
Entah kenapa film Indonesia akhir-akhir ini seakan sedang ketagihan syuting di luar negeri. New York diangkat di tiga film, yaitu Bulan Terbelah di Langit Amerika, Sunshine Becomes You, dan yang akan rilis mendatang Terjebak Nostalgia. Lalu, ada Negeri Van Oranje yang menyoroti kehidupan mahasiswa S2 di Belanda. Screenplay Productions yang kemarin sukses dengan Magic Hour pun tidak mau ketinggalan. Kali ini, ibukota Inggris yang menjadi lokasi dan digunakan di film terbaru mereka, London Love Story.
Caramel bekerja di London sebagai pelayan toko pizza. Sehari-hari ia tinggal di sebuah apartemen dan tidak pernah luput mendapat telepon dari ibunya, meminta Caramel membaca surat-surat yang dikirimkan ibunya ke London dalam sebuah kotak. Caramel tentu menolak dan memilih membuang surat yang mengingatkannya pada sebuah kenangan menyakitkan tentang cinta pertamanya tersebut. Namun, ketika kenangan tersebut mewujud di hadapan Caramel, beranikah gadis ini mengkonfrontasi langsung atau malah memilih untuk kabur?
Sadar bahwa Michelle Ziudith dan Dimas Anggara berhasil menarik banyak penonton via Magic Hour, maka tidak aneh jika formula yang sama diulang. Kali ini, lokasi yang dipilih sendiri tidak main-main. London. Tentunya kota ini menjanjikan shoot-shoot cantik yang bisa memperindah jalinan cerita London Love Story. Sayangnya, bisa dikatakan bahwa London dalam kisah ini tidak memiliki peranan besar. Bandingkan dengan Negeri Van Oranje ataupun Bulan Terbelah. London di sini seakan hanya tempelan yang bisa diganti dengan negara lain dan tidak terlalu memegang peran penting. Jangan harapkan ada penjelasan tempat-tempat wisata yang bisa memperkaya rencana tur masa depan Jelata, karena kita hanya diajak melihat Michelle Ziudith, Adila Fitri, dan Dion Wiyoko berkeliling London dan bersenang-senang. Dan yang cukup disayangkan adalah Big Ben absen. Ya, lambang ikonik kota London tersebut bahkan tidak muncul sama sekali.

Meskipun Asep Kusdinar selaku sutradara mampu memberikan shoot-shoot cantik London, namun dari segi cerita film ini jauh dari yang diharapkan. Beberapa adegan diperlakukan secara berlebihan, tapi terasa nanggung di saat yang bersamaan. Misalnya, luapan kemarahan Dave (Dimas Anggara) yang baru mendapat kabar bahwa Caramel ada di London, namun gagal bertemu. Emosi ini diperlihatkan dengan Dave memecahkan berbagai botol yang ada ke dinding, namun terasa sekali bahwa tim produksi berhati-hati untuk tidak merusak properti selain botol karena Dave memilih memecahkan botol di atas televisi, alih-alih menghantamnya langsung ke layar. Dan, terus terang, dialog-dialognya terasa cheesy yang mungkin memang hanya bisa diucapkan oleh remaja yang baru pertama kali pacaran, seperti yang dikatakan oleh Caramel pada Dave di tengah-tengah cerita. Namun, untuk para penonton dewasa, saya jamin pasti akan memutar bola mata atau merosot di kursi karena tidak bisa membayangkan bahwa kalimat tersebut akan terlontar dari mulut mereka. Beberapa adegan terasa sekali dilakukan secara colongan alias tanpa izin karena tidak terasa natural, seperti beberapa orang menatap dengan aneh, ada yang memotret, hingga segerombolan orang yang menunjuk-nunjuk.
Tidak hanya itu, akting Michelle dan Dimas pun tidak mampu membuat naskah yang lemah tadi menjadi lebih baik untuk penontonnya. Michelle terlihat berlebihan, sementara Dimas justru terasa datar tanpa emosi. Jauh dari performa akting Dimas saat bermain di Radio Galau yang lebih enak dilihat. Bahkan, untuk chemistry-nya pun terasa nihil.
Secara keseluruhan, ini adalah film layar lebar dengan rasa dan treatment layaknya FTV yang memudahkan ending karena terpotong durasi. Rasanya London Love Story hanya dapat dinikmati oleh fans berat Michelle Ziudith dan Dimas Anggara yang sudah mengikuti karir mereka sejak menjadi bintang sinetron atau FTV. Namun, untuk menggaet penikmat film, sayangnya tidak akan berhasil. Meskipun begitu, dengan senjata dua pemain ini, perkiraan 500.000 penonton rasanya bisa terlampaui.
