Plot maju mundur yang menyenangkan dan nggak bikin mumet seperti film-filmnya Nolan
Stand By Me Doraemon 2 masih memiliki formula yang sama, yakni nostalgia pada karakter-karakter yang sudah dikenal dari komik dan serial animasinya. Kisahnya mengambil dari salah satu bab komik "Grandma's Memories," film pendek "Doraemon: A Grandmother's Recollections" yang rilis tahun 2000, serta film pendek tahun 2002 berjudul “The Day When I Was Born.”
Aslinya film ini akan rilis di Jepang bulan Agustus tahun lalu, namun ditunda karena pandemi dan malah memberi jalan rilis film Doraemon lain, yakni Doraemon: Nobita's New Dinosaur. Akhirnya film ini rilis juga pada 20 November 2020 di Jepang dan Februari 2021 untuk Singapura, Malaysia, dan Indonesia. Stand by Me Doraemon 2 mendapatkan $3.7 juta untuk minggu pertamanya ketika rilis di Jepang.

Usia berapa pun, kita akan pernah merasa takut, rapuh, dan butuh dukungan. Inilah tema utama Stand By Me Doraemon 2 yang menunjukkan Nobita dari versi balita sampai dewasa yang ternyata tetap butuh dukungan dalam bertindak. Namun, pada akhirnya, hanya Nobita sendiri yang bisa menolong dirinya, tentu dengan twist ringan yang menarik.
Kisahnya masih tetap menarik yang melibatkan mesin waktu, mesin penukar jiwa, bahkan dalam satu adegan ada dua Nobita masa sekarang yang berpindah-pindah jiwa. Sepertinya Fujiko F. Fujio lebih pintar dari Christopher Nolan dalam membungkus kisah dengan mesin waktu sebagai penggerak plot. Mungkin ini akan membingungkan anak-anak kecil, tetapi remaja akan mudah untuk memahami. Bedanya, kalau sesudah menonton film Nolan, penonton semakin pusing dengan teori-teori yang ditemukan, kalau dalam film ini cukup dengan menonton saja tidak perlu memikirkan berbagai simbol dan teori rumit.

Gabungan ketiga kisah yang menjadi inspirasi utama ini juga mulus, tidak terasa seperti bagian-bagian yang terpisah satu sama lain dan masih mampu memberikan efek komedi yang diinginkan. Film yang hangat dan menyenangkan ini sukses memadukan kisah masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dari segi animasi bisa dikatakan sudah mencapai level Pixar, dari latar belakang sampai karakternya sudah mulus dalam animasi tiga dimensi.
Ada baiknya sebelum menonton film sekuel ini, sudah menonton film pertamanya, Stand By Me (2014), supaya lebih familiar dengan kisah Nobita. Namun, jika di masa kecil sudah sering menonton Doraemon, tentu tidak perlu menonton film pertamanya sebab menyaksikan Nobita, Doraemon, Shizuka, Giant, dan Suneo sudah cukup membangkitkan nostalgia indah masa kecil.
