
Entah kutukan apa yang menimpa proyek adaptasi Justice League. Setelah sempat memanas dengan direkrutnya Will Beall (Gangster Squad) sebagai penulis naskah, pencarian sutradara yang melibatkan nama Ben Affleck dan The Wachowski, serta keberanian WB menetapkan 2015 sebagai tahun rilis; proyek ini harus kembali merayap ke peti es karena dirundung masalah.
Naskah Bermasalah?
Indikasi masalah datang pada akhir Januari 2013 lalu. Dalam sebuah artikel mengenai Presiden Warner Bros., Jeff Rubinov, Variety menyelipkan fakta mengenai tahun perilisan Justice League. Ternyata Warner Bros. tidak seberani yang kita duga, karena 2015 bukanlah tahun pasti untuk merilis film liga superhero asal DC Comics ini. Kepastian perilisan Justice League ternyata harus menunggu penampilan 'kakek' dari para superhero, Superman, di layar lebar pada bulan Juni nanti melalui Man of Steel. Jika ternyata Man of Steel sukses secara komersial maupun kualitas, proyek Justice League akan terus berjalan.
Spekulasi mengenai adanya masalah akhirnya terjawab pada akhir pekan lalu, setelah banyak media memberitakan bahwa Warner Bros. 'membuang' naskah yang sudah ditulis Will Beall. Naskah itu dideskripsikan sebagai "sangat buruk" dan dikabarkan menjadi penyebab tidak adanya orang yang berminat untuk menjadi sutradara film ini. Beberapa nama memang pernah disebut akan menyutradarai film ini, seperti Ben Affleck (yang ternyata juga didekati untuk peran Batman) dan juga Wachowski bersaudara. Namun dari kesemuanya, tidak ada yang berminat untuk memegang proyek ini.

Naskah hasil rekaan Will Beall dikabarkan akan membawa karakter Darkseid sebagai villain dalam cerita yang melibatkan "ancaman kosmis yang dahsyat", dengan Batman, Superman, Wonder Woman, The Flash, dan Green Lantern menjadi karakter-karakter utama di film tersebut. Namun dengan ditolaknya naskah Beall, seorang penulis naskah baru harus ditemukan dan cerita baru harus ditulis. Dan 2015 pun tampaknya hanya angan belaka bagi Justice League untuk tayang di layar lebar. Dan Justice League pun kembali kepada status mati suri seperti pasca 2008, setelah George Miller berusaha mengangkat Justice League ke layar lebar, namun gagal.
Mark Millar
Di luar masalah internal di atas, datanglah komentar dari Mark Millar, penulis kisah Kick Ass dan Wanted, yang menyebutkan bahwa film Justice League adalah cara yang bagus untuk kehilangan uang sebanyak USD 200 juta. Beberapa poin yang Millar sampaikan memang terasa dipaksakan, namun Millar memiliki argumennya sendiri. Salah satu poin utama yang disampaikan Millar adalah mengenai usia karakter-karakter di Justice League. Millar merasa bahwa semua karakter tersebut sudah melewati jamannya alias terlalu tua. Namun saya sendiri tidak melihat itu menjadi sebuah masalah. Batman tetap bertahan dalam ketuaan usianya. Trilogi The Dark Knight dan Marvel Cinematic Universe adalah bukti bagaimana karakter yang berumur puluhan tahun mampu bertahan di budaya kontemporer, karena mereka beradaptasi!
Namun Mark Millar membuat pernyataan yang lebih spesifik lagi mengenai karakter-karakter di Justice League. Seperti Green Lantern, yang dia rasa tidak mampu menghadirkan emosi yang dibutuhkan saat melawan musuhnya karena kemampuannya dalam menciptakan plasma yang mampu bermanifestasi menjadi apapun dan bisa dilancarkan dari jarak berapapun mengakibatkan karakter ini tidak menciptakan sebuah 'kedekatan' kepada penontonnya akan pertarungan tersebut. Lebih jauh, untuk tokoh Aquaman, Millar berujar, di komik Aquaman kita bisa mengerti apa yang Aquaman katakan di dalam air dengan bantuan callout/balon dialog. Bagaimana dengan di film? Bagaimana mungkin kita bisa memahami apa yang Aquaman katakan saat berada di dalam air?

Setelah berpanjang lebar, akhirnya Millar menyatakan maksud utamanya: Masing-masing karakter di film Justice League memiliki masalah logistiknya sendiri untuk ditangani. Dan jika mereka disatukan bersama dalam sebuah film, itu adalah sebuah cara yang hebat untuk kehilangan USD 200 juta.
Nah, bagian ini sangat bisa dipahami. Ide mengenai Justice League sebagai film pembuka bagi rangkaian film superhero solo milik DC Comics sedikit banyak terasa absurd. Jika kita bandingkan dengan The Avengers milik Marvel, apa yang menjadikannya berhasil adalah adanya film-film solo para superhero tersebut sebelum mereka bersatu dalam The Avengers. Masalah pengenalan karakter, latar belakang cerita, serta koneksi antara satu karakter dengan karakter lain sudah disiapkan dalam masing-masing film seperti Iron Man, Iron Man 2, The Incredible Hulk, Captain America: The First Avenger, dan Thor. Sehingga masalah 'logistik' yang Millar sebut di atas, tidak terjadi pada The Avengers.
Satu fakta menarik adalah, sekitar 8 bulan lalu, Millar dalam forumnya menyatakan bahwa dia telah mendapatkan bocoran naskah Justice League dari temannya. Dan temannya tersebut menyatakan bahwa naskah tersebut sangatlah bagus. Mungkin Millar kini bisa menghajar temannya tersebut, terlebih setelah WB menolak naskah Will Beall yang dianggap sangat buruk.

Take It Slow
Kita pahami bahwa WB dan DC Comics sangat menginginkan Justice League untuk diadaptasi ke layar lebar. Terlebih setelah kesuksesan Disney dan Marvel dengan The Avengers pada tahun lalu. Namun WB dan DC Comics tidak bisa menjiplak kesuksesan Disney dan Marvel langsung dari film The Avengers. Mereka harus melihat semuanya dari titik awal Marvel bekerja, yaitu film-film pendahulu yang menciptakan fondasi kuat bagi The Avengers. Man of Steel yang akan tayang pada Juni nanti bisa dijadikan salah satunya, lalu disusul dengan karakter-karakter lain seperti Batman dalam sebuah reboot yang tidak dapat dihindari, Wonder Woman, The Flash dalam kostum yang diperbaharui, dan Green Lantern dalam kisah yang tidak sekonyol film yang disutradarai Martin Campbell. Apa yang WB dan DC Comics perlu pahami juga, adalah para fans yang juga sangat menginginkan adaptasi film Justice League ini. Namun para fans lebih baik menunggu lama untuk mendapatkan sebuah film yang berkualitas dibandingkan sebuah film yang akan hadir dalam waktu dekat namun memiliki kualitas buruk.