Bertempat di Epicentrum XXI Kuningan, film horor garapan Jose Poernomo ini melangsungkan press screening-nya. Mengangkat legenda urban Tol Cipularang, KM 97 ini dibintangi oleh Feby Febiola, Restu Sinaga, August Melasz, Iang Darmawan, dan bintang cilik Zidane. Acara dimulai dengan menyaksikan bersama-sama KM 97 pada pukul 16.00. Selain dihadiri oleh rekan-rekan media, acara ini juga dihadiri oleh beberapa pemenang kuis, termasuk dari Layar-Tancep. Uniknya, para penonton sempat dibuat merinding ketika di sela-sela keseriusan mereka menyaksikan film tercium bau kemenyan yang rupanya dibakar oleh panitia untuk menambah keseraman suasana.
Kisahnya sendiri diambil dari cerita mistis yang memang pekat menghiasi Tol Cipularang, terutama di sekitar Km 97. Alkisah, Anton (Sinaga), istrinya Lidya (Febiola), dan anak semata wayang mereka Bintang (Zidane) bertolak dari Italia ke Indonesia, tepatnya Lembang. Hal ini disebabkan ibu Anton meninggal dunia, namun Anton justru tidak sempat menghadiri pemakamannya. Untuk menebus rasa bersalahnya, Anton memutuskan mengunjungi sang ayah. Di tengah jalan, tiba-tiba ban mobil Anton kempes sehingga ia terpaksa meminggirkan kendaraannya. Bintang pun memanfaatkan kesempatan ini untuk buang air kecil. Sejak itu, perangai Bintang berubah. Ia jadi pendiam, kasar, bahkan kerap kali berkeringat dingin di saat tidur. Apa yang terjadi?
Selesai menyaksikan film berdurasi 81 menit tersebut, para media digiring ke Alegro untuk mengadakan jumpa pers. Acara yang dihadiri oleh para pemeran KM 97, Jose Poernomo, dan Benny selaku produser ini berjalan cukup lancar. "Kami ingin membuat horor yang agak berbeda dari horor yang telah ada karena di sini kami tidak ada adegan seksnya," ungkap sang produser yang segera disambut oleh tawa para media. Mengenai hal serupa, Feby juga mengungkapkan kesetujuannya, "Sewaktu pertama kali baca naskah film ini, saya langsung nanya 'ada adegan buka-bukaannya nggak? kalau ada, saya nggak mau'. Dan ternyata, film ini emang beda dari horor lain."
Mengenai filmnya sendiri, Jose Poernomo selaku sutradara bisa dikata berhasil dalam menciptakan suasana tegang dengan sinematografi yang menarik, suasana yang muram, backsound yang cukup menggedor jantung, dan juga penampakan si bocah Km 97 yang bisa dibilang menyeramkan. Namun sayangnya, beberapa faktor tersebut malah tidak ditunjang oleh naskahnya yang terasa lemah hingga berbagai adegan klise yang rasanya sudah sering kita saksikan dalam film-film horor zaman dahulu di mana tokoh setannya kerap kalah oleh ayat-ayat suci. Tapi yang pasti, sajian horor tanpa adanya adegan seks ini bisa jadi merupakan pertanda bahwa perfilman Indonesia sudah bosan dengan hal-hal seperti itu.