Isyarat

by Kal-L


Sutradara: Reza Rahardian, Monty Tiwa, Asmirandah, Adhyamitka, dan Donny Alamsyah

Penulis: Tittien Watimena dan Jujur Pranato

Sudah banyak aktor ataupun aktris yang banting setir menjadi sutradara. Lihat saja George Clooney, Ben Affleck, ataupun Jodie Foster, dan Angelina Jolie. Di ranah lokal sendiri kali ini ada jebolan Lingkar Alumni LA Indie Movie yang mempersembahkan film omnibus Isyarat. Disutradarai oleh Asmirandah (“Teman Bayangan”), Monty Tiwa (“Lost & Found”), Reza Rahadian (“Gadis Indigo”), Adhyamitka (“Flora”), dan Donny Alamsyah (“Tanda Bahaya”). Mengangkat tema orang-orang yang memiliki ‘kemampuan khusus’, Isyarat mencoba memotret isu yang masih jarang diangkat dalam perfilman Indonesia.

Teman Bayangan yang menjadi segmen pertama berkisah mengenai Dewi yang mempunyai kekuatan yang ternyata berpengaruh pada orang yang dicintainya. Berikutnya Lost & Found menceritakan bagaimana Sisi membantu Oki yang kehilangan dompet di kelas kampusnya. Maya yang bisa melihat masa depan lewat lukisan merupakan cerita di segmen ketiga, Gadis Indigo. Sementara, dalam Flora dikisahkan bagaimana Flora bisa melihat kekasihnya, Danel, yang berada di dimensi yang lain. Segmen terakhir, yaitu Tanda Bahaya mengisahkan bagaimana seorang komikus berniat menyatukan orang-orang yang diberkahi oleh kemampuan mereka.

Secara garis besar, Isyarat berusaha membuat benang merah untuk keseluruhan bagian dalam film ini. Sayang sekali, pada kenyataannya film ini begitu hambar bahkan seperti tidak layak untuk ditayangkan. Hal ini terlihat dari lima cerita film ini yang amburadul. Sejak awal hingga akhir, tidak ada yang benar-benar bisa dinikmati. Bahkan, film ini menutup seluruh kisah dengan kurang ajar sekali. Memaksakan semuanya benar-benar terhubung. Yang menjadi pertanyaan besar: di mana bagian Tanda Bahaya? Bagian ini tidak ada sama sekali di film ini. Apakah kita perlu mempunyai indra keenam juga untuk bisa melihat bagian tersebut?

Ada banyak aktor dan aktris di sini. Saya sendiri harus mengakui, beberapa aktor dan aktris di sini terlihat sekali sangat santai. Saking santainya, mereka sampai lupa apa karakter yang mereka bawakan. Pengecualian untuk Abimana, Poppy Sovia, dan Revalina. Selebihnya hanya seperti karakter stereotipe yang bisa dimainkan oleh siapa saja.

Mari kita fokus ke sutradara dulu. Ada Reza Rahadian yang ternyata mempunyai bakat dan insting yang jeli dalam film ini. Bisa dibilang, ia bisa membawa masing-masing karakternya mengalir. Sayangnya, hal ini tidak diikuti oleh Asmirandah, Adhyamitka, dan saya sendiri kecewa dengan Monty Tiwa yang jelas lebih senior ketimbang semua debutan di sini. Adhyamitka  sendiri hampir bagus, sayangnya di bagian yang ia arahkan, seperti kebingungan di pertengahan kisah. Donny Alamsyah? Saya sendiri bingung bagaimana menjawabnya karena tidak ada bagiannya di film ini. Pertanyaan terbesar dari permasalahan film ini: Mengapa ceritanya demikian setengah-setengah dan buruk?  Tittien dan di luar dugaan Jujur Prananto juga menulis kisah ini sedemikian apa adanya. Editingnya pun tidak kalah konyol. Banyak adegan yang melompat-lompat bahkan terasa sangat kasar. Dari segi scoring? Sama sekali tidak membantu. Saya sendiri lebih terkejut di balik layar, film ini didukung oleh Ifa Isfansyah dan Garin Nugroho. Sepertinya film ini hanya meminjam nama besar saja. Sangat mengecewakan.

Akhir kata, memang ini merupakan awal dari usaha pemain film Indonesia membuat film. Akan tetapi, dengan produk yang bahkan masih kasar, harusnya Isyarat ini tidak perlu diluncurkan ke pasar. Sebuah eksekusi film yang buruk dan tidak layak untuk ditonton.

Artikel Terkait