Number One: Kuatnya Cinta Anak dan Ibu dalam Seporsi Hidangan

by Redaksi

Number One: Kuatnya Cinta Anak dan Ibu dalam Seporsi Hidangan
EDITOR'S RATING    

Kapan terakhir kali kamu makan masakan ibu?

Soal film drama yang mengangkat cerita hubungan orang tua dan anak, bisa dibilang Korea Selatan jagonya. Dari ide cerita yang sederhana, berbagai plot bisa dibangun. Begitu film selesai, rata-rata meninggalkan kesan yang sama: hangat di hati, namun juga ada rasa haru yang membekas. Sebut saja Wedding Dress (2010), Miracle in Cell No.7 (2013), sampai Broker (2022). Tahun ini, hadir Number One dengan premis tak biasa. Digarap oleh sutradara Kim Tae Yong setelah hiatus 10 tahun, film ini menampilkan Choi Woo Shik sebagai pemeran utama sekaligus ajang reuni keduanya setelah bekerja sama di film fenomenal Set Me Free (2014).

Sejak rilis poster dan trailer, jalan cerita Number One seakan sudah diberitahu di awal. Ha Min (Choi Woo Shik) yang masih duduk di bangku SMA mendadak melihat ‘penampakan’ angka setiap makan di rumah. Awalnya, dia bingung. Namun karena angkanya terus berkurang setiap Ha Min makan masakan sang ibu (Jang Hye Jin), dia pun tahu ibunya akan meninggal begitu angkanya mencapai 0. Dengan berbagai cara, Ha Min berusaha menghindar dari masakan ibunya sendiri. Sikap aneh ini membuat sang pacar Ryo Eun (Gong Seung Yeon) ikut bingung. Di saat Ha Min dewasa dan sudah bekerja, satu kenyataan menghantamnya, membuat ia harus kembali bertemu sang ibu.

Ada tiga daya tarik dari film Number One. Pertama, chemistry Choi Woo Shik dan Jang Hye Jin. Keduanya kembali bertemu sebagai ibu dan anak setelah film peraih banyak penghargaan Parasite (2019). Bedanya, relationship di Number One ini jauh lebih ceplas-ceplos, ceria, dan menggemaskan. Woo Shik sangat bisa berperan sebagai anak bungsu yang manja dan dekat dengan ibunya. Sementara, Jang Hye Jin hadir sebagai ibu yang tangguh, penuh tawa, namun sebenarnya menyimpan luka yang dalam.


Daya tarik kedua dari film ini adalah dialek Busan yang kental. Hampir 90% setting film ini ada di daerah Busan sehingga dialog yang dilontarkan tiap karakter terasa ringan. Adegan sedih dan emosional pun jadi tidak terdengar mendayu-dayu seperti film Korea pada umumnya. Latar ini juga membentuk character building dua tokoh utama lebih tough dalam menghadapi takdir hidup yang tidak biasa.

Daya tarik ketiga dan paling utama dari film ini adalah banyaknya hidangan Korea yang ditampilkan. Kita semua pasti punya menu favorit yang terasa paling sedap jika ibu sendiri yang memasak. Persoalan ‘masakan ibu’ ini jadi benang merah yang kuat dari awal hingga akhir film. Mulai dari suara bahan masakan dipotong hingga saat proses memasak dan penyajian. Semua dibuat menarik dan terasa sekali ‘rumah’-nya. Kita juga diajak memahami, masakan yang awalnya dihindari, lama-lama bisa dinikmati dengan suka cita karena apa pun yang dibuat ibu bisa jadi obat lelah dan penyembuh badan yang sakit.


Number One bisa dibilang memiliki alur cerita tak biasa, berbeda dengan film genre drama keluarga lainnya. Meski premisnya terkesan bisa ditebak, film ini mampu menyuguhkan pesan yang baik dan menyentuh tanpa harus banyak menguras air mata. Twist yang dihadirkan di tengah film sukses membalik alur yang sudah terbayang di awal. Sementara, akhir yang tak terduga membuat kita merasakan pengalaman baru dari film dengan genre serupa.

Untuk yang ingin menonton film dengan alur cerita hangat dan ringan dengan twist menarik, Number One patut dijajal. Tidak cuma menyuguhkan kisah ibu-anak yang indah, pesan yang disampaikan juga bisa menyentuh semua golongan. Seperti Ha Min, dalam menjalani hidup kita juga harus melawan ketakutan dan berani mengambil keputusan. Siapa tahu, keputusan yang kita ambil bisa mengubah takdir diri sendiri, keluarga, dan orang sekitar. 


Artikel Terkait