In the Heights: Kisah Musikal Tanpa Beban

by Dwi Retno Kusuma Wardhany 1562 views

In the Heights: Kisah Musikal Tanpa Beban
EDITOR'S RATING    
PEOPLE'S RATING      
Add Your Rating    

Nyanyian dan tarian dengan parade kostum keren.

Saat nama Jon M. Chu disebut, pikiran kita tentu langsung teringat pada dua film Step Up, film konser Justin Bieber: Never Say Never dan Justin Bieber: Believe, sampai adaptasi novel laris, Crazy Rich Asians. Filmografi Chu memang beragam karena dia juga pernah menangani genre aksi (GI Joe: Retaliation) dan misteri (Now You See Me 2). Namun, bisa dibilang, Chu ahlinya menyutradarai film-film musikal dan kini dia kembali dengan In the Heights.

Menggabungkan musik dan film tentunya bukan hal baru di dunia perfilman karena sudah ada puluhan film musikal, sebut saja La La Land, Chicago, Sweeney Todd, Les Miserable, The Greatest Showman, dan masih banyak lagi. Kali ini, Chu mengangkat kisah sebuah wilayah bernama Washington Heights dengan komunitas Hispanik yang tinggal di sana dan segala masalah sehari-hari. Empat anak muda didapuk menjadi pemeran utama. Mereka adalah Usnavi, Vanessa, Benny, dan Nina yang mewakili konflik kaum milenial yang ingin mengejar mimpi, tapi menghadapi banyak halangan.


Tidak adanya pemain bintang dalam In the Heights mungkin bisa dibilang pilihan yang tepat. Penonton jadi lebih bisa fokus pada akting, tarian, dan nyanyian semua karakter daripada hanya fokus pada satu orang saja. Keempat anak muda yang tampil sebagai ujung tombak film ini pun berhasil menampilkan akting yang memikat dengan vokalisasi yang memukau. Tidak hanya pemeran utama, pemeran pendamping pun diberi kesempatan untuk bersinar dan menunjukkan bakat mereka, seperti karakter Sonny; Abuela Claudia; sampai si pemilik salon, Daniela.

Salah satu kelebihan film ini juga tentunya wardrobe para pemain yang terlihat keren. Sangat mencerminkan street wear dengan jins robek, sepatu kets, baju jaring, tank top, dan masih banyak lagi. Ciri khas film musikal tentu adalah kostum yang harus tampak menonjol saat dipakai menari dan In the Heights berhasil menghadirkannya, terutama lewat Vanessa yang modis.


Berusaha menampilkan In the Heights sebagai film musikal yang cerah dan penuh warna membuat konflik yang dihadirkan film ini bisa dibilang tipis. Hanya berfokus pada mimpi Usnavi untuk kembali ke Dominika, Vanessa yang ingin jadi desainer, atau Nina yang galau antara ingin kembali ke Stanford atau tidak. Benny sendiri tidak diperlihatkan punya konflik yang berat, selain naksir dengan Nina. Tidak ada kisah tentang komunitas Hispanik yang menjadi minoritas di tengah warga Amerika atau kesulitan finansial yang didramatisasi.

In the Heights sebenarnya tidaklah jelek, namun juga tidak bisa dibilang bagus. Durasinya yang mencapai 2 jam 23 menit cukup melelahkan karena diisi dengan nyanyian setiap lima menit sekali. Bagi mereka penyuka film-film musikal, seperti Les Miserables, mungkin akan suka dan menikmatinya. Tapi, bagi yang tidak biasa, akan beranggapan bahwa film ini seharusnya bisa lebih pendek lagi dari segi durasi dengan kisah yang lebih padat.