Usaha Bob Marley mendamaikan Jamaika di ambang perang saudara
Sebagai salah satu tokoh ternama dunia yang meleganda, pembuatan biopik Bob Marley tentulah tinggal menunggu waktu. Kingsley Ben-Adir akhirnya terpilih memerankan musisi reggae terbesar sepanjang masa ini setelah pencarian yang panjang dan melelahkan. Lashana Lynch (Captain Marvel) pun didapuk memerankan Rita Marley, istri mendiang Bob Marley. Rita dan Ziggy Marley, anaknya, sendiri ikut turun menjadi produser untuk film ini. Kisahnya sendiri bukan berfokus pada penciptaan lagu-lagu Bob Marley yang sudah mendunia, tapi mengambil satu momen konser dan pembuatan album Exodus.
Tahun 1976, situasi politik di Jamaika sedang memanas akibat konflik antara dua kubu partai politik menjelang pemilihan umum. Situasi ini membuat Jamaika berada di ambang perang saudara dengan kekerasan terjadi di mana-mana. Bukannya takut, Bob Marley memutuskan membuat konser untuk mendamaikan dua kubu ini. Setelah lolos dari penembakan terhadap dirinya dan sang istri, Marley memutuskan mengirim Rita dan anak-anak mereka ke Amerika, sementara ia dan bandnya pergi ke London.
Di London, Marley dan The Wailers tidak hanya duduk santai, tapi menyusun konsep konser dan menyiapkan album baru. Album Exodus yang mereka ciptakan meledak di mana-mana, membawa Marley dan teman-temannya tur keliling Eropa, bahkan Amerika. Tapi, hanya satu yang Marley inginkan di tengah-tengah namanya yang harum di berbagai belahan dunia itu: kembali ke Jamaika dan konser di sana.

Jika biopik Queen, Whitney Houston, dan Elvis bercerita tentang lika-liku para musisi ini menciptakan lagu-lagu hits mereka diseling dengan kisah hidup, maka Bob Marley: One Love mengambil pendekatan yang berbeda. Garapan Reinaldo Marcus Green ini berfokus pada beberapa momen besar dalam hidup Marley: konser perdamaiannya di Jamaika, pembuatan album Exodus, dan kepopulerannya yang meningkat di seluruh dunia. Jadi, kita tidak akan tahu bagaimana lagu populer, seperti "No Woman, No Cry", diciptakan. Memang, alur penceritaannya tidak salah. Namun, minimnya lagu yang mendunia di film ini, membuat penonton yang tidak begitu mengenal Bob Marley jadi tidak bisa mengikuti kisahnya atau ikut bernyanyi bersama. Namun, bagi mereka yang memang fans musisi rasta ini dan tahu sepak-terjang beliau, dijamin bisa menonton dengan nikmat sambil ikut menyanyikan lagu-lagu Marley yang mengiringi adegan-adegan dalam film.
Satu hal yang sebenarnya agak disayangkan dari film biopik Bob Marley ini adalah semi-glorifikasi yang dihadirkan. Sosok Bob Marley di sini diperlihatkan sebagai musisi yang cinta damai, punya mimpi besar untuk membuat konser demi menyatukan dua kubu politik di Jamaika, dan memikirkan keluarga. Tapi, manusia tidak ada yang sempurna. Marley juga pastinya punya sisi gelap dalam hidupnya sebagai seorang musisi, tapi itu tidak diangkat di sini. Kita hanya tahu bahwa ada anak yang ia rawat bersama Rita bukan berasal dari istrinya tersebut. Lalu, bagaimana dengan musik Marley yang selalu diasosiasikan dengan ganja? Itu juga sama sekali tidak disinggung-singgung di sini.

Meski cerita berjalan nyaris tanpa konflik, tapi dua pemeran sentralnya, Ben-Adir dan Lynch, tampil dengan akting yang memukau, terutama Ben-adir sebagai Marley. Usahanya untuk meniru gerak-gerik, cara bicara, hingga gaya bernyanyinya patut diacungi jempol. Bagi Generasi Milenial atau Gen Z yang tidak begitu mengenal Marley, menyaksikan Ben-Adir di layar lebar bagai melihat sosok musisi reggae ini kembali hidup.
Sebagai sebuah biopik yang mengangkat beberapa momen besar dalam hidup Bob Marley, One Love cukup berhasil. Para penggemar Marley mungkin akan terharu melihat idolanya bagai hidup lagi di layar lebar. Namun, bagi generasi sekarang, One Love hanya salah satu film biopik tentang musisi yang tidak pernah mereka kenal.
