Jalanan: Film Dokumenter tentang Para Pengamen Ibukota

by dr. kawe


Film dokumenter identik dengan tema yang berat dan alur yang membosankan. Kalaupun ada yang menarik, umumnya hanya segelintir dan bisa dihitung dengan jari. Dunia perfilman Indonesia sendiri bisa dikatakan masih belum terlalu berpihak kepada dokumenter. Sedikit sekali film dokumenter yang dihasilkan dan juga sedikit sekali festival film yang mengangkat tema ini. Maka, ketika sebuah film dokumenter berhasil menyita banyak perhatian dari berbagai kalangan, patut diapresiasi.

Mengutip dari press release-nya, “Jalanan adalah sebuah film dokumenter yang menggunakan musik sebagai penghantar cerita, diangkat dari kisah nyata, dengan cengkok hiburan yang kuat serta alur cerita yang memikat—dipenuhi drama juga humor cerdas, kocak, terkadang nyerempet jorok—sehingga nyaris tak terasa bahwa ini adalah film dokumenter biasa (yang umumnya berat dan cenderung membosankan)”.

Tayang pertama kali pada Oktober 2013 di festival film terbesar di Asia, Busan International Film Festival di Korea dan memenangkan ‘Best Documentary’, film ini bertitik pusat pada lika-liku hidup tiga pengamen jalanan Jakarta; Boni, Ho, dan Titi. Rasa kesepian, duka, kematian, dorongan seksual, meriah perkawinan, kisruh perceraian, nelangsa masuk bui, gemuruh reformasi, gempuran globalisasi; serbaneka pahit-manis-asin-getir-garing keseharian mereka diungkap secara polos oleh sang sineas Daniel Ziv. Selama hampir lima tahun, pria asal Kanada ini ikut terjun ke gorong-gorong bawah jembatan, berlama-lama menongkrongi para tokoh utama, menyusup hingga ke pedesaan Jawa, tanah asal mereka; semata agar dapat menangkap berbagai momen di kehidupan Boni, Ho dan Titi.

Selain berhasil meraih penghargaan Best Documentary di Busan, Jalanan juga diputar di acara Ubud Writers and Readers Festival dan mendapat standing ovation yang lama dan sangat panjang (“Boni, Ho, Titi, kami cinta kamu!!!”). Histeria sedemikian rupa seolah mengamini bahwa sosok-sosok termarjinalkan tersebut memang pantas untuk disorot cahaya kamera yang lebih terang dan layak kisah hidupnya diangkat ke layar lebar plus disuguhi produksi film begitu wah bak film kolosal.

Dengan topik yang sedemikian relevan dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat—membedakannya dengan kredo dokumenter yang kerap terkesan terlalu eksklusif—Jalanan akhirnya diberi kehormatan untuk diputar di bioskop-bioskop umum/komersial.  Mulai 10 April 2014 film ini bakal tayang serentak di Cineplex 21 Jakarta, tepatnya XXI Plasa Senayan dan XXI Blok M Square, juga Blitz Megaplex Grand Indonesia.

Nah, seberapa layak JALANAN untuk ditonton? Biar fakta yang berbicara: di festival film terbesar di Asia sudah menang film dokumentari terbaik, di salah satu writers festival paling adiluhung sejagat telah menghipnotis ribuan penonton. Belum lagi di 15 test screening dan 3 pre-screening beberapa bulan silam, di penghujung film banyak penonton bersungut antara heran dan kagum, “Ini kisah nyata apa film drama sih?”

Artikel Terkait