Lee Cronin's The Mummy: Lupakan Kisah Mumi yang Fun, Ini Lebih Berdarah dan Disturbing

by Redaksi

Lee Cronin's The Mummy: Lupakan Kisah Mumi yang Fun, Ini Lebih Berdarah dan Disturbing
EDITOR'S RATING    

Siap untuk trauma setelah menontonnya?

Franchise The Mummy bisa dibilang salah satu waralaba terbesar di tahun 1999 hingga 2000-an. Film pertama dan keduanya sukses besar, sementara perubahan pemain di film ketiga membuat kualitasnya menurun meskipun pendapat box office-nya masih memuaskan. Setelah itu, ada lagi film tentang mumi lain yang dibintangi Tom Cruise. Diniatkan sebagai babak awal dari Monster Universe yang dikembangkan Universal Pictures, sayangnya The Mummy versi 2017 ini tidak bisa berbicara banyak di box office dan mendapat review buruk dari para kritikus dan pencinta film. Kini, sebelum bagian keempat dari The Mummy dengan pemeran Brendan Fraser tayang 2028 mendatang, kita kembali mendapat "serangan" mumi lagi. Kali ini, lahir dari tangan dingin Lee Cronin.     

Charlie Cannon, seorang jurnalis, bertugas di Mesir dan membawa serta keluarganya: Larissa, istrinya, dan dua anak mereka Katie serta Seb. Malangnya, Katie diculik dan menghilang hingga delapan tahun. Saat mendapat kabar bahwa putri mereka ditemukan, Charlie dan Larissa pun segera kembali ke Mesir untuk menjemputnya. Namun, yang mereka temukan adalah Katie dalam keadaan statik, kuku panjang, kulit keriput, dan tidak bisa berbicara. Percaya bahwa perhatian dari keluarga adalah cara terbaik untuk menyembuhkannya, Charlie dan Larissa pun membawa Katie pulang. Sejak itu, situasi rumah mulai berubah dan makin lama makin mengancam jiwa satu per satu penghuninya. Apa yang terjadi pada Katie?

Menyerahkan The Mummy kepada Lee Cronin untuk digarap dengan pendekatan yang segar memang pilihan yang tepat. Dengan filmografinya sebelum ini yang sukses me-reimajinasi Evil Dead Rise, Cronin berhasil menyajikan The Mummy yang jauh berbeda dari film-film modern yang selama ini kita kenal. Lupakan aksi-komedi ala The Mummy Stephen Sommers atau aksi-petualangan seperti versi Tom Cruise karena Cronin menjadikan ini horor murni, lengkap dengan elemen-elemen darah dan menjijikkan yang membuat film ini lebih cocok disaksikan penonton dewasa. Kalau suka dengan Evil Dead Rise (2023), maka bersiaplah untuk merasakan sensasi yang sama seperti menonton film tersebut. 


Sebenarnya, apa yang disajikan dalam Lee Cronin's The Mummy, bisa dibilang adalah plot yang umum dipakai di film tentang kerasukan (possession) ketika salah satu anggota keluarga dirasuki dan meneror keluarga lainnya. Namun, tentu saja yang terasa berbeda karena ini adalah entitas yang terasosiasi dengan budaya tertentu. Jika selama ini umumnya film-film kerasukan diangkat dari sudut pandang agama tertentu dan bisa diselesaikan dengan doa, Cronin menaikkan levelnya dengan menghadirkan mumi yang berasal dari Mesir dan tidak diketahui bagaimana cara melawannya. Jadi, dari mana membuat penontonnya sudah tahu akan seperti apa akhirnya, Cronin lebih suka menghadirkan kengerian sambil membawa kita menebak-nebak, akan seperti apa ending film ini?

Film horor pun akan lebih terasa kengeriannya jika plotnya tidak tertutupi oleh nama besar para pemainnya. Karena itu, seperti halnya Evil Dead Rise, Lee Cronin's The Mummy ini pun juga memakai aktor-aktris biasa sehingga kenikmatan menontonnya jadi lebih terasa, tanpa harus teralihkan oleh aura bintang pemerannya. 

Meski mungkin ada sedikit pertanyaan yang masih tersisa saat lampu bioskop menyala, namun tidak pelak lagi Lee Cronin's The Mummy adalah salah satu film horor terbaik perihal mumi yang pernah ada. Siap-siap ngeri, meringis ngilu, bahkan berteriak saat menontonnya. Bukti sahih bahwa menyatukan dua hal berbeda dalam film horor, ternyata bisa jadi hal yang menyegarkan.