliki.