Tidak salah memang ketika Teguh Karya didapuk sebagai tema besar untuk Festival Film Indonesia 2015. Kepiawaiannya telah melahirkan banyak karya yang tetap dikenang hingga saat ini. Tidak hanya itu, lewat tangan dinginnya, muncul nama-nama aktor dan aktris senior yang hingga saat ini masih kerap hadir di layar lebar dan bersanding dengan bintang muda. Sebut saja Slamet Rahardjo, Niniek L. Karim, Christine Hakim, Roy Marten, hingga mendiang Alex Komang dan Didi Petet.
Dalam rangkaian acara FFI 2015, panitia pun memutuskan membuat acara kunjungan sekaligus bincang-bincang santai dengan dua murid Teguh Karya, Slamet Rahardjo dan Niniek L. Karim, yang bertempat di Teater Populer, Tanah Abang, Jakarta. Sebagai senior yang diminta izinnya oleh Badan Perfilman Indonesia (BPI) untuk menggunakan nama dan foto Teguh Karya sebagai tema FFI kali ini, Slamet mewanti-wanti para panitia. “Teguh Karya itu sosok yang gila kerja. Jangan sampai panitia membuat malu nama Teguh Karya jika tidak menjalankan FFI dengan sungguh-sungguh.”
Bagi Niniek, Teguh Karya adalah sosok yang penuh kenangan. “Beliau itu bukan hanya besar bagi kami, murid-muridnya di Teater Populer ini, tetapi juga besar bagi Indonesia. Karena itu, saya tidak pernah lupa mendoakan beliau dalam setiap salat saya.”
Bagi Olga Lidya yang menyesal karena tidak dapat bertemu langsung dengan sosok sineas kenamaan ini, pemilihan Teguh Karya bukan tanpa alasan. “Jaman dulu itu buat film susah. Tidak seperti jaman sekarang yang semua ada. Beliau pun salah satu sineas yang pandai menyiasati segala kekurangan saat proses syuting. Misalnya lampu yang dibutuhkan tidak ada, maka beliau akan mencat seluruh dindingnya agar sesuai dengan latar yang dibutuhkan.” Pemilihan Teguh Karya sendiri bagi Olga merupakan sebuah kesempatan bagi para sineas dan praktisi perfilman muda untuk lebih mengenal dan belajar dari sosok beliau.
Salah satu etos kerja yang disukai Niniek adalah semua sama. “Bagi Teguh Karya, kerja film dan teater itu kolaboratif. Tidak ada pemain utama atau figuran karena semua adalah pemeran utama. Mulai dari pemain,sampai supir dan pembantu sama di mata beliau. Ditambahkan oleh Slamet yang kerap tampil dalam film-film besutan Teguh Karya, “Keseriusan kerja yang membuat transisi antara teater dan film itu berjalan dengan mulus. Begitu juga dengan anak didiknya yang dibekali berbagai ilmu dan metodologi akting serta dramaturgi hingga masih tetap laku di jaman modern ini.”
Tidak hanya perbincangan mengenai sosok Teguh Karya, diputar juga video wawancara dengan beliau yang diiringi dengan cuplikan film-filmnya. Selain itu, adapula video Gladi Actor, sebuah pelatihan akting yang diadakan di Teater Populer dan kerap diikuti oleh aktor dan aktris muda untuk lebih mengasah kemampuan mereka. “Sebagai yang lebih tua, saya ingin merangkul para aktor dan aktris muda yang ingin lebih memperdalam kemampuan mereka karena saya berkewajiban untuk menurunkan ilmu yang saya miliki kepada mereka,” ungkap Slamet menutup acara sore itu.