Frankenstein mendapatkan pasangan yang sepadan, tapi lebih gila
Di dunia literatur terkait monster, salah satu yang klasik dan akan selalu diingat orang adalah Frankenstein karya Mary Shelley. Diterbitkan pada 1 Januari 1818, kisah tentang makhluk ciptaan Victor Frankenstein ini masih terus hidup hingga sekarang dan sudah berkali-kali diadaptasi ke dalam media dengan cerita yang kerap berubah dari sumber aslinya. Bagi yang mengikuti kisah Frankenstein ini, tentu tahu bahwa Si Makhluk tidak sendirian. Ia memiliki pasangan yang disebutnya The Bride, diciptakan sama seperti dirinya: berasal dari bagian tubuh manusia yang berbeda dan dibangkitkan dengan listrik. Terinspirasi dari film The Bride of Frankenstein (1935), hadirlah The Bride! Jejeran pemainnya pun cukup bersinar, seperti Jessie Buckley, Christian Bale, Peter Sarsgaard, Annette Bening, Jake Gyllenhaal, dan Penélope Cruz.
Dokter Euphronious kedatangan seseorang bernama Frankenstein. Ternyata, dia adalah makhluk ciptaan Victor Frankenstein yang dibuat dengan menyatukan berbagai bagian tubuh dari manusia berbeda dan dihidupkan lagi. Frank menemui dr. Euphronious demi satu tujuan: mencari sesuatu yang bisa mengisi kekosongan hidupnya dari segi faktor hubungan intim. Sempat menolak, dr. Euphronious akhirnya menolong Frankenstein dengan metode yang sedikit berbeda, yaitu menggali kuburan baru dan menghidupkan lagi satu mayat utuh, ketimbang harus menyambung-nyambung bagian tubuh. Pada akhirnya, terciptalah The Bride. Namun, pemikiran The Bride sendiri memang sudah berbeda dari sebelum mati sehingga bukannya hidup bagaikan pasangan normal, Frankenstein dan The Bride malah melakukan banyak hal yang pada akhirnya memicu revolusi besar-besaran bagi wanita.
The Bride! bisa dibilang menghadirkan pengalaman sinematik yang tidak biasa, khususnya untuk film yang mengangkat kisah Frankenstein. Jika selama ini, kisah-kisah sejenis berfokus pada kekejaman monsternya dan dampak negatif pada lingkungan sekitar. Namun, The Bride! menyajikan situasi yang sedikit berbeda. Film ini menyuguhkan Frankenstein sebagai makhluk yang juga punya perasaan, terutama kesepian, dan mencari pasangan untuk mengisi hal itu. Pasangan yang ia dapat pun bukan sekadar monster tanpa jiwa, tapi wanita cerdas yang carefree dan berani mendobrak tantangan. Sifat ini pun pada akhirnya berpengaruh kepada Frankenstein sendiri yang mulai berani muncul ke publik meski tetap ada kekhawatiran akan diserang banyak orang dan dihujat sebagai monster.

Meski terinspirasi dari film klasik The Bride of Frankenstein, namun Maggie Gyllenhaal selaku sutradara dan penulis naskah melakukan pendekatan yang sedikit berbeda dalam The Bride! Memakai tanda seru (!) di judul seakan menjadi penegas bahwa karakter The Bride ini bukan hanya sekadar sosok yang diciptakan untuk melengkapi Frankenstein dan berdiri di belakangnya. Tapi, ia adalah individu mandiri yang punya pemikiran, keinginan, pilihan, dan suara sendiri. Ia bukan sosok yang hanya sekadar melengkapi hidup Frankenstein, tapi ia menuntunnya ke dunia yang belum pernah dilihat dan dicoba Frankenstein sama sekali.
Tidak hanya berfokus pada Frankenstein dan The Bride, ada pula dua detektif: Mirna Mallow dan Jake Wiles yang menelusuri jejak kedua karakter utama. Mereka yakin bahwa killing spree yang dilakukan dua makhluk ini ada hubungannya dengan lokasi tempat pemutaran film-film Ronnie Reed yang diidolai Frank. Mallow (yang diperankan Penélope Cruz) juga menjadi gambaran bahwa wanita pada saat itu tidak mendapatkan hak bicara seperti laki-laki dan malah dianggap remeh jika turun langsung dalam menyelidiki sebuah kasus. Situasi inilah yang nantinya membawa Mallow bersimpati kepada The Bride, terlepas dari berbagai pembunuhan yang terjadi di dekatnya.
Meski akan menambah pengalaman kita dalam khazanah film monster, tapi harus diakui bahwa The Bride! bukanlah film untuk semua kalangan. Yang suka film-film monster ringan, mungkin kurang suka karena kisahnya yang minim aksi, tapi sarat kritik sosial dan menitikberatkan pada The Bride alih-alih Frankenstein-nya sendiri. Namun, jika kita berpikiran terbuka dan senang menonton adaptasi unik dari tema-tema yang sudah sering diangkat ke layar lebar, The Bride! jelas bisa menjadi pilihan. Bayangkan saja: Bonnie and Clyde, tapi selipkan dunia Frankenstein ke dalamnya.
