No Time To Die: Bond Terdrama Sepanjang Masa

by Prima Taufik 194 views

No Time To Die: Bond Terdrama Sepanjang Masa
EDITOR'S RATING    
PEOPLE'S RATING      
Add Your Rating    

Sebuah penutup bagi Bond era Daniel Craig

No Time To Die akhirnya rilis setelah mengalami penundaan hampir dua tahun. Film James Bond terakhir Daniel Craig ini memiliki durasi yang cukup panjang, 2 jam 43 menit. Paling panjang dari semua film James Bond yang pernah ada. Namun, itu wajar jika melihat nama yang menggawangi film ini, Cary Joji Fukunaga. Sutradara yang terkenal berkat crime drama True Detective ini memang ahlinya meramu cerita drama berbalut aksi. Hasilnya No Time To Die selain menjadi film Bond paling minim aksi juga adalah film Bond paling melankolis yang pernah ada. Bond seperti yang kita belum pernah liat sebelumnya. Tetapi, bagaimanapun hasilnya, No Time To Die berhasil menampilkan perpisahan yang indah untuk mengakhiri "masa bakti" Craig sebagai Bond.

Hal yang jarang diperlihatkan dalam banyak film-film James Bond ataupun film aksi spionase lainnya adalah sisi psikologis sang karakter utama. Kita biasanya hanya diperlihatkan sisi aksinya yang keren, jagoan, dan selalu berhasil. Tapi, kadang penonton lupa kalau si karakter itu juga manusia dan tentu ada sisi lainnya. Fukunaga tampaknya mengambil jalur yang kedua dalam membesut film James Bond ini. Di No Time To Die, kita akan disuguhkan Bond yang telah lelah dengan dunianya dan memutuskan menyendiri. Craig terlihat tua dan lelah di film ini, entah disengaja atau  memang tampilan aslinya karena Craig aslinya sudah berusia 53 tahun sekarang.


Dengan durasi yang lumayan panjang, Fukunaga bersama tim penulisnya, Neal Purvis dan Robert Wade, mencoba menggali sisi lain dari James Bond. Kita akan melihat Bond menemukan cinta, keluarga, bisa merasa kehilangan, dan berani untuk berkorban. Sesuatu yang tidak terpikirkan oleh film James Bond terdahulu. Dengan demikian, dari 2 jam 43 menit yang kita dapatkan, bisa dikatakan sebagian besar film ini bukan didominasi oleh adegan aksi. Lebih banyak dialog dan ekspresi dari para karakter. Ini berlaku juga pada karakter-karakter lain di film ini. Mereka semua tampak lebih punya banyak dialog dari film-film sebelumnya, termasuk para villain.

Tentu bukan film Bond jika tidak ada aksi-aksi keren. Di film ini juga ada, tapi jangan harap ada aksi-aksi spektakuler dan berlebihan. Fukunaga tampaknya menurunkan aksi yang ada di film Bond ke taraf yang lebih realistis. Adegannya pun tidak ada yang panjang, kecuali mungkin di akhir film. Dalam film ini, adegan aksi bisa dibilang pelengkap dan bukan jualan utama. Di saat sudah terlalu banyak dialog, sang sutradara menyelipkan adegan aksi untuk menghilangkan kebosanan sebelum beralih lagi ke adegan drama lainnya. Namun, ia pintar. Adegan-adegan aksi ini disusun tepat sebelum penonton merasakan bosan akan drama di layar sehingga tetap menjaga ritme cerita dengan baik.


Dengan fokus sepenuhnya pada Bond, otomatis karakter lain jadi tempelan, termasuk sang villain. Sebenarnya, Rami Malek punya potensi menjadi villain yang berbahaya dan mematikan di awal-awal film. Ia punya misi khusus dan personal, menjadikannya berbahaya. Tapi, film ini lagi-lagi terjebak dengan motivasi klise para penjahat yang ujung-ujungnya adalah menguasai dunia. Jika ini terjadi, sudah bisa dipastikan si penjahat mati tanpa sempat menjalankan misinya. Pembangunan karakter dari awal untuk menunjukkan betapa berbahayanya Safin menjadi sia-sia. Justru, penjahat sampingan, tapi sering muncul, yang lebih diingat penonton walau perannya cuma untuk baku hantam.

Satu karakter tambahan yang cukup menonjol adalah Paloma, agen CIA baru lulus yang diperankan oleh Ana De Armas. Penampilannya singkat, tapi kecantikan dan aura lugu yang ditampilkan Ana sangat membekas di benak penonton. Bahkan, aksinya yang cuma satu sekuens lebih diingat daripada penampilan Lea Seydoux sepanjang film. Dengan berakhirnya Bond era Craig, sulit rasanya bisa menyaksikan lagi aksi Paloma di film-film Bond berikutnya. 

Secara keseluruhan, No Time To Die masih berada di bawah Skyfall ataupun Spectre dalam segi cerita. Tapi, jika dilihat sebagai penutup James Bond era Daniel Craig, ini adalah film yang sangat bagus.