Karya sastra klasik Prancis kembali hadir di layar lebar
Dalam ranah literatur klasik, The Three Musketeers karya Alexandre Dumas termasuk yang cukup terkenal dan telah mengalami beberapa kali adaptasi, baik dalam bentuk film, serial, hingga animasi. Mencampurkan fiksi dengan sejarah Kerajaan Prancis pada abad ke-17 dan awal ke-18 rupanya disukai banyak orang. Selain menghadirkan situasi di dalam keluarga istana, The Three Musketeers juga menampilkan kisah kepahlawanan dari para pelindung kerajaan, yaitu Athos, Porthos, Aramis, dan D’Artagnan. Kini, di tahun 2023, kisah tersebut muncul lagi dengan judul The Three Musketeers - Part I: D'Artagnan.
Sesuai judulnya, film ini berfokus pada D'Artagnan, seorang pemuda asal Gascony, Prancis, yang bercita-cita menjadi Musketeer. Saat tiba di Paris, ia malah mendapatkan tantangan duel dari tiga musketeer ternama Porthos, Athos, dan Aramis. Namun, sebuah kejadian, membuat keempatnya akhirnya berteman. Pertemanan mereka diuji saat Athos dituduh membunuh seorang wanita. Dalam keadaan mabuk, ia tentu tidak ingat apa yang terjadi dan segera dijatuhi hukuman mati. Ketiga temannya pun harus berjuang mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi sebelum waktu Athos habis. Di tengah-tengah itu, ada sosok Kardinal Richelieu yang ingin menjatuhkan istri Raja Louis XIII, Ratu Anne, dengan segala cara serta perang antara kaum Protestan dan Katolik. Intrik kerajaan dan kisah kepahlawanan para Musketeer pun tumpang-tindih.
Secara cerita, bagi penyuka sastra-sastra klasik karya pengarang dunia, tentunya sudah paham bagaimana kisah Trio Musketeer ini. Bagi yang belum, jangan khawatir karena film ini masih tetap enak untuk diikuti. Memang, nama The Three Musketeers meski cukup dikenal seantero dunia, tapi bagaimana kisahnya, bisa jadi tidak banyak yang ingat. Dengan memecah film menjadi dua bagian, bagian pertama ini berfokus pada D'Artagnan dan kedatangannya ke kota Paris hingga diangkat menjadi anggota penjaga kerajaan. Bisa dibilang, dengan judul yang menitikberatkan pada satu tokoh saja, Porthos, Athos, dan Aramis jadi terasa dikesampingkan. Athos mungkin masih cukup punya peran, namun Porthos dan Aramis yang seakan hanya menjadi bayang-bayang di belakang.
.jpg )
Untuk lebih memahami gejolak politik apa yang sebenarnya terjadi pada era tersebut, disarankan untuk membaca Wikipedia terkait Louis XIII, Ratu Anne of France, Kardinal Richelieu, dan perang antara kaum Protestan dengan Katolik yang membuat Eropa pada masa itu terpecah-belah oleh agama. Jadi, setidaknya saat menonton film ini, kita sudah mendapat gambaran seperti apa sosok yang diangkat. Seperti halnya Titanic milik James Cameron, film ini merupakan fiksi dengan latar belakang sejarah. Jadi, ada karakter yang memang benar-benar ada, tapi ada pula yang hanya melengkapi cerita.
Salah satu hal yang terasa aneh adalah musiknya. Di beberapa bagian, ada musik yang terasa The Dark Knight Rises. Tidak banyak memang, tapi terasa menonjol. Untunglah, hal ini tidak sampai mengganggu film ini yang masih memiliki sisi menariknya. Bagian keduanya sendiri direncanakan rilis pada 13 Desember 2023 dan akan menjadi babak penutup dwilogi ini. Semoga tayang juga di Indonesia.
