28 Years Later: The Bone Temple - Penuh Jumpscare, tapi Tidak Menakutkan

by Redaksi

28 Years Later: The Bone Temple - Penuh Jumpscare, tapi Tidak Menakutkan
EDITOR'S RATING    

Film zombie yang tidak ada seram-seramnya

Setelah Juni kemarin kita disuguhkan 28 Years Later, hanya berselang enam bulan kemudian, dirilislah 28 Years Later: The Bone Temple. Kali ini, Nia DaCosta (The Marvels) yang duduk sebagai sutradara, menggantikan Danny Boyle di film sebelumnya. The Bone Temple sendiri direncanakan sebagai bagian kedua dari trilogi 28 Years Later

Film ini dibuka dengan tempo yang sangat cepat, langsung menarik penonton masuk ke dalam kelanjutan cerita yang mengambil setting tak lama setelah peristiwa di film pertamanya. Sejak menit awal, atmosfer ketegangan dibangun melalui rentetan jumpscare dan kekerasan yang intens, seolah ingin memastikan bahwa penonton tidak memiliki waktu untuk sekadar menghela napas. Transisi ini terasa cukup mulus dalam menghubungkan benang merah cerita dari seri sebelumnya.

Fokus narasi kemudian berlanjut kepada Spike (Alfie Williams). Pertemuannya dengan geng Jimmy di akhir film pertama menjadi titik balik cerita karena penonton disuguhkan sisi gelap manusia yang lebih mengerikan daripada ancaman eksternal. Geng Jimmy digambarkan sebagai kelompok maniak yang tidak segan menggunakan kekerasan ekstrem yang kemudian menggeser poros cerita sepenuhnya ke arah dinamika internal kelompok tersebut.


Sangat disayangkan, memasuki pertengahan film, ritme yang awalnya eksplosif justru melambat secara drastis. Aksi-aksi memukau yang menghiasi babak pertama seolah menghilang tanpa jejak. Penurunan pace ini membuat alur terasa sedikit menjemukan karena fokus cerita yang tadinya tentang bertahan hidup di tengah kepungan zombi, malah melebar ke arah konflik internal geng yang terasa kurang krusial bagi perkembangan plot utama. Apalagi, karakter Dr. Ian yang diperankan Ralph Fiennes walau krusial, tapi tidak banyak muncul. Saat muncul pun tidak intens.

Dari sisi produksi, keterbatasan anggaran sangat terasa di beberapa bagian. Alih-alih menyajikan adegan aksi kolosal yang seharusnya menjadi klimaks, sutradara tampaknya lebih memilih jalan pintas dengan menggunakan jumpscare berulang untuk mengejutkan penonton. Beberapa adegan aksi, hanya dilihat awalnya lalu di-cut ke hasilnya. Terasa tanggung dan tidak seru. Hal ini membuat film  sedikit kehilangan arah dan kurang memberikan kepuasan visual bagi mereka yang mengharapkan intensitas horor bertahan hidup yang nyata.

Sebagai penutup, film ini memang menghadirkan kejutan melalui cameo besar di bagian akhir yang cukup tak terduga. Namun, kehadiran sosok ikonik tersebut sayangnya belum mampu mengangkat beban kualitas film secara keseluruhan yang sudah terlanjur goyah di pertengahan. 28 Years Later: The Bone Temple mungkin masih bisa dinikmati sebagai tontonan ringan, meski gagal menyamai standar pendahulunya dalam membangun ketegangan yang konsisten.