Milea: Suara Dari Dilan - Rekapan Dua Film Ramah Lingkungan

by Takdir 119 views

Milea: Suara Dari Dilan - Rekapan Dua Film Ramah Lingkungan
EDITOR'S RATING    
PEOPLE'S RATING      
Add Your Rating    

Ada hubungan apa antara Milea dengan Greta Thunberg?

Apa yang ditawarkan trilogi kisah cinta Dilan-Milea? Jika berharap lebih akan kedalaman cerita, tentu saja itu artinya Anda tidak realistis. Kesuksesan Dilan justru terletak pada sederhananya cerita dan dialog. Tidak diperlukan pemikiran yang rumit, sebagian besar pasti pernah merasakan kebodohan dan cinta monyet saat masih memakai seragam. Indonesia memang beragam budaya dan bahasa, namun naksir cewek pacar orang semua pernah merasakan.

Sayangnya edisi ketiga berjudul Milea: Suara Dari Dilan ini setengah awal dari filmnya hanyalah rekap dari dua film sebelumnya layaknya rekap pertandingan sepakbola semalam.  Anda yang sudah menonton pertandingan lengkap Liverpool vs Barca tahun lalu seolah menonton rekap gol-gol nya dalam waktu agak panjang.

Walau sudut pandang dari Dilan, terasa bahwa banyak adegan yang ada hanya mengambil dari hasil rekaman dua film pertama, lalu dijahit ulang "seolah baru". Bagi penonton dua film sebelumnya tidak ada perbedaan "suara Milea" dan "suara Dilan", apa mereka aslinya satu orang dua kepribadian? Entahlah. Padahal harusnya ada perbedaan kentara sudut pandang pria dan wanita, bukan?


Namun kan sekarang zamannya daur ulang demi menanggulangi perubahan iklim, jadi saya mengapresiasi rakitan adegan daur ulang dalam setengah awal film Milea sebab itu artinya hemat energi dan hemat cup plastik kopi kekinian yang dipesan oleh kru nya. Kebayang kan kalau harus syuting ulang lagi adegan-adegan kunci dua film Dilan sebelumnya hanya untuk "sudut pandang Dilan"? Greta Thunberg pasti bangga akan hematnya film ini!

Untuk kalian yang merasa bahwa ini adalah trik malas, mohon maap Festival Film Cannes masih bulan Mei yah. Sepertinya sih penonton tidak akan ambil pusing dengan daur ulang ini, toh merekapun terbiasa mengisi botol shampoo dengan air biar usianya panjang kan? Toh kerecehan Dilan dan kebucinan Milea adalah kita. Jadi kalau ada yang teriak siapa kita! Siapa kita! Jawab saja, kita Dilan.


Setengah akhir film ini barulah "menutupi" bolong informasi dari dua film pertamanya yang tidak baru-baru amat kalau pernah membaca bukunya. Akhir kisah film ini juga setia pada sumber utamanya, jadi Anda tidak akan murka ketika Dilan lebih memilih Zaenab daripada Sarah.

Sekuel? Walau bukunya hanya sampai tiga jilid saja, saya pikir sekuel adalah sebuah kepastian. Bisa jadi kan nanti ada kisah sempalan Dilan tahun 2022 yang sudah bapak-bapak, terus ke Amsterdam dan ketemu Milea lagi di museum? Yang jelas, receh adalah kunci dari Dilan dan jika kamu fans, kamu gak peduli kalau setengah film ini adalah daur ulang dua film pertama. Kalau bukan fans silahkan bikin seminar sama Nolan untuk membahas susunan cerita Dilan.

Artikel Terkait