Dolittle: Tafsiran Ulang Kisah Klasik Yang Tidak Istimewa

by Prima Taufik 62 views

Dolittle: Tafsiran Ulang Kisah Klasik Yang Tidak Istimewa
EDITOR'S RATING    
PEOPLE'S RATING      
Add Your Rating    

Kehadiran Robert Downey Jr. pun tidak membantu sama sekali

Dolittle adalah kisah dongeng klasik yang sudah berkali-kali diadaptasi ke berbagai medium. Kali ini, Stephen Gaghan mencoba mengangkatnya kembali ke layar lebar. Ia menggaet banyak bintang besar untuk ikut bermain, baik sebagai karakter manusia mau pun pengisi suara para binatang. Bintang utamanya sendiri adalah pensiunan MCU, Robert Downey Jr. Selain Downey Jr., masih ada Michael Sheen, Tom Holland, Selena Gomez, John Cena, Antonio Banderas, dan Rami Malek. Tentunya tidak mudah mendapatkan bintang-bintang tersebut dan pastinya ada yang menarik bagi mereka untuk ikut proyek ini.

Dari premis kisahnya saja, seorang dokter hewan yang bisa berbicara dengan binatang mana pun, sudah bisa dipastikan film ini akan penuh dengan CGI. Karena itu, tumpuan utama tentu akting para pemain dan jalan cerita. Mengingat kisah film ini ditujukan untuk semua umur maka cerita yang dibawakan tentunya harus mudah dipahami oleh anak-anak.

Namun, film ini terasa sangat membosankan. Awal cerita dimulai dengan lambat dan bertele-tele. Gaghan ingin menunjukkan dunia binatang yang beragam dan bagaimana mereka bisa mengerti satu sama lain dan cara mereka berinteraksi dengan Dolittle. Sayangnya, pembukaan yang terlalu lama dan berbagai aksi CGI para hewan ini tidak terasa mulus. Banyak dialog dan editing yang kurang pas sehingga alih-alih lucu dan asyik, malah terasa seperti memanjang-manjangkan durasi.


Robert Downey Jr. sendiri tampak kurang luwes. Ia seperti ingin memberikan nyawa baru pada karakter Dolittle agar seikonik Jack Sparrow milik Johny Depp, tapi usahanya itu tampak kurang berhasil. Karakter kekanak-kanakan Dolittle justru terlihat seperti orang dewasa yang punya gangguan kepribadian dan lambat dalam merespon apa pun.

Hewan-hewan sebagai karakter pendukung di film ini terlihat berusaha menjadi karakter yang paling menonjol satu sama lain. Masing-masing diberi stereotip karakter yang diharapkan memorable dan mudah diingat, namun alih-alih diingat, semuanya seperti berlomba menjadi yang utama sehingga malah seperti kelas ribut yang semua orang ingin berbicara tanpa ada yang mau mengalah. Akhirnya, tidak ada yang begitu menonjol. Malah karakter tupai yang diisi suara oleh Craig Robinson lebih mudah diingat karena jarang muncul, tapi sekali muncul dialognya sangat lucu.

Film ini sepertinya ingin memberikan nuansa epik dan bombastis layaknya film-film blockbuster musim panas, tapi jatuhnya hanya sekedar gimmick karena visualnya tidak membantu menghilangkan kekakuan interaksi pada karakter manusia dan karakter binatangnya pun jadi menyebalkan. Mungkin untuk bisa menikmati film ini, kita harus mencoba pola pikir ala anak-anak. Namun, anak-anak juga sepertinya takkan menikmati film ini.



Artikel Terkait