Seperti nonton drama action stasiun TV lokal
Sudah cukup banyak tontonan produksi Korsel, baik itu format layar lebar atau series, yang kisahnya diangkat dari webtoon dan sukses besar di pasaran. Sebut saja film Along with The Gods (2017) dengan 14 juta lebih penonton, dan sekuelnya (2018) yang mencatat rekor 1.2 juta penonton di opening day. Ada juga series OTT yang sukses merajai algoritma sekaligus menyabet banyak penghargaan seperti Lovely Runner (Netflix), Moving (DisneyPlus), dan Weak Hero (Wavve & Netflix).
Tahun ini, Omniscient Reader: The Prophecy jadi film adaptasi webtoon produksi besar yang diharapkan mampu merajai box office di musim panas 2025. Pemeran berwajah rupawan dan super kondang seperti Lee Min Ho, Ahn Hyo Seop, sampai idol-aktris Nana After School dan Jisoo Blackpink masuk ke dalam jajaran cast. Biaya $21 juta pun digelontorkan untuk ongkos produksi. Tak lupa, efek CGI yang spektakuler digadang-gadang menjadi daya tarik utama film ini. Sayangnya, begitu trailer dirilis, banyak calon penonton yang kecewa. Terutama dari pihak pembaca setia webtoon karena secara visual, film ini terlihat banyak kurangnya. Namun setelah rilis, apakah Omniscient Reader memang seburuk itu dalam mengadaptasi versi webtoon-nya?
Kim Dok Ja (Ahn Hyo Seop), seorang pekerja kantoran, tiba-tiba masuk ke dunia webtoon berjudul ‘Three Ways to Survive in a Ruined World’. Dok Ja adalah satu-satunya pembaca yang bertahan mengikuti jalan cerita selama 10 tahun hingga kisah webtoon itu tamat. Namun, karena kecewa dengan chapter terakhir, ia mengirim pesan ke sang penulis sambil mencurahkan kekecewaannya terhadap keputusan yang diambil Yoo Joong Hyuk (Lee Min Ho), sang karakter utama.
Tak disangka, pesannya dibalas. Dok Ja ditantang oleh penulis webtoon untuk mengubah ending cerita sesuai dengan apa yang ia mau. Dalam sekejap, hidup Dok Ja berubah karena tiba-tiba ia masuk ke dalam cerita, satu-persatu karakter dalam webtoon muncul di hadapannya. Ada Lee Hyun Sung (Shin Seung Ho) si tentara dengan tinju super kuat tapi punya trauma pascaperang, Jung Hee Won (Nana) perempuan badass yang ingin balas dendam karena mengalami pelecehan, dan Lee Ji Hye (Kim Jisoo) anak SMA berhati dingin yang jago menembak. Tidak cuma itu, Yoo Sang Ah (Chae Soo Bin), teman satu kantor Dok Ja juga ikut masuk ke dunia webtoon bersama anak kecil Lee Gil Young (Kwon Eun Seong) yang ternyata punya kekuatan luar biasa. Bersama, mereka bertarung melawan monster di tiap chapter menggunakan berbagai strategi yang dipahami Dok Ja, agar semua bisa selamat hingga bab terakhir.

Ide mengangkat webtoon terkenal ke format film layar lebar memang sungguh tricky. Apalagi jika mengusung genre action fantasy. Komunitas penggemar webtoon jelas sudah memiliki fanbase yang besar. Konsep dan alur yang tergambar secara visual juga sudah terbayang jelas di dalam imajinasi tiap pembaca. Begitu format film menunjukkan kesalahan kecil atau ketidaksesuaian, jangan heran jika banyak yang ngamuk. Aksi boikot bisa dilakukan, contohnya bisa dilihat di film lokal kita yang belum lama ini tayang, The Business Proposal.
Untuk film luar, Omniscient Reader dianggap adaptasi yang gagal. Kim Byung Woo sebagai sutradara sekaligus penulis naskah tidak berhasil mengolah alur apik webtoon-nya menjadi film yang menegangkan. Semua digarap serba nanggung sehingga keseluruhan film terasa biasa saja. Mulai dari teknik pengambilan gambar yang terlalu fokus pada close up berulang ke wajah para pemeran, tampilan karakter ikonik Dokkaebi yang jauh dari versi webtoon, jenis senjata yang digunakan untuk berperang, hingga wujud para monster yang tidak seperti film mahal.

Jika konsep film ini ingin digambarkan seperti karakter dalam game, yang terkadang gerakannya kaku plus ekspresi nyaris flat dari hampir seluruh karakter, berarti Kim Byung Woo berhasil menuangkan idenya dengan gemilang. Akan tetapi, jika ini ditujukan sebagai film adaptasi live-action, sungguh akting para pemeran kurang diarahkan dengan baik. Aura hero yang dimunculkan Lee Min Ho tidak lebih dari sekadar fan service aktor tampan dengan jubah panjang dan pedang. Ekspresi Ahn Hyo Seop saat melawan final boss paling mengerikan juga sangat minim, tidak terlihat effort besar dalam bertarung demi hidup dan mati semua makhluk Bumi.
Dari departemen teknis, kualitas CGI di Omniscient Reader tidak meninggalkan kesan mendalam atau mendebarkan begitu film selesai. Banyak adegan yang terasa sekali digarap di dalam studio. Wujud para monster dan senjata yang digunakan juga masih terlihat kasar, sehingga saat karakter protagonis berhadapan melawan monster, rasanya seperti melihat dua film yang berbeda. Mowg sebagai komposer music score juga kurang mampu mengangkat adegan lewat iringan musiknya yang biasanya ikonik seperti dalam I Saw the Devil atau Masquerade.

Overall, bagus atau tidaknya film Omniscient Reader ini memang tergantung masing-masing penonton. Jika dinikmati secara santai sebagai film action fantasy yang dibintangi aktor dan aktris Kosel, tentu ini akan menyenangkan dan sangat menghibur. Akan tetapi, jika ingin dinikmati secara mendalam terlebih oleh para pengikut setia webtoon, jelas film ini akan menjadi bahan perbincangan seru karena banyak hal mengganjal untuk dibahas.