Oblivion: Film Futuristik Tanpa Identitas

by dr. kawe

Oblivion: Film Futuristik Tanpa Identitas
EDITOR'S RATING    

Setelah Jack Reacher, kini ada Jack Harper. Apakah mereka kembar? Yang pasti Oblivion tidak menyinggung soal itu

Gerbang film-film musim panas telah terbuka. Diawali dengan Oblivion yang bisa dikatakan sebuah proyek ambisius yang melibatkan nama besar Tom Cruise. Tidak dipungkiri lagi bahwa film ini memang menjual mantan suami Katie Holmes ini sebagai ujung tombak. Pemain lain seperti Morgan Freeman, Olga Kurylenko, atau Andrea Riseborough seakan menjadi pelengkap tanpa menghilangkan esensi karakter mereka.

Kisahnya sendiri rasanya sudah bukan barang baru di dunia film fiksi ilmiah. Pada tahun 2077, alien menghancurkan bulan sehingga otomatis dunia pun ikut hancur. Bangunan-bangunan kota tertutup pasir dan hanya menyisakan puing-puing. Untuk mengatasi keadaan ini, manusia dipindahkan ke Titan, salah satu satelit Saturnus. Sementara itu di Bumi, reaktor-reaktor dibangun untuk menyedot air laut guna diubah menjadi tenaga untuk kehidupan manusia di Titan. Di Bumi inilah, tepatnya di sebuah menara di langit tinggi, berdiam Jack (Cruise) dan Victoria (Riseborough). Keduanya merupakan pasangan teknisi dan supervisor yang ditugaskan untuk memelihara reaktor-reaktor itu dengan memastikan bahwa robot-robot pelindung reaktor dari alien berfungsi dengan baik. Jack sendiri kerap kali dihantui mimpi-mimpi ketika dunia masih damai dan seorang perempuan yang tidak ia ketahui siapa. Suatu hari, Jack melihat sebuah benda asing yang jatuh dari langit dan datang untuk menyelidikinya. Apa yang ia temukan ternyata mengejutkan dan membuatnya menyelidiki serta mempertanyakan misi yang diembannya selama ini.

Disutradarai oleh Joseph Kosinski yang bisa dikatakan sukses memvisualisasikan Tron: Legacy setelah hiatus selama 28 tahun, begitulah Oblivion. Dari segi tampilan, kita bisa dibuat kagum dengan gambaran Bumi di masa depan yang hancur lebur dengan tanah gersang, pasir di mana-mana, dan air terjun di puing-puing kota. Pun dengan alat-alat futuristik yang disajikan dalam bentuk pesawat milik Jack, senjata, reaktor, hingga para robot.

Namun sayangnya, visualisasi yang wah tadi tidak diikuti dengan cerita yang kuat atau dengan kata lain memiliki identitas sendiri. Mereka yang mungkin tidak begitu peduli dengan gambaran masa depan yang disajikan Kosinski mungkin akan menguap bosan di awal-awal di mana cerita berjalan begitu lambat atau malah sibuk menerka-nerka adegan yang ada mirip adegan di film mana. Ya, itulah yang terjadi. Film ini seakan "mengutip" berbagai elemen di dalam berbagai film fiksi ilmiah sehingga (mengutip ucapan teman) tidak memiliki jati diri yang kuat. Dengan banyaknya film fiksi ilmiah yang telah beredar, memang rasanya kita tidak dapat menyalahkan Kosinski bila filmnya memiliki kesamaan elemen di beberapa bagian.

Akting Tom Cruise sendiri sebagai pemeran utama memang bisa diacungi jempol. Nyaris seluruh film dikuasai dirinya. Selain dari segi penampilan yang masih cukup mumpuni sebagai idola, ketangguhan fisiknya juga masih cukup terjaga. Sayang, penampilan Morgan Freeman terasa minim dan terasa biasa saja, begitu juga dengan Olga Kurylenko. Rasanya, hanya Andrea Riseborough yang sanggup mencuri perhatian dengan aksen Inggrisnya.

Untunglah, untuk film pembuka musim panas, Oblivion bisa dikatakan berhasil. Cerita ringan, efek memukau, visualisasi luar biasa, dan juga akting yang cukup oke. Oblivion telah tayang di Indonesia mulai 11 April 2013.

Artikel Terkait