Mini Conference & Diskusi Film Talak 3: Laki-laki Harus Hati-hati Mengucap 'Talak'

by dhany0607


Berlokasi di MD Tower, Setiabudi, Jakarta, sebanyak 25 blogger dan jurnalis online yang tergabung dalam KOPI (Koalisi Online Pesona Indonesia) mendapat kesempatan untuk mengikuti mini conference dan diskusi film produksi MD yang akan segera rilis, Talak 3. Para blogger sendiri mendapat kesempatan untuk bertanya kepada tiga narasumber yang hadir, yaitu Vino G. Bastian yang memerankan Bagas, Karan Mahtani selaku produser Talak 3, dan Hanung Bramantyo yang merupakan salah satu sutradara Talak 3 selain Ismail Basbeth.

Dimulai pada pukul 13.00, dari pemutaran trailer pertama yang juga bisa dilihat di Youtube, diskusi mulai mengalir. Hanung dan Karan sendiri setuju bahwa film ini menjadi semacam nasihat kepada laki-laki agar berhati-hati saat mengucapkan kata ‘talak’ kepada istri. “Jadi, melalui film ini, saya ingin memberikan informasi kepada masyarakat yang bisa jadi belum tahu apa itu ‘talak tiga’ dan konsekuensinya. Agar tidak terjadi kesalahpahaman di masyarakat sendiri, Hanung mengungkapkan bahwa ini bukan film religi. “Memang Bella berhijab, tapi saya hanya ingin memperlihatkan bahwa kita hidup di Indonesia yang hijab sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Talak 3 sendiri adalah film drama komedi-romantis. Ini adalah kisah mengenai laki-laki yang berpisah dari pasangan dan memaksa untuk kembali lagi, sampai-sampai memainkan hukum agama,” ucap pria yang kembali berkolaborasi dengan Vino pasca Catatan Akhir Sekolah 10 tahun lalu.

Saat MD mendapat tawaran naskah ini dari Hanung, Karan mengakui langsung tertarik dengan konsep ceritanya. “Begitu terima naskah, saya langsung tertarik. Kisahnya banyak terjadi di masyarakat dan juga banyak orang yang tidak tahu mengenai apa itu ‘muhalil’. Film ini ingin memberitahu bahwa sebelum menjatuhkan kata ‘talak tiga’ harus mengerti benar hukumnya. Sekarang ini banyak pasangan yang menikah muda dan kerap emosional sehingga mudah mengucapkan kata ‘cerai’.” Vino sendiri menambahkan bahwa ini bukanlah film religi yang dikomedikan. “Kalau saya melihatnya, ini merupakan hal serius yang disampaikan dengan sederhana oleh sutradara agar lebih dapat diterima masyarakat.”

Mengenai pemilihan dua sutradara di Talak 3 sendiri, Hanung mengungkapkan bahwa ia ingin mengembalikan kepercayaan penonton kepada film Indonesia. “Saya perhatian dengan film nasional dan ingin jargon “tuan rumah di negeri sendiri” menjadi sebuah kenyataan. Untuk itu, saya harus membelah diri saya menjadi 10 orang agar dapat mengembalikan kepercayaan kepada penonton, melalui bukti nyata, bukan sekadar jargon. Itulah yang saya terapkan kepada Fajar Nugros dan sekarang Ismail. Kalau membuat film itu sama seperti halnya dengan membuat sepatu. Sebagus apapun kalau nggak sesuai dengan orang yang memakai, buat apa? Pada akhirnya pasti sepatu itu tidak akan dipergunakan.”

Ingin tahu lebih jauh perbincangan apa saja seputar Talak 3? Jelata bisa klik di sini.

Artikel Terkait