Di Balik 98: Debut Lukman Sardi sebagai Sineas

by dr. kawe


Salah satu catatan kelam sejarah bangsa Indonesia adalah Tragedi Mei 1998. Tidak hanya menyinggung sisi politik, namun juga hingga sosial, ekonomi, hingga kemanusiaan. Beberapa film sendiri pernah mengangkat kisah ini dari sudut pandang individu, seperti May dan yang terbaru Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar. Kini, aktor ternama Lukman Sardi juga tertarik mengangkat tema yang bisa dikatakan cukup sensitif ini dalam debut penyutradaraannya Di Balik 98. Namun, film ini bukan untuk memaparkan pihak yang salah maupun benar karena kisah yang disorot lebih kepada individu-individu yang mau tidak mau bersinggungan dengan Tragedi Mei 1998. Pengambilan berbagai sudut pandang ini mungkin akan mengingatkan kita pada beberapa film Hollywood yang menggunakan pendekatan serupa, seperti misalnya Vantage Point. Ada Chelsea Islan dan Boy William yang mewakili sudut pandang mahasiswa, Donny Alamsyah dan Fauzi Baadila dari militer, Verdi Solaiman dan Alya Rohali dari sisi petugas rumah tangga istana, serta Teuku Rifnu Wikana yang mewakili rakyat kecil. 

Awalnya, kisah ini diberi judul Di Balik Pintu Istana. Namun, seiring dengan proses produksinya mengalami perubahan dan berganti menjadi Di Balik 98. Uniknya, materi promosi film ini sempat ditayangkan dalam film 7/24 yang juga dibintangi oleh Lukman Sardi dengan lawan main Dian Sastro. Bahkan, di film ini dikisahkan karakter Tio yang diperankan Sardi menyutradarai film ini dan siap tayang di bioskop. Sebuah viral marketing yang cukup unik dan agaknya baru pertama kali digunakan oleh rumah produksi lokal. 

Tidak mau setengah-setengah dalam penggarapan debutnya ini, Sardi bahkan sampai meminjam tank dan panser milik TNI serta mengajukan perizinan untuk melakukan syuting langsung di lokasi kejadian, yaitu gedung MPR/DPR. Untunglah semua proses syuting berjalan cukup lancar dan lokasi yang diharapkan pun mengabulkan keinginan Sardi. Namun, rupanya kesulitan belum berhenti sampai di sini karena Sardi disomasi kelompok yang menyebut diri mereka Aktivis 98 untuk merevisi film ini berdasarkan dari materi trailer yang telah beredar luas. Menanggapi hal ini, untunglah pria yang sudah kenyang makan asam-garam dunia perfilman Indonesia tidak gegabah. Ia hanya meminta para aktivis untuk menonton Di Balik 98 karena film ini dibuat dari sudut pandang kemanusiaan dan bukan dengan tujuan politis. 

Di Balik 98 siap tayang mulai 15 Januari 2015.

Artikel Terkait