Ketika dinosaurus dipanah dengan panah mainan
The End of Oak Street datang dengan premis yang sebenarnya sangat menggoda: bagaimana jika sebuah kompleks perumahan tiba-tiba berpindah ke masa 200 juta tahun lalu, ketika Bumi masih dikuasai dinosaurus? Tentu saja, kepanikan langsung terjadi. Warga yang tadinya hanya sibuk dengan masalah kehidupan sehari-hari kini harus berhadapan dengan predator purba yang siap menjadikan mereka santapan. Premisnya sederhana, liar, dan punya potensi besar untuk menjadi tontonan survival yang seru.
Seperti yang sering dilakukan rumah produksi milik J.J. Abrams, Bad Robot, kekuatan utama film ini memang terletak pada premisnya. Sayang, seperti beberapa karya mereka lainnya, film ini kembali menyimpan pertanyaan besar mengenai apa yang menyebabkan kejadian tersebut? Misterinya justru terasa seperti sengaja dibiarkan menggantung tanpa penjelasan yang memuaskan. Padahal, sedikit informasi mengenai penyebab perpindahan waktu tersebut bisa membuat dunia filmnya terasa jauh lebih menarik dan memberikan fondasi yang lebih kuat untuk cerita selanjutnya.
Untungnya, ketika sudah masuk ke bagian survival, The End of Oak Street cukup berhasil memberikan keseruan. Adegan kejar-kejaran dan aksi petak-umpet dengan dinosaurus menjadi bagian paling menghibur. Ada beberapa momen yang benar-benar membuat tegang karena para karakter harus bersembunyi dan mencari cara untuk bertahan hidup dari makhluk yang jelas berada di puncak rantai makanan. Tapi, masalahnya, film ini seperti sengaja membuat sebagian besar karakternya bodoh dan tidak punya sense of survival. Banyak kejadian terjadi bukan karena dinosaurus yang terlalu pintar, tetapi karena manusianya terlalu dungu. Kadang rasanya bukan sedang menonton manusia bertahan hidup, tapi sedang menunggu siapa yang melakukan keputusan paling bodoh berikutnya.

Masalah tersebut semakin terasa karena kualitas akting para pemainnya juga tidak terlalu membantu. Memang, film survival dengan dinosaurus seperti ini bukan tipe film yang menuntut performa akting kelas Oscar. Namun, The End of Oak Street justru memiliki beberapa penampilan yang terasa sangat kaku dan tidak meyakinkan. Christian Convery menjadi salah satu yang paling menonjol, sayangnya dalam arti negatif. Karakternya sudah ditulis cukup dungu dan performanya membuat karakter tersebut semakin sulit untuk disukai atau dipercaya ketika berada dalam situasi berbahaya. Akibatnya, beberapa adegan emosional yang seharusnya terasa menegangkan malah berakhir dengan membuat penonton geleng-geleng kepala.
Pada akhirnya, The End of Oak Street adalah film dengan konsep yang jauh lebih menarik daripada eksekusinya. Film ini tetap menyenangkan kalau tujuan kita menontonnya sederhana: melihat manusia panik, berlari, bersembunyi, dan diburu dinosaurus. Tetapi di luar keseruannya, terlalu banyak potensi yang tidak dimanfaatkan, mulai dari misteri perpindahan waktu hingga pengembangan karakter. Rasanya kecil kemungkinan film ini mendapatkan sekuel, dan kalau pola seperti ini terus berulang, Bad Robot dan J.J. Abrams mungkin harus menunggu lebih lama lagi untuk mendapatkan “panggilan” berikutnya. Premis menarik saja tidak cukup—yang dibutuhkan sekarang adalah eksekusi yang sebanding dengan ide gilanya.
