Dead Mine: Film Indonesia Bercitarasa Internasional

by Mr. P


Tancepers, setelah kehadiran The Raid yang membuat kita ternganga dengan berbagai adegan aksinya yang bloody dan fantastis, belum ada lagi film sejenis yang mampu mengguncang kita lahir dan batin. Ketika kemudian sebuah trailer dari film berjudul Dead Mine buatan Infinite Studios (yang pernah memproduksi Rumah Dara dan Menggapai Impian) bekerja sama dengan HBO Asia mengemuka rasanya film ini bisa menjadi angin segar. Apalagi, para insan perfilman yang terlibat juga merupakan perpaduan antara Asia dengan Barat, sebut saja Miki Mizuno, Sam Hazeldine, Les Loveday, Carmen Soo, Ario Bayu, Joe Taslim, Mike Lewis, dan Jaitov Tigor. Hal ini tentu saja bikin publik penasaran. 

Ceritanya sendiri berfokus pada sekelompok peneliti yang mencari sebuah tambang di daerah Sulawesi, tepatnya di Pulau UnaUna. Kabarnya, di tambang ini terdapat emas yang dikumpulkan seorang jenderal Jepang bernama Yamashita dari negara-negara di Asia Tenggara. Untuk menjaga keselamatan mereka, maka disewalah empat tentara bayaran. Di saat tiba di lokasi, mereka semua diserang oleh berbagai tembakan yang memaksa mereka masuk ke dalam tambang. Dikarenakan ledakan dari granat yang dilempar para penyerang, mulut gua pun tertutup. Kini, mereka semua harus masuk lebih dalam guna menemukan jalan keluar. Akan tetapi, tentu saja perjalanan tersebut tidak mudah karena sesuatu menunggu mereka di dalam tambang. 

Dari premis dan trailer, sebenarnya film perdana HBO Asia ini cukup menjanjikan. Apalagi dengan hadirnya aktor dan aktris berkelas internasional. Namun, apa mau dikata bahwa film ini meninggalkan plot hole yang begitu besar bahkan tidak dapat ditambal dengan akting para pemainnya. Dimulai dengan sebuah tanda tanya kecil kala granat dilempar dan mendarat tepat di sebelah kaki Ario (Mike Lewis). Ajaibnya, hanya kaki Mike yang terluka sementara tubuhnya utuh. Tidak hanya itu, berbagai pertanyaan semakin bertambah seiring dengan semakin dalamnya kelompok ini masuk ke dalam tambang: kenapa tambang yang sudah terbengkalai lebih dari 70 tahun masih memiliki lampu-lampu yang menyala? Kenapa suasana di dalam tambang yang notabene seharusnya gelap total malah terang benderang seakan ada sinar matahari masuk? Hal ini belum lagi diperlemah dengan set tambang yang terlihat sangat mirip dengan lorong rumah susun di film The Raid.

Untuk akting para pemainnya, bisa dibilang lumayan meski tidak termasuk ke dalam kategori baik. Sayangnya, hanya beberapa karakter saja yang diberikan masa lalu sehingga penonton bisa sedikit bersimpati. Sisanya terasa sekadar tokoh tempelan, bahkan ada satu tokoh yang dijamin akan membuat kita bingung perihal keberadaannya di film ini. 

Dari segi setting sendiri memang cukup bikin takjub mengingat syuting dilakukan di sebuah studio di Batam yang diklaim sebagai the biggest studio in South East Asia. Terlihat besar dan meyakinkan dengan hutan, bukit berpasir, dan tambang matinya. Begitu juga dengan tingkat bloody-nya yang cukup bikin mengernyit karena terasa real dibandingkan dengan film-film sejenis yang menggunakan spesial efek murahan. Overall, film ini bisa menjadi pilihan untuk Anda yang bosan dengan film-film Indonesia, tapi bukan pilihan pertama kalau banyak film-film bagus di akhir tahun. 

Artikel Terkait