In Memoriam: Roger Ebert (1942-2013)

by abn


In Memoriam: Roger Ebert (1942-2013)

Kritikus film berpengaruh Roger Ebert meninggal dunia kemarin sore waktu Amerika Serikat dalam usia 70 tahun. Ebert meninggal akibat komplikasi kanker yang dideritanya.

Roger Joseph Ebert lahir di Urbana, Illinois pada 18 Juni 1942. Mungkin tidak ada penikmat film dan pendalam kritik film yang tidak tahu namanya. Ebert telah membawa ulasan dan kritikan film ke teritori baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Dalam menulis kritikan, terlihat bahwa Ebert menulisnya dengan passion yang mendalam, penuh pemikiran, terasa personal, namun di sisi lain enak untuk dibaca dan bisa dengan mudah kita pahami. Namun salah satu kualitas yang paling menonjol dari dirinya adalah kecintaannya terhadap film, harapannya, dan juga sifat optimisnya, bahwa film adalah sebuah medium yang tidak akan pernah mati.

Dalam dunia kritik film, Ebert bisa dibilang merupakan pionir dalam berbagai hal. Ia adalah kritikus film pertama yang memenangkan Pulitzer Prize di tahun 1975. Namun salah satu hal yang paling diingat dari dirinya adallah kolaborasinya dengan Gene Siskel yang telah membentuk dunia kritik film menjadi seperti yang ada sekarang ini. Namun tentunya acara Siskel and Ebert and The Movies lah yang menunjukkan siapa diri mereka dan memperkenalkan ulang film sebagai sebuah medium yang lebih dari sekedar hiburan semata. Bagi banyak kalangan, Ebert dan Siskel merupakan dua orang penjaga gerbang menuju dunia film yang akan menunjukkan mana film yang baik dan buruk. Dunia kritik film yang sebelumnya terasa sangat serius dan akademis dibuat lebih santai dan bisa dinikmati walau tanpa menghilangkan sifat substansialnya. Gene Siskel meninggal pada tahun 1999 dan Ebert pun seperti kehilangan pasangan hidupnya. Namun ini tidak menghentikan Ebert dari memberikan ulasan dan kritikan yang tajam.

Pasca kesuksesan di televisi, dan dengan tumbuh kembangnya dunia maya, Ebert mulai merangkul media baru ini dengan mendigitalisasi arsip ulasannya. Iapun mulai membuat blog sendiri yang memungkinkannya untuk berbicara lebih banyak mengenai film dan berinteraksi lebih banyak dengan penggemar film di manapun. Laman ulasannya di Chicago Sun-Times online menjadi laman patokan banyak orang sebelum penikmat film memutuskan untuk menyaksikan sebuah film. Kata-kata Ebert bagaikan kata-kata seorang pemimpin yang dipatuhi oleh pengikutnya.

Pada tahun 2002, Ebert didiagnosa mengidap kanker tiroid. Penyakit ini telah membuatnya kehilangan rahang dan juga kemampuannya dalam berbicara. Namun ini tampak seperti flu biasa bagi Ebert. Dia terus beraktifitas dan vokal dalam kebisuannya. Dia memanfaatkan segala media yang bisa ia gunakan untuk menyuarakan kritikan dan juga pemikirannya. Diapun tetap menyelenggarakan Eberfest, sebuah festival film yang menayangkan film-film yang ia sukai, agar film tersebut juga dapat (kembali) dinikmati oleh banyak orang. Dalam sakit dan bisunya, Ebert justru terlihat lebih hidup dan sorot matanya seolah menyatakan bahwa ia menolak untuk menyerah pada kondisinya; seperti yang ditunjukkannya pada sebuah sesi photoshoot di majalah Esquire (foto bawah).

Namun pada akhirnya ia harus menyerah juga. Pada tanggal 2 April lalu, Ebert menyatakan bahwa ia akan mengambil 'cuti' akibat kanker yang menyerang pinggulnya. Ebert dijadwalkan akan mendapatkan perawatan radiasi untuk kanker ini. Pada saat menyatakan hal tersebut, Ebert menyatakannya dengan sifat khasnya: penuh keoptimisan dan keyakinan. Namun Tuhan berkata lain. Pada 4 April kemarin, Ebert meninggal dunia akibat komplikasi kankernya ini.

Roger Ebert meninggalkan seorang istri, Chaz Hammelsmith Ebert; puluhan judul buku, ribuan ulasan kritik film, dan jutaan penggemar. Namun peninggalannya yang paling penting adalah, bagaimana Ebert meredefinisi dunia kritik film sehingga menjadi sesuatu yang kita kenal seperti sekarang ini. Good bye Mr. Ebert.

Artikel Terkait