Kalau dalam Part 1, kami sudah membahas mengenai bukunya maka di Part 2 ini kami bahas tentang dua film terdahulunya. Berbeda dari Laskar Pelangi 2 Edensor (yang selanjutnya Mimin singkat dengan Edensor aja untuk menghemat ludah), Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi diproduksi oleh Miles Films dan bisa dikatakan sukses besar karena berhasil meraup penonton di atas dua juta.
LASKAR PELANGI (2008)

Segera setelah bukunya menjadi best seller, rumah produksi Miles Films dan Mizan Production bergerak cepat untuk mengadaptasi buku ini ke layar lebar. Dan hasilnya, pada 26 September 2008, Laskar Pelangi garapan Riri Riza rilis di bioskop-bioskop. Naskahnya sendiri ditulis oleh Salman Aristo (Ayat-Ayat Cinta) dengan bantuan Riri dan Mira Lesmana. Tidak tanggung-tanggung, sang sutradara menolak menggunakan aktor dan aktris anak-anak kenamaan dan memilih untuk mengkasting para pemain langsung di pulaunya, Belitung. Alhasil, didapatlah 12 pemain-pemain muda, yaitu Zulfanny sebagai Ikal, Ferdian sebagai Lintang, Verrys Yamarno sebagai Mahar, Jeffry Yanuar sebagai Harun, Dewi Ratih Ayu Safitri sebagai Sahara, Suhendri sebagai A Kiong, Marcheilla El Jholla sebagai Flo, Febriansyah sebagai Borek, Yogi Nugraha sebagai Kucai, M. Syukur Ramadan sebagai Syahdan, Suharyadi Syah Ramadhan sebagai Trapani, dan Levina sebagai A Ling. Untuk memadukan antara akting para bintang baru ini didapuk beberapa aktor dan aktris berpengalaman, di antaranya Tora Sudiro, Cut Mini, Ikranagara, Lukman Sardi, Ario Bayu, dan masih banyak lagi.
Kisahnya sendiri tidak jauh berbeda dengan bukunya, di mana para anggota Laskar Pelangi diceritakan dengan kepolosan mereka berjuang demi pendidikan dan mulai mengenal apa itu yang namanya cinta. Laskar Pelangi berhasil menampilkan beberapa adegan yang sanggup mengundang tawa atau membuat penonton menangis haru. Dan, dikarenakan Indonesia saat itu sedang minim film yang mendidik sekaligus menghibur maka Laskar Pelangi sanggup memukau dan ditonton oleh 4,6 juta pasang mata. Sebuah prestasi yang luar biasa dengan duduk di posisi keempat film lokal yang terbanyak ditonton (berdasarkan Maret 2009), di bawah Jelangkung (5,7 juta), Pocong 2 (5,1 juta), dan Ada Apa dengan Cinta (4,9 juta). Tidak hanya itu, soundtrack-nya yang diisi oleh berbagai penyanyi kenamaan seperti Ipang, Nidji, Gita Gutawa, Netral, dan masih banyak lagi juga sukses menduduki berbagai tangga lagu lokal. Siapa sih yang tidak kenal lagu "Laskar Pelangi" yang dibawakan Nidji?
SANG PEMIMPI (2009)

Hanya selang setahun setelah film pertamanya rilis, Miles Films kembali merilis Sang Pemimpi yang diadaptasi dari buku kedua karya Andrea Hirata. Masih mengisahkan tentang Ikal, kali ini Ikal sudah duduk di bangku SMA dan mengalami berbagai kenakalan khas remaja bersama dengan saudaranya, Arai, dan satu lagi temannya yang sangat cinta kuda, Jimbron. Aktor-aktor muda yang dipilih pun masih aktor lokal asal Belitung, yaitu Vikri Setiawan (Ikal), Rendy Ahmad (Arai), dan Azwir Fitrianto (Jimbron) dengan tambahan beberapa aktor profesional, seperti Lukman Sardi yang masih memerankan Ikal dewasa, Mathias Muchus sebagai ayah Ikal, Maudy Ayunda sebagai Zakiah Nurmala yang merupakan pujaan Arai, dan masih banyak lagi. Lokasi syutingnya sendiri mengambil beberapa tempat, seperti Manggar, Tanjung Pandan, Jakarta, dan Bogor. Budget produksi juga meningkat, dari yang hanya Rp8-9 miliar untuk film pertama, kini mencapai Rp12 miliar.
Menjadi film Indonesia pertama yang membuka Jakarta International Film Festival (Jiffest) 2009 pada 4 Desember 2009, sayangnya raihan yang didapat Sang Pemimpi tidak sedahsyat Laskar Pelangi meski tidak dapat dikategorikan rugi. Film yang juga menjadi debut Nazriel Irham alias Ariel di layar lebar ini berhasil mengumpulkan 1,9 juta pasang mata. Angka ini tentu saja tergolong kecil bila dibandingkan Laskar Pelangi. Namun, pujian dari sang penulis, Andrea Hirata, sendiri dilayangkan kepada film ini yang menurutnya tiga kali lebih bagus daripada Laskar Pelangi. Sayang, rencana untuk melanjutkan film ini ke sekuelnya Edensor harus terhenti dikarenakan Ariel yang seharusnya menjadi pemeran utama malah tersandung kasus sehingga proyek ini terpaksa terhenti untuk waktu yang lama. Kini, di tahun 2013, Jelata dapat kembali menyaksikan Edensor di layar lebar.
… tu bi kontinyu (berikutnya: Part 3: Laskar Pelangi 2 Edensor)