Mortal Kombat: Perayaan Game Generasi 90-an yang Mewah

by Takdir 321 views

Mortal Kombat: Perayaan Game Generasi 90-an yang Mewah
EDITOR'S RATING    
PEOPLE'S RATING      
Add Your Rating    

Nggak banyak basa-basi, penuh aksi yang seru

Ini merupakan kali ketiga game Mortal Kombat diangkat ke layar lebar setelah versi tahun 1997 dianggap hancur lebur. Proses pengembangan film ketiganya juga cukup panjang dan penuh drama sampai akhirnya Warner Bros mendapatkan hak membuat film pada tahun 2010.

Untuk ceritanya tidak perlu sampai berkerut kening jungkir balik seperti Tenet karena sangat mudah dan menghibur. Cocok dengan saat pandemi karena orang mencari hiburan sederhana untuk pelepas penat. Jika kalian generasi mesin dingdong koin yang senang bermain Mortal Kombat, film ini akan terasa sangat menarik sebab banyak elemen yang mengingatkan akan karakter favorit.

Kisahnya soal Cole Young (Lewis Tan), seorang petarung Mixed Martial Art. Namun, dia punya tanda lahir berupa naga di dadanya. Ternyata, tanda naga ini membawanya pada petualangan baru ke dalam dunia tarung ghoib. Ternyata, Cole adalah keturunan Hanzo Hasashi (Hiroyuki Sanada) yang diburu oleh musuh bebuyutannya, Sub-Zero (Joe Taslim), dari klan Lin Kuei. Atas perintah Jax yang dia kenal karena menolongnya kabur dari Sub-Zero, Cole menemui Sonya Blade (Jessica McNamee) untuk mencari tahu yang terjadi.


Selain Sonya, Cole juga akan bertemu karakter lain, seperti Kano yang diberi porsi komedi yang banyak. Bahkan, dia senang bercanda dengan referensi budaya pop seperti menyebut Lord Raiden (Tadanobu Asano) seperti Gandalf dan Kung Lao sebagai Harry Potter.  Sudah  bisa ditebak, kedamaian mereka terusik oleh Shang Tsung (Ng Chin Han) yang merupakan penguasa dunia Outerworld dan memiliki sekumpulan petarung andal dengan jurus-jurus yang akan mengingatkan kita pada permainan game Mortal Kombat.

Paruh akhir film ini tanpa basa-basi, penuh pertarungan yang menarik. Kombinasi perkelahian tangan kosong, CGI, dan kekuatan ghoib terasa pas. Bahkan ada kata "fatality" dan Scorpion mengucapkan "Get over here!" Jika Anda generasi 90-an yang semasa kecil sering membolos sekolah dan bermain dingdong Mortal Kombat dengan mengambil uang belanja orang tua, maka permainan itu dihadirkan kembali dalam bentuk CGI yang mewah. 


Penonton Indonesia boleh berbangga sebab dalam fim ini Joe Taslim memiliki porsi yang besar, melebihi perannya dalam Fast Furious dan Star Trek. Porsi dialog dan aksi Sub-Zero juga cukup besar. Hanya saja film ini terlalu sadis bahkan untuk remaja, jadi rating yang diberikan adalah 17 tahun ke atas. Soal akting, tidak perlu berharap banyak. Tidak jelek, tapi juga jangan mengharapkan kualitas akting setaraf Daniel Day Lewis.  Namun, jika Anda sama sekali tidak pernah memainkan game Mortal Kombat, maka akan bingung dengan sisipan trivia yang ada.

Dari konteks sosial budaya Amerika Serikat, film ini terasa pas dan menampilkan keragaman keturunan Asia dalam sebuah film mainstream.  Terasa unik mendengarkan bahasa Inggris, tapi bukan dengan logat orang kulit putih.  Tidak hanya itu, filmnya terasa relevan dengan pandemi sebab Sub-Zero dan Scorpion patuh protokol kesehatan dengan memakai masker dan menjaga jarak.


Artikel Terkait