Doctor Sleep: Sekuel The Shining dengan Kengerian yang Sama

by Dwi Retno Kusuma Wardhany 66 views

Doctor Sleep: Sekuel The Shining dengan Kengerian yang Sama
EDITOR'S RATING    
PEOPLE'S RATING      
Add Your Rating    

Teror kepada Dan Torrance masih berlanjut.

PERINGATAN:

Ulasan ini mengandung spoiler bagi yang belum menonton The Shining.

 

Di tantangan kedua dalam Ready Player One, Wade dan kawan-kawannya masuk ke dunia The Shining dengan bermodalkan kalimat “The creator who hates his creation.” Meski banyak dianggap sebagai salah satu film horor terbaik, namun Stephen King sendiri tidak suka dengan adaptasi The Shining (1980) yang disutradarai Stanley Kubrick. Menurutnya, banyak adegan yang berbeda dengan bukunya dan juga karakterisasi yang berubah. Terlepas dari ketidaksukaan King pada adaptasi The Shining, sekuel berjudul Doctor Sleep kini telah rilis di bioskop-bioskop.

Meski sekuelnya terpaut jarak 39 tahun, namun kisahnya sendiri dimulai hanya beberapa minggu (atau bulan) dari kejadian di The Shining. Danny Torrance, alias Dan, berusaha menaklukkan ketakutannya terhadap makhluk-makhluk dari Hotel Overlook. Dibantu mendiang Dick Hallorann, mantan koki yang dibunuh ayahnya, Dan berusaha mengunci ingatan itu dan memendam kemampuannya yang disebut “shine”. Ternyata, selain Dan, berbagai anak di seluruh Amerika juga memiliki kemampuan ini. Namun, mereka semua tidak aman karena sekelompok gipsi pengembara bernama True Knot “memakan” kemampuan yang disebut “Steam” tersebut untuk memelihara kekuatan dan usia mereka agar bisa hidup panjang. Awalnya cuek, kini Dan dewasa harus berhadapan dengan True Knot dan pimpinannya, Rose The Hat, yang mengincar Abra, seorang gadis kecil dengan kekuatan “shine” yang luar biasa.

Sebagai sutradara dan penulis naskah, Mike Flanagan (kreator dan sutradara serial Netflix The Haunting of Hill House) sukses menghadirkan kisah yang sama mencekamnya dengan The Shining. Meski pembangunan karakter dan konfliknya cukup perlahan, namun penonton tidak akan merasa bosan, malah penasaran menantikan apa yang terjadi selanjutnya. Beberapa adegan cukup disturbing meski pun tidak banjir darah. Flanagan menyerahkannya kepada para penonton untuk berimajinasi dan menempatkan diri mereka ke posisi korban True Knots.


Berusaha membangun feel bahwa ini merupakan sekuel dari The Shining, musik yang dipakai pun masih bernuansa sama sehingga sesekali penonton akan terbayang-bayang dengan film pertamanya. Apalagi, saat penonton dibawa mengunjungi Hotel Overlook kembali. Meski tidak menghadirkan interior megah hotel secara keseluruhan, namun beberapa ruang ikonik seperti The Gold Room atau pun kamar 237 kembali dihadirkan, lengkap dengan “penghuninya”.

The Shining (1980) memiliki perbedaan dengan bukunya, di mana Hotel Overlook masih berdiri. Padahal, di akhir bukunya, King meledakkan hotel tersebut sebagai upaya Jack Torrance menyelamatkan istri dan putranya. Perbedaan tersebut dengan cerdik diaplikasikan oleh Flanagan sehingga Doctor Sleep tidak hanya menjadi sekuel dari The Shining versi film, namun juga memperbaiki perubahan yang dilakukan Kubrick.


Ewan McGregor dan Rebecca Ferguson jelas adalah dua ujung tombak film ini. Aktingnya keduanya sangat memikat. Meski mereka baru berhadapan menjelang film berakhir, namun adegan yang menampilkan keduanya terasa intens. Membuat penonton dijamin tidak mau melewatkan sedikit pun jalinan kisah Doctor Sleep bahkan untuk ke toilet sekali pun.

Dengan kesuksesan IT dan kini Doctor Sleep, rasanya tinggal menunggu novel-novel horor King yang lain diadaptasi ke layar lebar atau bahkan remake dari film-film lamanya dihadirkan kembali dengan sentuhan yang lebih modern. Doctor Sleep jelas sebuah sekuel yang tidak boleh dilewatkan, apalagi jika Anda penggemar The Shining.