Selain temanya, banyak aspek dalam film ini yang juga sesat.
Film kedua Falcon Black, setelah Bayi Ajaib, baru saja dirilis dengan mengambil judul Para Betina Pengikut Iblis. Judulnya sendiri sempat mengundang perdebatan beberapa waktu lalu karena penggunaan diksi yang dirasa kurang tepat dalam menggambarkan sosok perempuan. Tapi, penggunaan kata 'betina' di sini bukan tanpa sebab. Selain memang untuk membuat penonton penasaran, kelakuan ketiga karakter utamanya digambarkan biadab bagaikan hewan (meskipun yang satu lagi masih belum diketahui apa kebiadabannya).
Sumi (Mawar Eva de Jongh) tinggal di desa bersama bapak yang sakit. Demi menopang kehidupan mereka untuk sehari-hari, Sumi tergoda buju bujuk-rayu setan untuk berjualan gulai daging manusia. Sementara itu, frustrasi karena adiknya mati dan mayatnya tiba-tiba hilang dari kuburan, Sari (Hanggini) juga kena bujuk rayu setan dan menggunakan kekuatan santetnya untuk meneluh siapa pun orang yang membunuh adiknya. Selain kedua karakter ini, ada Asih Cempaka (Sara Fajira) yang karakternya masih menjadi misteri hingga akhir film.

Salah satu hal yang digadang-gadang dan menjadi materi jualan Para Betina Pengikut Iblis bukanlah misteri apa yang ada di dalam filmnya atau setannya akan seseram apa, melainkan kesadisan yang dihadirkan. Bahkan, rating 21+ yang disematkan LSF menjadi salah satu bentuk materi promosi. Sebuah langkah yang berani dari Falcon Black karena semakin tinggi rating tentunya semakin memangkas jumlah penonton yang bisa menyaksikan film ini di bioskop.
Baru lima menit berjalan, kita sudah diperlihatkan adegan memotong kaki dengan gergaji. Entah menderita penyakit apa yang jelas kondisi kaki ayah Sumi sudah tidak tertolong dan harus diamputasi. Itu baru pembuka karena setelahnya ada adegan mencabik-cabik usus sampai potong kepala. Tapi, semua itu tidak disajikan secara eksplisit. Kita hanya diperlihatkan "hasil akhirnya" saja, sementara saat pembantaian terjadi, kamera akan menyorot ke arah lain. Jadi, kalau pun disebut-sebut bahwa film ini sadis, ya memang benar. Tapi, di satu sisi, menyaksikan Rumah Dara karya Mo Brothers, The Raid karya Gareth Evans, atau Pintu Terlarang karya Joko Anwar lebih memberi efek ngilu daripada Para Betina Pengikut Iblis.

Dari sisi akting, film ini bergantung pada ketiga pemeran utamanya untuk membuktikan bahwa judul di poster memang terbukti benar. Sebagai salah satu aktris muda yang namanya sedang naik daun, Mawar cukup mampu menghadirkan sosok gadis desa yang lugu dan sulit berpikir panjang saat dihadapkan pada solusi sesat yang ditawarkan setan untuk keluar dari kemiskinan. Yang aktingnya terasa mengganggu adalah Hanggini sebagai Sari, si dukun santet. Entah memakai referensi dari mana, semua ekspresi yang dihadirkan Hanggini terasa berlebihan, baik itu marah, takut, puas, sampai bahagia ketika berhasil menghabisi korbannya.
Sara Fajira? Porsinya sangat minim di bagian ini sampai aktingnya mudah dilupakan. Adipati Dolken pun tidak terlihat meyakinkan sebagai iblis yang menggoda manusia. Kostumnya bahkan tidak terlihat seperti jubah, melainkan t-shirt dengan luaran hoodie panjang berbahan kaos. Yang paling menyebalkan, tentu cara tawanya. Tidak menyeramkan, malah mengganggu telinga. Apa maksudnya meniru suara burung kedasih yang sering kita dengar malam-malam? Semoga saja tidak.
Selain itu, dengan setting desa yang tampak terpencil dan mundur ke masa lalu (zaman sebelum kemerdekaan? Zaman pendekar? Zaman kerajaan-kerajaan masih berjaya di Tanah Air?), film ini memasukkan unsur-unsur yang terlalu modern. Tentu saja, yang sudah banyak dibahas di ulasan lain, keberadaan freezer dua pintu di rumah Sumi yang tidak ada listrik, penerangan hanya dari cahaya lampu teplok, dan rumah dari anyaman bambu.

Selain freezer, hal-hal lain yang membuat kita mengerutkan kening masih banyak. Misalnya, patung mini iblis Baphomet yang disembah Sari. Tidak dikisahkan bagaimana Sari bisa menyembah iblis Eropa tersebut. Dengan mantra-mantra berbahasa Jawa, tentunya akan lebih terasa "membumi" kalau iblis yang disembah juga adalah iblis lokal. Penampilan Sari dengan potongan rambut bob dan highlight merah juga terasa salah tempat. Mungkinkah Sari sebenarnya orang kota yang kabur ke desa ini karena sudah melakukan banyak kejahatan dengan menyantet orang?
Belum lagi dengan lokasi kisahnya yang tidak dijelaskan di mana. Saat Mawar bicara, terdengar aksen Sumatera. Sari membaca mantra berbahasa Jawa. Lalu, orang kaya di desa memakai kain lipat di atas kemeja hingga ke dada dan memakai udeng seperti orang Bali. Sungguh, desa ini memperlihatkan suasana Bhinneka Tunggal Ika. Salah satu hal yang paling mengganggu adalah film ini masih bersambung. Kabarnya, Falcon Black sudah merencanakan Para Betina Pengikut Iblis untuk menjadi sebuah trilogi. Hal ini terlihat dari belum tergalinya karakter Asih Cempaka (Sara Fajira). Mungkin, di film kedua, kita akan diperlihatkan persekutuan macam apa yang dilakukan Asih sehingga ia termasuk ke dalam "kelompok betina" ini.
Tapi, seperti halnya Sari yang bebas menyembah iblis mana pun, mau itu Eropa atau lokal sekali pun, begitu juga halnya dengan penonton yang bebas berkomentar bahwa film ini terlalu liar atau berimajinasi terlewat jauh. Tapi, bagi kami, film ini terasa "sesat" dari banyak sisi sehingga sulit dinikmati, bahkan ketika kita sudah menaruh ekspektasi serendah mungkin.
