Spiral: From the Book of Saw

by Prima Taufik 426 views

Spiral: From the Book of Saw
EDITOR'S RATING    
PEOPLE'S RATING      
Add Your Rating    

Hanya pengulangan formula tanpa sesuatu yang baru

Seorang maniak meneror kepolisian dengan membunuh polisi-polisi yang dianggap korup. Kasus ini sangat mirip dengan yang dilakukan Jigsaw beberapa tahun lalu. Ya, Spiral masih berada dalam semesta Saw yang sudah tamat lewat film kedelapan, Jigsaw. Namun, beredar rumor bahwa setelah Spiral akan ada film kesepuluh Saw yang saat ini baru diberi judul sementara Saw X. Bagi penikmat genre horror slasher dan franchise Saw, tentu ini kabar gembira, tetapi sebelum itu mari kita lihat bagaimana Spiral menuturkan kisahnya.

Bisa dibilang, Spiral sama sekali tidak memberi sesuatu yang baru kepada franchise ini. Bagaimana pun ceritanya diputar-putar, tetap saja yang ditonjolkan adalah penyiksaan korban. Memang harus diakui, inilah yang membuat franchise ini menjadi besar, tetapi setelah jeda beberapa tahun dan memunculkan spin off, setidaknya ada gaya baru yang ditawarkan. Namun, dalam kasus ini, tidak ada. Spiral sama saja seperti menonton semua sekuel setelah Saw pertama, lebih fokus pada penyiksaan dibanding cerita yang solid. Memang ada twist dan sedikit tipuan cerita, tapi bagi yang sering menonton film-film thriller, ceritanya mudah sekali tertebak.


Menggandeng aktor sekaliber Samuel L. Jackson dan Chris Rock, tentu penonton berharap mendapat suasana baru pada franchise ini yang sebelumnya tidak ada. Tapi, selain untuk tujuan diversity, tidak ada yang spesial dari mereka dibanding cast Spiral yang lain. Bahkan, peran Samuel L. Jackson di film ini terasa sia-sia karena tidak membekas. Rock yang ditampilkan suka marah-marah juga memiliki latar belakang karakter yang kurang kuat. Di luar itu para pemeran lain sudah pasti tidak ada peran sama sekali kecuali mati atau sekedar tempelan. Bahkan setelah pelakunya ketahuan tidak memberikan impact yang besar pada penonton.

Bicara tentang alat penyiksaan yang fenomenal di Saw, Spiral juga tidak kejam-kejam amat. Bahkan secara editing, tampaknya mereka sengaja tidak menampilkan penyiksaan secara terlalu eksplisit. Beberapa kali saat penyiksaan berlangsung, adegan dipindahkan ke situasi lain agar penonton tidak terlalu tegang dan menjengit ngeri. Alat-alatnya tidak sebrutal film-film Saw sebelumnya walau tetap membuat mata menyipit saat alat tersebut mempreteli bagian-bagian tubuh manusia.


Karena masih termasuk dalam dunia Saw, ada beberapa elemen dari film lama yang dimasukkan di sini. Foto Jigsaw, musik skoring, dan penyebutan beberapa karakter dari film sebelumnya. Walau tidak banyak setidaknya itu cukup membuat para penggemar Saw terkenang kembali akan masa-masa kejayaan franchise tersebut.

Spiral dimulai dengan terburu-buru dan diakhiri dengan terburu-buru juga. Ingin memberi rasa penasaran pada penonton, tapi alih-alih malah membuat kesal. Penonton seperti disuguhkan kepingan yang tidak lengkap dan cerita dari karakter utama yang tidak utuh. Jika memang franchise ini akan berlanjut, semoga ke depannya penulis Josh Stolberg dan Peter Goldfinger serta produser Oren Koules dan Mark Burg bisa menyajikan sesuatu yang baru, di luar ciri khas mereka yaitu mesin penyiksaan.


Artikel Terkait