Sebuah proyek ambisius dari Will Smith dan juga M. Night Shyamalan, melibatkan science-fiction, sinematografi memukau, dengan bintang sang anak sendiri, Jaden Smith.

Screenplay : Gary Whitta dan M. Night Shyamalan, based on original story by Will Smith
Cast : Will Smith, Jaden Smith, Sophie Okonedo, Zoe Kravitz,
Nama Will Smith sering disejajarkan dengan sebutan King Midas, konon apapun yang ia sentuh berubah menjadi emas, atau dalam hal ini, selalu membuahkan sebuah keuntungan yang sangat besar. Nampaknya akhir-akhir ini, Smith sedang berambisi untuk membesarkan nama keluarganya di Hollywood. Ya, pria berusia 44 tahun ini begitu ingin kedua anaknya memiliki karir yang stabil dan kuat di industri entertainment Hollywood. Sang putri, Willow lebih diarahkan menjadi penyanyi, sementara anak sulungnya Jaden Smith diarahkan untuk mengikuti jejaknya sebagai aktor. Jaden, memulai debutnya di layar lebar bersama sang ayah di "Pusuit of Happyness" di tahun 2005 lalu, memberikan reaksi positif yang begitu besar menyangkut aktingnya yang terasa begitu natural. Kemudian di tahun 2008 bersama Keanu Reevs di remake "The Earth Stood Still" dengan resepsi yang tidak terlalu baik, lalu kemudian bersama Jackie Chan di tahun 2010 "The Karate Kid" (atau seharusnya The Kungfu KId). Kini, Smith kembali dalam proyek yang cukup ambisius, untuk kembali bermain bersama sang anak dalam film arahan M. Night Shyamalan.
Kita semua pasti setidaknya pernah menonton satu film karya Shyamalan. Sutradara kelahiran India ini dulunya terkenal dengan karya-karya dengan unexpected twist, yang membuat banyak orang tertipu. 'Sixth Sense'. 'Signs', 'The Village', dan 'The Unbreakable' dibuat di masa kejayaannya, sampai kemudian namanya mulai menurun di film ':Lady in the Water'. Shyamalan mencoba bangkit kembali di 'The Happening' namun kepercayaan banyak orang terhadapnya menjadi berkurang drastis setelah 'The Last Airbender' yang dianggap banyak orang kualitasnya berbeda jauh dengan serial animasi aslinya. HIngga tulisan ini dibuat, setidaknya review dari After Earth mencapai 12% di rottentomato. Sebuah hasil yang begitu buruk, tentunya, mengingat film ini dibuat dalam skala raksasa.

Alkisah, seribu tahun yang lalu, manusia yang sudah merusak bumi hingga akhirnya tidak bisa ditinggali, pindah mengungsi ke Nova Prime. Namun tetap saja, Nova Prime bukan planet yang mudah untuk ditinggali, karena ada monster bernama Ursa yang seolah memang diciptakan untuk menghancurkan sisa dari spesies manusia yang bertahan. Namun kemudian diketahui bahwa Ursa ini sesungguhnya buta, dan mereka dapat melacak manusia dari rasa takut mereka yang dilepaskan di udara. Satu-satunya cara adalah dengan tidak merasakan takut, dan satu-satunya manusia terbaik dalam hal ini adalah Jenderal Cypher Raige (Will Smith) yang begitu melegenda. Namun ketika dia pulang untuk bertemu dengan keluarganya, dia menemukan sang anak Kitai (Jaden Smith) yang terasa begitu asing baginya. Rasa canggung ini semakin diperkuat dengan perasaan kecewa Kitai karena tidak lulus dalam seleksi Ranger dalam misinya untuk 'mengejar' sang ayah. Sang istri, Faia (Okonedo) kemudian menyarankan Cypher untuk turut serta mengajak Kitai dalam sebuah perjalanan angkasa. Naas, akibat sebuah badai asteroid, kapal yang juga membawa seekor Ursa rusak parah dan terpaksa harus mendarat darurat di planet yang begitu berbahaya, yaitu bumi itu sendiri. Semua awak kapal tewas, menyisakan Cypher yang luka parah dengan Kitai yang ketakutan. Satu-satunya harapan mereka hanyalah sinyal darurat yang diperkirakan berada di bagian ekor kapal yang jaraknya 100 km dari mereka, bersama dengan sang Ursa. Kini, dengan kemampuan terbatas yang dimiliki Kitai dan bimbingan dari sang ayah, mereka harus bekerja sama, bukan saja untuk menyelamatkan hidup mereka, namun juga hubungan ayah-anak yang sangat rapuh ini.

Ditilik dari formulasi yang dipakai, film ini seharusnya bisa dengan mudah meraih sukses besar dalam perolehan dollarnya di box office. Sebuah film science-fiction yang tidak terlalu 'njlimet' bagi banyak penonton awam, dengan sentuhan drama, dan faktor Will Smith yang begitu kuat, nyatanya baru mendatangkan 29 juta dollar sejak dirilis tanggal 31 Mei kemarin. Dan dengan hasil review yang begitu buruj\k dimana-mana, membuat banyak orang yang lantas jadi urung untuk menontonnya. Tapi benarkah seburuk itu?
Dilihat dari sisi cerita, After Earth menampilkan cerita yang ringan dan mudah dicerna. Dengan sinematografi dan campuran CGI yang memanjakan mata, kita seolah diajak untuk mengenali sisi lain dari bumi, yang begitu eksotis sekaligus berbahaya dan asing. Saya tidak berani mengatakan bahwa science fictionnya baik, karena saya sendiri bukanlah penggemar genre ini, namun di mata saya yang awam ini, timeline science fictionnya terlihat begitu rapi dan dipikirkan dengan baik. Dan dengan tema surviving di bumi yang asing, saya serta merta teringat dengan The Hunger Games, bedanya Kitai bertualang dengan sangat bergantung dengan petunjuk sang ayah. Namun dengan seiring berjalannya cerita, Kitai kemudian belajar untuk lebih mandiri dan percaya dengan kemampuannya sendiri.

Dari sisi tempo filmnya sendiri, After Earth tampil lebih relax dibanding dengan film-film Summer Movies tahun ini. AE benar-benar memulai semuanya dengan perlahan, tanpa menggeber adrenaline penonton. Mulai pelan-pelan membangun simpati penonton dengan hubungan rapuh antara Chper-Kitai dan juga perkembangan emosi dari Kitai sampai ketika tiba di klimaks, bisa jadi banyak penonton yang sudah bosan duluan. Tapi kala mau dipikir baik-baik, sajian yang memacu adrenaline dirasa kurang cocok dengan tema yang ingin dikedepankan, sehingga tempo seperti ini sudah cocok. Dan Jaden Smith sebagai sang leading role, dengan pesona khas remaja (yang kadang terlihat terlalu susah) mampu membawa filmnya ke sebuah excitement tersendiri.
Jadi, apa yang membuat ratingnya bisa jeblok begini? Menurut saya, kesalahan terletak pada ekspektasi penonton, yang mengharapkan sajian mencengangkan dari apa yang mereka dapatkan di Sixth Sense atau Signs.Atau bisa jadi, meremehkan The Last Airbender yang banyak membuat orang kecewa. Padahal kalau mau dibandingkan dengan The Last Airbender, After Earth jauh lebih baik.Tanggalkan sebentar ekspektasi berlebihan atau early judgment yang ada, dan bisa jadi kalian akan sangat menikmatinya.