Review: Warm Bodies

by Joedi Dance

Review: Warm Bodies
EDITOR'S RATING    

Sehangat cerita cinta Rohmin dan Juleha


 

"This Zombie is getting warm"

Hollywood  memang sedang larut di dalam demam post-apocalypse of zombie invasion. Bukan hal yang aneh, karena toh genre ini memang sudah ada sejak lama, tapi film zombie kini berada di puncak ketenaran. Toh, kalau mau dipikir-pikir lagi, sudut pandang dari film-film ini selalu ada di pihak para manusia, the mortal who really trying to survive. Para the undead alias zombie selalu menjadi pihak antagonis yang hanya menginginkan daging segar kita semua. Dan kini, Warm Bodies mengambil sudut pandang para zombie, yang jatuh cinta kepada manusia. And I was thinking “Oh, here comes the Twilight’s legacy all over again.”

R (Hoult) adalah seekor (apa seorang ya? Ah sudahlah!) zombie dimana bumi sudah lebih banyak dipenuhi oleh para pemakan daging bau ini. R merasa dirinya berbeda, karena dia masih merasa seperti manusia di dalam pikirannya, walau dia tidak bisa menolak hidangan berupa manusia hidup, lebih disukai yg berlari-lari ketakutan. Terutama bagian otaknya, the yummiest part, karena dengan memakan bagian tubuh ini, R bisa mengetahui memori dan pikiran sang pemilik otak, membuatnya merasa seperti manusia walau hanya sejenak. Dalam sebuah perburuan makan malam, R lalu bertemu dengan Julie (Palmer).


 

Disanalah, dia merasakan hal yang tidak lazim dialami para zombie: Love at first sight. Dan ternyata, hati R mulai berdenyut kembali setelah sekian lama statis. Dengan segera dia menyelamatkan Julie dan membawanya pulang. Namun, ada The Boneys, sebuah zombie form yang mengerikan, yang tidak berperikemanusiaan, mencium keberadaan Julie dan menginginkan mereka berdua. Maka, R harus menyelamatkan Julie dari kejaran The Boneys, sekaligus merasakan dirinya seolah-olah kembali menjadi  manusia normal. Berhasilkah R menyelamatkan Julie? Akankah R bisa menjadi seperti manusia normal lainnya?

First thing first, sejak awal saya mendengar tentang pembuatan film ini, saya ada di pihak yang rajin mencemooh di media twitter. Saya mengerti, Summit memang sedang gencar-gencarnya mencari franchise baru untuk menggantikan Twilight Saga dan mengisi pundi-pundi uang mereka, but come on! Zombie dan manusia? Pertama, mereka itu ‘mati’ lho! Memang, vampire juga ‘mati’ tapi vampire berada dalam keadaan yang tubuh yang masih bagus dan keren (plus bling-bling)! Vampire always good looking, while zombie, bentuknya tidak karuan tidak menarik untuk dilihat, in a hot way (!). Never. Kedua : zombie itu bauuuu (pengalaman pribadi)! Just imagining a zombie kissing me (walo mungkin berakhir dengan bibir saya yang jadi kudapan mereka, sesuatu yang lebih masuk akal jika dipikir-pikir), and I feel like want to biting my lips hard, just to make sure the lips warm, save, and kissable.

And really, semua kekonyolan yang bisa saya pikirkan ketika baru mendengar tema ceritanya saja justru membuat saya harus menjilat ludah saya sendiri (atau dalam hal ini, saya harus menghapus semua twit saya yang mengolok-olok film ini). Karena filmnya ternyata bagus, and even much more better than Twilight Saga.

Levine, yang sudah dikenal lewat 50:50 berhasil menghidupkan cerita ini, tanpa harus merasa membuatnya menjadi terlalu berlebihan. Diangkat dari novel karangan Isaac Marion berjudul sama, Levine yang juga menulis skenarionya memberikan sentuhan angin segar di genre zombie, sebuah kisah romantic comedy yang dicampur dengan tema horor. Sweet, simple, but heart warming. Walau mungkin dari sisi komedi dan kontinuitas cerita masih kalah dari Zombieland ataupun Shaun of The Dead, toh misinya berhasil membuat penonton tertawa terpingkal-pingkal menonton sisi lain dari para zombie. Apalagi ditambah dengan beberapa adegan yang mengingatkan saya dengan film Romeo + Juliet atau bahkan mengolok beberapa hal dari Twilight Saga. Menyenangkan dan menyegarkan! Ditambah lagi, fil ini memiliki nilai positif lainnya dengan deretan soundtrack khas 80an seperti lagu Pretty Woman dan lagu-lagu rock keren dari Scorpions, Guns and Roses, dan masih banyak lagi (sesuai dengan jiwa hipster teen seperti tokoh R itu sendiri).

Dari jajaran cast, Hoult tampil lovable sebagai R, seorang teen-look-alike zombie dengan jaket hoodie merahnya yang lusuh dan kumal, postur tubuhnya yang bungkuk, dan juga inner mind-nya yang cerewet dan super manis. Mirip dengan anak remaja biasa lainnya yang geeky, dan saya langsung jatuh cinta sejak dia mengucapkan "Keep...you...save" dan "Don't be creepy, don't be creepy". Hoult sudah pasti menjadi rising actor untuk setahun ke depan, dengan film-film besar yang masuk dalam filmographynya. Dan saya jamin, kalian tidak akan bosan olehnya.

Di sisi lain, ada Julie yang diperankan oleh Teresa Palmer. Mungkin tidak ada yang super spesial dengan aktingnya, toh karena karakterisasi yang harus dibawakannya tidak terlalu rumit, tapi karena sejak awal review ini saya buat dengan perbandingan Twilight Saga, aktingnya jelas lebih ekspresif dibandingkan dengan Kristen Stewart. Dan karakter sidekick, Nora (yang juga tidak terlalu berbeda dengan karakter yang diperankannya di Crazy, Stupid, Love yang dimainkan Analeigh Tipton cukup mencuri perhatian. Sayang, Malkovich hanya tampil sedikit, tapi cukup meyakinkan sebagai seorang ayah sekaligus pemimpin yang saklek dan berkepala batu. Bukan yang terbaik darinya, walau tetap dapat dinikmati dan jauh lebih baik daripada perannya yang nggak jelas di Transformers: Dark of The Moon.

Yah, akhirnya secara keseluruhan, Warm Bodies memberikan tonjokan di muka saya karena memberikan lebih dari apa yang saya kira. Walau film ini sedikit melempem dan predictable di bagian tengah hingga akhir, namun film ini tetap tidak membosankan. Warm Bodies tetap mampu menghibur, memberikan tawa, dan juga momen romantisnya. It such a sweet guilty pleasure, and definetely worth watching more than once. And it might not warming my body (hence the title, hehe), but it was warming my heart.

And now I can't stop talking "Hungreeeh.."

Artikel Terkait