
Dari seorang pemuda galau yang susah banget menyatakan cinta dan hanya bisa lirik-lirikan dari jauh dengan pujaannya di Perahu Kertas, kini Adipati Dolken menjadi pemuda religius yang punya kemampuan bela diri plus sulap. Heh, kok bisa? Baca terus ulasan adminah di bawah ini.
Film dibuka dengan prolog sepanjang 15 menit.
uhm...
uhm...
Buset, panjang amat! Baiklah, karena film sudah dimulai dan popcorn karamel sudah bikin perut adminah kenyang, jadi adminah berusaha fokus nontonnya. Kisahnya sendiri sebenarnya sederhana, Rangga (Adipati Dolken) adalah seorang remaja yang dibesarkan di sebuah rumah yatim piatu. Di lain pihak, ada dua kubu geng yang sedang berseteru. Namanya Rambo (nama ini kayaknya emang kedengaran sangar ya) dan Jerry. Suatu hari, adik Rambo, Jerink (Edo Borne) memperkosa salah satu penghuni panti bernama Lili (Widi Vierra). Karena marah, Rangga pun menantang Jerink berkelahi.
Dari mana adminah tahu bahwa Rangga punya kekuatan sulap? Jadi, di adegan di mana ia bertarung dengan Jerink, posisi Rangga berada di bawah, sementara Jerink di atas. Pisau sudah terhunus mendekati leher Rangga. Keadaan sangat kritis, saudara-saudara. Suara teriakan Rangga untuk memberi semangat kepada dirinya agar dapat menghalau pisau itu keras terdengar. Eng ing eng, tiba-tiba sudut kamera berganti dan Jerink pun terkapar dengan pisau menancap di dada. Tebakan adminah sih Rangga punya sulap (dibantu yaaaa, sim salabim jadi apa? plok...plok...plok).

Setelah itu, waktu berpindah ke tiga tahun kemudian di mana dunia sudah berubah. Rangga yang baru keluar dari penjara (karena mematahkan hati Kugy...gotcha! Dia dipenjara karena ya membunuh Jerink tadi) terpaksa bergabung dengan geng Jerry setelah mengetahui bahwa dirinya dikejar-kejar geng Rambo yang ingin membalas dendam. Terus, cerita perlahan-lahan bergulir dan mengajak penonton untuk melihat proses Rangga menjadi seorang martir.
Dan, rasanya gak afdol kalo gak ada sisipan romansa dua anak manusia (#ceileeee) di dalam film ini. And guess what, layaknya pepatah 'ada gula ada semut', ada Rangga berarti ada...? Yap, Cinta! Bahkan, sang sutradara pun memasukkan dentingan gitar 'Suara Hati Seorang Kekasih' (lupa lagunya gimana? Kami beri Anda kesempatan untuk mengudek-udek dulu tumpukan kaset lama Anda) ketika mereka bertemu.
Sayangnya, adminah sebagai seorang penonton merasa tertipuuuuuu...Kenapa? Jadi begini, kalau dilihat dari poster, kayaknya akan terjadi cinta segitiga antara Lili-Rangga-Cinta. Ternyata oh ternyata, Widi Vierra hanya muncul di 10 menit pertama dan kemudian menghilang tanpa jejak untuk kemudian kembali di 3 menit terakhir. Belum lagi dengan berbagai dialog berisi petuah-petuah agama yang cara penyampaiannya terasa sangat kaku sehingga berasa lagi nonton siaran dakwah di televisi.
Akting tiga pemain seniornya (Tio Pakusadewo, Ray Sahetapy, dan Henidar Amroe) tidak perlu diragukan lagi kehebatannya. Namun, Adipati sendiri sebagai pemeran utama terlihat tidak ada bedanya dengan sosok Keenan. Yah, mungkin lebih gahar sedikit deh secara dia bisa sulap. Nadine Alexandra juga biasa saja. Tidak bisa menimbulkan kedekatan batin yang gurih seperti Cinta-nya Dian Sastro. Satu-satunya hal yang bikin penonton langsung melek adalah bom di akhir cerita. Kenapa, buat apa, dan siapa, tonton saja film ini.