
Menjelang perilisan Laskar Pelangi 2 Edensor pada 24 Desember mendatang, maka Layar-Tancep akan membuat tulisan tiga seri yang membahas mengenai Edensor. Dimulai dari buku dan sang pengarang, kemudian dilanjutkan dengan dua film terdahulu, dan terakhir pembahasan mengenai filmnya sendiri. Penasaran? Baca terus ya. Yang pasti informatif, menggigit (harimau kali ah gigit), dan berisi (kayak badan yang nulis, Jelata).
Edensor adalah buku ketiga (terbit 2007) dari tetralogi Laskar Pelangi yang ditulis oleh penulis yang asli kelahiran Belitong sana, Andrea Hirata. Makanya kenapa, beliau gape banget menulis tentang tanah kelahirannya itu plus budaya orang sana. Judul lain yang udah difilmkan adalah Laskar Pelangi (terbit 2005) dan Sang Pemimpi (terbit 2006) sementara itu sisanya masih ada satu buku lagi yang berjudul Maryamah Karpov (terbit 2008). Nama Edensor sendiri diambil dari nama sebuah desa di daerah Inggris, tepatnya Derbyshire, Inggris. Terus, apa hubungan antara judul dengan isi bukunya? Mimin nggak mau spoiler yah, baca sendiri aja Jelata. Apa, belum beli?? Waduh, (kalau kata Bang Haji) TER-LA-LU.
Kalau Laskar Pelangi mengisahkan Ikal kecil dan kelompok Laskar Pelangi, sementara Sang Pemimpi berfokus pada petualangan tiga sahabat; Ikal, Arai, dan Jimbron; di tanah Belitong, maka kali ini Edensor berfokus pada Ikal dan Arai yang mengadu otak (bukan nasib soalnya di sini mereka kuliah) di Universitas Sorbonne, Perancis. Di sini, mereka mengalami berbagai kejadian yang tidak hanya berkaitan dengan mimpi dan cita-cita, tetapi juga cinta. Aray dengan Zakiah Nurmala dan Ikal tetap dengan cinta masa kecilnya, Aling.
Lalu, siapakah Andrea Hirata? Nama ini tentunya sudah sangat akrab di telinga para penikmat novel karena Laskar Pelangi yang ia tulis berhasil mencapai sukses luar biasa dan diterbitkan ulang di berbagai negara, di antaranya Amerika, Australia, India, New Zealand, Pakistan, Jepang, Jerman, Belanda, Spanyol, Italia, Brazil, hingga Turki. Kesuksesan ini diikuti dengan munculnya lanjutan Laskar Pelangi, seperti yang sudah Mimin tulis di atas (di atas mana? Aduh, kalian baca dari bawah ke atas ya?).
Selain tetralogi ini, beliau juga sudah pernah menerbitkan karya lain, seperti Padang Bulan & Cinta di Dalam Gelas (2010) yang merupakan semacam spin-off dari kisah Ikal, Sebelas Patriot (2011), dan Laskar Pelangi Song Book (2012). Lalu, setelah bukunya sukses dan diadaptasi ke layar lebar, apa lagi mimpi yang beliau ingin wujudkan? Ternyata, Hirata ingin mencoba tinggal di Kye Gompa, sebuah desa di Himalaya. Yuk, kita doakan bersama-sama Jelata agar beliau bisa mencapai impiannya itu. Berdoa dimulai!
... tu bi kontinyu