Si manusia setrikaan kembali dalam film ketiganya, melawan teror dari Mandarin dan tetap terlihat keren. bagaimana caranya?

Sutradara: Shane Black
Naskah : Shane Black and Drew Pearce
Pemeran: Robert Downey Jr., Gwyneth Paltrow, Don Cheadle, Guy Pearce, Ben Kingsley, Rebecca Hall, James Badge Dale, John Favreau
Melanjutkan tradisi di setiap tahunnya, sudah barang tentu para penikmat film menunggu-nunggu film superhero apa yang akan mendapat giliran menyelamatkan bumi berikutnya. Dalam hal ini, Marvel secara konsisten menyajikan dunia yang sudah mereka bangun dengan sedemikian rapinya, membuat para fanb?oy dan penikmat awam pada umumnya menggila. Setelah tahun kemarin The Avengers, yang merupakan sebuah film superheroes cross-over yang sangat seru dan menyenangkan, diberi kesempatan untuk menyelamatkan kota New York dan bumi dari serangan alien Chitauri, maka kini Iron Man diberi kesempatan pertama untuk bersinar, menyelamatkan dunia sendirian. Melanjutkan cerita pasca The Avengers, inilah sekuel kedua dari Iron Man.

Dunia setidaknya kini sudah aman, dan di waktu senggangnya Tony Stark (Downey Jr.) asyik mengutak-atik dan menciptakan armor kesayangannya. Lalu kemudian, Amerika Serikat mulai diserang. Terjadi sejumlah insiden peledakan bom oleh seorang teroris yang mengaku bernama Mandarin (Kingsley). Di sisi lain, muncul seorang pria dari masa lalu Pepper dan juga Tony yang bernama Aldrich Killian (Pearce), seorang jenius yang nampaknya memiliki agenda tersendiri. Awalnya Tony tidak terlalu ambil pusing mengenai Mandarin, karena toh sudah ada sahabatnya Colonel Rhodes (Chaedle) yang menjaga keamanan Negara sebagai Iron Patriot. Masalah mulai timbul ketika Happy (Favreau) turut menjadi korban dari pemboman di Chinese Theatre. Tony yang meradang lalu menyatakan perang terbuka dengan Mandarin, yang kemudian justru menjadikannya sasaran empuk dan kekasihnya Pepper (Paltrow) berada dalam bahaya besar. Akankah Tony berhasil mengalahkan Mandarin dari rencana terornya? Dan apa rahasia yang dibawa oleh Aldrich?
Setelah menyutradarai Iron Man 2 di tahun 2010, Jon Favreau lalu mundur dari kursi penyutradaraan untuk fokus ke proyek “Magic Kingdom” lalu menyerahkan posisinya kepada Shane Black, yang kemarin menyutradarai Man In Black 3. Black sendiri kemudian menulis skenarionya, bersama dengan Drew Pearce dengan menggabungkan storyline Mandarin dan Extremis. Diakui Black, dia merasa sangat beruntung bisa melanjutkan kisah Iron Man, dan berusaha untuk tetap memasukkan sebuah kisah baru yang bisa dieksplor lebih dalam, dan menjadikannya sebagai bagian dari sebuah trilogy yang utuh. Pertanyaan yang timbul sekarang adalah, apakah Shane berhasil mewujudkannya?

Jawabannya, ya. Black, yang sudah pernah bekerja sama sebelumnya dengan Downey Jr., berhasil menghadirkan sebuah film aksi yang menegangkan sekaligus menyenangkan khas film-film summer blockbuster tanpa harus kehilangan konsistensi dan kontinuitas dari Iron Man itu sendiri. Bahkan, Black mampu untuk menggali karakter Tony menjadi lebih dalam, tanpa harus mengorbankan tone filmnya ke arah lebih gelap seperti trend belakangan. Dan memang inilah ciri khas film-film Marvel, bak lollipop dengan berbagai macam warna-warni yang mencolok mata dan manis, terlihat begitu ringan dan menyenangkan, dan mudah disukai banyak orang.

Dengan bantuan musik gubahan John Toll yang sangat menghentak dan memberikan atmosfir ala James Bond, Black mampu menjawab ekspektasi penonton yang sudah dijejali begitu banyak informasi dari trailernya. Ditilik dari trailer, Iron Man 3 seolah sudah memberikan begitu banyak spoiler dan menawarkan ledakan-ledakan seperti biasanya. Tapi tunggu saja, karena begitu masuk dan duduk di dalam bioskop, apa yang kita harapkan dari trailer bisa jadi menipu.
Dari segi para pemeran, semuanya kembali memerankan karakter yang mereka mainkan sebelumnya, dan sebagai fans dari Iron Man, senang saja rasanya melihat mereka kembali. Dan sebagai frontliner, Robert Downey Jr. memberikan sebuah performa akting yang semakin melekatkan dirinya dengan Tony Stark. Downey adalah Stark, dan Stark adalah Downey. Gaya bicaranya yang sarkastik, eksentrik, dan sejuta kualitas dari Stark dimainkan dengan begitu khas oleh Downey Jr. dan mustahil membayangkan ada orang lain yang bisa memerankan Stark sebaik dia. Dan berbeda dari sekuel sebelumnya, dimana Tony Stark gagal dibuat menjadi ‘gelap’, di film ini justru pendalaman karakter dari Stark terasa lebih hidup. Dengan caranya sendiri, Downey menggiring penonton untuk ikut simpati dengan apa yang ia hadapi tanpa harus kehilangan sense of humornya itu. Disini Stark seolah membuktikan pertanyaan dari Captain America di The Avengers, “Big man in a suit of armour. Take that off, what are you?” dan ini adalah poin positif yang boleh diacungkan jempol.

Sebagai lawan Tony, ada Mandarin dan juga Aldrich yang diperankan dengan sangat mengagumkan oleh Kingsley dan Pierce. Dan terutama Pierece, yang bisa tampil dengan sangat tangguh dan mengerikan. Dan kalian harus menonton sendiri untuk percaya dengan pernyataan ini.
Jadi, secara keseluruhan, sebagai film pembuka summer blockbuster, Iron Man 3 benar-benar sebuah paket yang lengkap. Antara drama, komedi, dan aksi yang saling melengkapi dan berkesinambungan, tanpa harus menjadi melempem. Karakter-karakter yang muncul pun semua hadir sesuai porsinya, tanpa terasa ada penyia-nyiaan atau jadi sekedar lewat, dan tentunya memberikan kesan yang membekas. Di bagian awal memang agak sedikit membosankan, tapi kemudian dari pertengahan sampai ke akhir, Black menghajar tensi penonton tanpa memberikan kesempatan untuk menarik nafas panjang. Benar-benar menegangkan, dengan banyak adegan pertarungan yang memorable dibandingkan kedua instalment sebelumnya. Sebuah menu pembuka yang benar-benar lezat dan ‘panas’.
