Film pertama Park Chan-wook dalam Bahasa Inggris. Mampukah Stoker menuai kesuksesan layaknya karya-karya Chan-wook sebelumnya?

Semua pecinta film setidaknya pasti pernah mendengar judul Oldboy, sebuah film Korea rilisan tahun 2003 arahan Park Chan-wook. Film ini menjadi banyak favorit dari pecinta film, karena memperkenalkan tema balas dendam dengan cara yang sangat gila, dengan balutan gaya visual yang begitu indah bak puisi, sekaligus disturbing bagi sebagian kalangan. Sebuah pencapaian yang gaungnya terus terdengar sampai sekarang. Park Chan-wook sendiri tidak hanya dikenal melalui Oldboy tentunya. Karya-karyanya seperti Sympathy for Mr. Vengeance (2002), Sympathy for Lady Vengeance (2005) (di mana keduanya bersama Oldboy membentuk The Vengeance Trilogy), I'm A Cyborg, But That's Okay, dan Thirst terus menuai pujian baik di Korea maupun di dunia internasional. Dan tahun ini Park Chan-wook berusaha untuk masuk ke Hollywood melalui film berbahasa Inggris pertamanya, Stoker.
Stoker berkisah mengenai India Stoker (Mia Wasikowska), seorang gadis yang berbeda dari kebanyakan remaja seusianya, karena memiliki kecerdasan di atas rata-rata dan juga memiliki kemampuan untuk bisa melihat dan mendengar hal-hal yang sering dilewatkan oleh kebanyakan orang. Ketika sang ayah sekaligus sahabat dan mentornya meninggal dalam kecelakaan di hari ulang tahunnya yang ke 18, India menemukan dirinya kini hanya berdua dengan sang ibu, Evie (Nicole Kidman); seorang wanita cantik dengan kondisi mental yang tidak stabil. Di saat berkabung inilah, kemudian datang sang paman yang tak pernah dikenal oleh India sebelumnya, Charlie (Matthew Goode). Dengan kharismanya, Charlie sedikit demi sedikit menunjukkan rahasia di balik keluarga Stoker kepada India. Rahasia apakah itu, dan siapa sesungguhnya Charlie?

Ada banyak hal yang membuat Stoker menjadi sangat menarik untuk ditonton. Pertama, jika Park Chan-wook biasa menulis naskah untuk filmnya sendiri, kali ini naskah dari aktor Wentworth Miller lah yang ia kembangkan menjadi sebuah film. Naskah Miller, yang dulu dikenal atas aktingnya di serial Prison Break, masuk ke dalam "Black List" di tahun 2010, sebuah daftar naskah-naskah terbaik yang belum diproduksi menjadi film. Walau tidak akan ditemukan vampire di film ini, namun ternyata Stoker sendiri memang mengambil judul dari nama penulis kisah Dracula, Bram Stoker dan kisah drakula itu sendiri. Miller pun mengambil faktor filosofis dari kata Stoker sendiri, yaitu orang yang menyalakan api (stokes), sesuatu yang dikatakannya sesuai dengan tema dan narasi filmnya. Selain Bram Stoker’s Dracula, Miller pun sangat terpengaruh oleh sebuah film karya Alfred Hitchcock yang berjudul Shadow of a Doubt (1943), di mana Miller mengambil beberapa poin penting, lalu mengarahkannya ke jalur yang betul-betul berbeda.
Kedua, tentu saja pemilihan Park Chan-wook sendiri sebagai sutradara film ini. Walau invasi sutradara Asia ke Hollywood bukan barang baru lagi, namun tetap saja masuknya nama Chan-wook ke tataran industri film Amerika sangat mengejutkan, karena Chan-wook bisa disebut sebagai kuda hitam yang berasal dari luar Hollywood. Namun, pemilihan Chan-wook dapat dipahami, mengingat gayanya yang khas, kemampuannya dalam menghadirkan narasi yang kuat serta kemampuannya dalam menyajikan tema kekerasan dan balas dendam namun dengan cara yang sangat elegan dan indah; sesuatu yang tentunya langka dan sulit ditemukan. Chan-wook pun membawa serta cinematographer favoritnya, Chung Chung-hoon, untuk memberikan sentuhan visual yang biasa dia berikan di film-filmnya terdahulu. Lalu, dengan tiga elemen tersebut, apakah Stoker mampu memberikan kepuasan terhadap penggemar film, terutama penggemar karya-karya Park Chan-wook?

Jawabannya, bisa ya, bisa tidak. Film ini akan menempatkan para penggemar di persimpangan. Layaknya hubungan India dan Charlie sendiri, Stoker akan menempatkan penonton dalam sebuah love-and-hate relationship. Bagi yang sudah pernah menonton film karya Chan-wook, kalian akan dengan sangat mudah menyukai visualisasi yang ada. Shot-shot yang diambil Chung-hoon sangat membantu membangun moodnya sendiri. Sunyi senyap bagaikan puisi, dengan perlahan-lahan membangun tensi, dengan pendalaman di sisi psikologis yang sangat intriguing walau tidak sampai ke tahap disturbing. Tambahkan dengan scoring yang digubah oleh Clint Mansell, maka jadilah sebuah harmonisasi indah, sebuah cinematic experience yang bisa diprediksi namun tetap saja memberikan sebuah kepuasan yang utuh.
Dari jajaran cast-nya sendiri, trio Wasikowska-Goode-Kidman sendiri bermain secara maksimal, menerjemahkan naskah dari Miller dengan chemistry yang 'aneh' namun menjadi kekuatan sentral yang menguasai perhatian penonton selama ± 99 menit. Toh, Stoker memang dari awal tidak menawarkan film dengan dialog yang padat, dan mungkin ini yang membuat Stoker bukanlah film yang mudah disukai oleh berbagai lapisan penonton, karena Stoker mengajak penonton untuk turut serta mengobservasi hubungan aneh antara India-Charlie-Evie lewat gesture tubuh dan ekspresi wajah yang ada. Di tangan sutradara lain, Stoker mungkin akan menjelma menjadi sebuah film yang lebih straight-forward dalam penceritaannya, tapi Chan-wook dengan rajin menyebarkan petunjuk-petunjuk yang mungkin tidak akan kita sadari saat menonton, namun setelahnya barulah kita mempertanyakan banyak hal dan menggali ulang pengalaman menonton Stoker tersebut.

Chan-wook sendiri mengatakan bahwa dia berniat membuat Stoker dengan mood yang sama dengan karya Hitchcock, Vertigo, sebuah film dengan mood claustrophobia, terjebak antara dunia psikologis dan cinta. Lalu, apakah itu berhasil? Ya, dapat dikatakan bahwa ia berhasil mencapai hal tersebut. Namun ini lantas menjadi sebuah kejanggalan sendiri, karena Stoker pada akhirnya seperti sebuah percampuran dua budaya yang sangat besar, sesuatu yang tidak pas namun anehnya terasa lezat. Jika boleh dianalogikan dengan makanan, film ini film ini ibarat cheeseburger yang dimodifikasi dengan cara mengganti acar di dalamnya dengan kimchi, asinan khas Korea. Apakah enak? Mungkin, bagi sebagian orang, tapi tetap saja terasa janggal.
Secara keseluruhan Stoker jelas-jelas bukan film untuk semua orang, bahkan bisa dikategorikan sebagai karya yang sangat segmented. Dan perolehan dollar-nya sejauh ini cukup membuktikan hal tersebut. Namun jangan terkejut jika dalam beberapa tahun, Stoker akan menyandang status cult karena kedalaman tema yang tidak dapat diduga-duga. Sebagai pecinta film karya Chan-wook, saya sebagai penulis, menemukan diri saya terbuai dengan visualisasi khas Chan-wook, ditambah dengan musik yang sangat mendukung. Senang rasanya, ciri khas Chan-wook tidak lantas hilang hanya karena dia menyutradarai film Hollywood, justru Chan-wook dengan sangat bebas memberikan visualisasi yang terasa sangat non-Hollywood secara mainstream, di semua aspek. Bagaikan hidangan western dan eastern yang berpadu dengan cara yang aneh. Namun bagi non-penggemar, Stoker adalah sebuah film yang sulit untuk disukai. Mungkin jika kalian bisa membuka pikiran kalian selebar-lebarnya, kalian akan bisa menyukai filmnya, atau setidaknya menerimanya dengan tangan terbuka. Karena jika tidak, kalian akan merasakan after taste yang aneh dari sebuah cheeseburger berisi kimchi. Sebuah after taste yang bisa membuat kalian mengerutkan dahi, dan mengurut-urut pelipis kalian.